BeritaArrow iconReksa DanaArrow iconArtikel

MAMI : Prospek Positif, Ini Cara Aman dan Cuan Memilih Obligasi Korporasi

Abdul Malik29 Maret 2023
Tags:
MAMI : Prospek Positif, Ini Cara Aman dan Cuan Memilih Obligasi Korporasi
Ilustrasi investor sedang memantau pergerakan pasar obligasi yang dibayangi beragam sentimen, salah satunya memantau yield Sukuk Ritel SR017 dibandingkan SBN Ritel seri lainnya di pasar. (Shutterstock)

Penerbitan obligasi korporasi masih didominasi oleh sektor keuangan, seperti multifinance, bank, dan institusi keuangan non-bank

Bareksa.com - Obligasi atau surat utang baik yang diterbitkan pemerintah maupun korporasi jadi salah satu instrumen investasi yang digemari investor. Bagaimana prospek obligasi di Indonesia. Berikut penjelasan yang disampaikan dalam Ulasan Pasar - Seeking Alpha Edisi Maret 2023 oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia.

Fixed Income Analyst PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Doni Kuswantoro menyampaikan potensi pasar obligasi korporasi Indonesia akan tumbuh lebih baik menjelang puncak kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia. Setelah puncak suku bunga tercapai, suku bunga komersial termasuk imbal hasil obligasi negara Indonesia diperkirakan akan menurun sehingga dapat mendorong penerbitan obligasi korporasi.

"Kebutuhan untuk ekspansi dan refinancing – di tengah terkendalinya tingkat inflasi dan membaiknya daya beli masyarakat - akan menarik minat perusahaan menerbitkan obligasi. Apabila hal ini terealisasi, kami yakin investasi di obligasi korporasi akan menghasilkan kinerja yang menarik seiring potensi penurunan suku bunga ke depannya," kata Doni yang disampaikan dalam Ulasan Pasar (28/3/2023).

Lalu, apa faktor utama yang menjadi pertimbangan dalam memilih obligasi korporasi, terutama dalam menghasilkan alpha?

Doni Kuswantoro menjelaskan tingkat imbal hasil obligasi korporasi yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan Surat Utang Negara/SUN membuatnya menjadi salah satu alternatif investasi pada kelas aset obligasi.

"Namun risiko kredit dan risiko likuiditasnya yang juga relatif lebih tinggi dibandingkan obligasi pemerintah tetap harus dicermati," lanjutnya.

Untuk itu, Doni menjelaskan prospek industri/sektor dan kualitas kredit yang direpresentasikan dengan peringkat kredit (credit rating) menjadi pertimbangan awal dalam memilih obligasi korporasi guna memitigasi risiko kredit dari suatu penerbit obligasi. Sementara untuk meminimalisasi risiko likuiditas, investor dapat memilih penerbit obligasi yang cukup aktif di pasar surat utang (frequent issuer).

"Sebagai gambaran - berdasarkan data Pefindo, obligasi korporasi dengan peringkat AAA masih mendominasi lebih dari 40% outstanding pasar obligasi korporasi Indonesia," Jelas Doni.

Promo Terbaru di Bareksa

​Investasi di Reksadana Sekarang, Klik di Sini

Dalam konteks obligasi korporasi apa yang membedakan antara obligasi dengan peringkat investment grade dan non-investment grade?

Doni Kuswantoro menjelaskan hampir seluruh obligasi korporasi yang diperingkat di awal penerbitan memiliki peringkat layak investasi (investment-grade rating) yang ditunjukkan dengan credit rating BBB- atau di atasnya. Apabila, lembaga pemeringkat kredit memberikan rating di bawah investment grade, biasanya perusahaan tidak jadi menerbitkan obligasinya.

Dia mengatakan pada perjalanannya, peringkat bisa turun menjadi non-investment grade (BB+ atau di bawahnya) apabila lembaga pemeringkat melihat penurunan fundamental kredit dari penerbit obligasi atau terjadi credit event yang dapat mempengaruhi kualitas kredit obligasi tersebut.

​Investasi di Reksadana Sekarang, Klik di Sini

Baru-baru ini mencuat kabar penundaan pembayaran salah satu perusahaan di sektor infrastruktur, apakah kondisi tersebut merupakan risiko unik yang melekat pada sebuah perusahaan atau hal ini sebetulnya menggambarkan risiko pasar yang perlu dicermati di sektor tersebut?

Doni Kuswantoro menyampaikan penurunan kegiatan ekonomi akibat dampak pandemi Covid-19 dalam dua setengah tahun terakhir berimbas ke berbagai sektor, termasuk sektor infrastruktur. Pembatasan mobilitas masyarakat kala itu sampai menghentikan proyek infrastruktur untuk beberapa saat, sehingga menyulitkan perusahaan konstruksi untuk menyelesaikan proyeknya tepat waktu.

Menurut dia, di masa pandemi, bank-bank komersial juga selektif mengucurkan kredit sehingga perusahaan sulit untuk memenuhi kebutuhan modal kerja dan tidak berekspansi. Secara umum, struktur permodalan BUMN/Badan Usaha Milik Negara di sektor infrastruktur memang memiliki leverage yang lebih tinggi di banding sektor lain, sehingga hal ini meningkatkan risiko sektoral terutama di saat kenaikan suku bunga komersial dan melemahnya kondisi makroekonomi seperti pada era pandemi Covid-19.

"Kami berharap termin pembayaran yang lebih wajar (berdasarkan progres pengerjaan dan atau pembayaran teratur secara periodik) dari pertumbuhan kontrak baru yang didapat para BUMN konstruksi, serta potensi penurunan suku bunga akan memperbaiki kinerja keuangan perusahaan sektor infrastruktur," kata Doni.

Dia menjelaskan faktor positif lainnya adalah tidak seperti beberapa tahun lalu, saat ini BUMN konstruksi menghindari pengerjaan turnkey project (yang pembayarannya dilakukan hanya setelah proyek selesai) sehingga dapat mengurangi beban neraca keuangan ke depannya.

Lalu, sektor pilihan yang dijagokan untuk tahun ini?

Doni Kuswantoro mengatakan penerbitan obligasi korporasi masih didominasi oleh sektor keuangan, seperti multifinance, bank, dan institusi keuangan non-bank. Marjin laba yang masih tinggi serta kondisi ekonomi yang menunjukkan pemulihan yang cukup cepat dan ke arah yang lebih baik, akan mendorong sektor ini terus tumbuh.

Dia menjelaskan telekomunikasi, baik penyedia jasa (telco provider) maupun perusahaan menara telekomunikasi juga merupakan frequent issuer di pasar obligasi korporasi Indonesia. "Rekam jejak yang baik dari perusahaan-perusahaan pada sektor ini membuatnya dapat menjadi pilihan investasi di sektor riil non-keuangan," imbuhnya.

​Investasi di Reksadana Sekarang, Klik di Sini​

(Martina Priyanti/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Capital Fixed Income Fund

1.777,28

Up0,58%
Up3,36%
Up0,03%
Up6,76%
Up17,17%
Up44,58%

Trimegah Dana Tetap Syariah

1.327,79

Up1,26%
Up4,33%
Up0,03%
Up5,81%
Up19,11%
-

STAR Stable Income Fund

1.927,79

Up0,51%
Up2,97%
Up0,02%
Up6,03%
Up29,03%
Up64,33%

I-Hajj Syariah Fund

4.827,18

Up0,55%
Up3,07%
Up0,03%
Up6,17%
Up21,88%
Up40,52%

Reksa Dana Syariah Syailendra OVO Bareksa Tunai Likuid

1.141,93

Up0,56%
Up2,86%
Up0,02%
Up5,03%
--

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua