MAMI : Begini Prospek Pasar Obligasi dan Tips Optimalkan Cuan Investasi

Strategi investasi akan memperhatikan beberapa aspek seperti duration management, security selection, dan yield enhancement
Abdul Malik • 29 Nov 2022
cover

Ezra Nazula, Director & Chief Investment Officer, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia. (Bareksa/AM)

Bareksa.com - Pasar obligasi dunia kembali bergejolak pada awal November, seiring meningkatnya imbal hasil Obligasi Pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) sampai ke level 4,17%. Bagaimana dengan potensi pasar obligasi domestik? 

Ezra Nazula, Director & Chief Investment Officer, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) memberikan ulasan pasar obligasi dalam Seeking Alpha Edisi November 2022 berikut ini.

Ia meyampaikan komentar Fed Chair Jerome Powell pada rapat FOMC (Federal Open Market Committee atau dalam bahasa Indonesia artinya dewan kebijakan Federal Reserve AS) di awal November membuat volatilitas pasar finansial dunia kembali meningkat. Sesuai ekspektasi, The Fed masih menerapkan dan menyatakan akan melanjutkan kebijakan restriktif untuk memerangi inflasi. 

Hanya yang menjadi pembeda, Ezra melanjutkan The Fed menyatakan peningkatan suku bunga dapat berjalan lebih gradual (memberikan kesempatan pada ekonomi untuk merespons kenaikan sebelumnya) namun puncak suku bunga dapat lebih tinggi dari ekspektasi sebelumnya.

"Sisi positifnya, kenaikan suku bunga secara gradual memberikan ruang bagi ekonomi untuk melakukan penyesuaian secara bertahap dan kebijakan moneter bisa menjadi lebih fleksibel. Namun sisi negatifnya, terminal rate atau puncak kenaikan suku bunga menjadi lebih tinggi," ucap Ezra dalam keterangan tertulisnya, Senin (28/11/2022). 

Saat ini, kata Ezra, pasar memperkirakan terminal rate meningkat menjadi 5 – 5,1% pada Mei 2023 dari perkiraan sebelumnya 4,8% – 4,9% di bulan Maret 2023. "Meski demikian, kami memperkirakan The Fed dapat saja berubah haluan menjadi lebih akomodatif, terutama jika data-data ekonomi mulai beralih ke arah pelemahan dan inflasi turun secara konsisten," ujarnya.

Prospek Inflasi AS

Terlihat perkembangan inflasi AS sangat krusial bagi arah kebijakan moneter yang diambil oleh The Fed. Bagaimana ekspektasi inflasi Amerika Serikat ke depannya?

Ezra mengatakan laju inflasi AS diperkirakan akan mengalami penurunan, meskipun masih lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata historis selama ini. Dari sisi permintaan, dampak suku bunga tinggi dan likuiditas yang semakin ketat berpotensi menekan laju konsumsi masyarakat. 

Sementara sisi pasokan – salah satu faktor utama yang membuat inflasi melonjak – terus menunjukkan perbaikan seiring dengan perlambatan ekonomi dunia. Data terkini seperti volume bongkar muat dan biaya pengapalan kontainer terus menurun dan kelangkaan barang di sektor ritel sudah membaik. Kondisi ini diharapkan dapat menyebabkan ekspektasi turunnya tekanan inflasi.

Ia menyampaikan hal ini sudah mulai terlihat dari data inflasi umum Oktober yang turun ke level 7,7% YoY dibandingkan 8,2% YoY sebulan sebelumnya. Inflasi inti, yang tidak mengikutsertakan komponen volatil seperti pangan dan energi, juga turun ke 6,3% YoY dari 6,6% sebulan sebelumnya. Data-data terakhir ini disambut baik pasar obligasi dunia dan domestik. 

Ezra melanjutkan imbal hasil US Treasury turun ke bawah 4%, dan arus dana asing mulai masuk ke pasar obligasi domestik, membawa penurunan imbal hasil yang cukup signifikan. Walaupun kesinambungannya ke depan masih perlu dicermati, setidaknya terlihat pengetatan moneter dan upaya pengendalian inflasi yang dilakukan The Fed mulai membuahkan hasil.

Jika Bank Sentral AS mengambil kebijakan moneter yang restriktif, bagaimana dengan Bank Indonesia? Ezra mengatakan sejalan dengan laju pengetatan The Fed, BI turut melakukan penyesuaian suku bunga untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan menopang rupiah. Pengendalian inflasi yang lebih baik terlihat dari berubahnya target normalisasi inflasi inti 3±1% yang dipercepat dari paruh kedua ke paruh pertama 2023.

Menurut dia, meskipun BI menyatakan prioritasnya untuk menjaga stabilitas nilai tukar, namun momentum pertumbuhan ekonomi masih tetap diperhatikan. Proyeksi pertumbuhan PDB 2023 di kisaran 4,6% – 5,3%, lebih tinggi dari proyeksi pertumbuhan ekonomi global maupun negara berkembang lainnya. 

"Inflasi yang relatif terkendali dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang belum beroperasi di atas potensinya membuat Bank Indonesia tidak perlu serestriktif negara-negara lain," ucap Ezra.

Waktu Tepat Mulai Investasi di Pasar Obligasi

Jika merujuk pada hipotesis pasar efisien di mana harga yang terbentuk merupakan cerminan dari informasi yang ada. Apakah saat ini adalah waktu yang tepat untuk mulai berinvestasi di pasar obligasi?

Ezra mengatakan komunikasi yang terbuka dari bank sentral terkait kebijakan moneter yang akan ditempuh membuat pergerakan aset finansial seperti imbal hasil obligasi menjadi lebih selaras dengan kondisi yang ada. Walaupun seberapa besar tepatnya informasi tersebut sudah tercermin pada harga, sulit diukur karena ini adalah suatu kondisi yang berkesinambungan berubah sejalan dengan dinamika pasar.

"Ekspektasi yang sudah lebih selaras ini berpotensi mengurangi faktor ketidakpastian, kejutan, dan volatilitas," ujarnya.

Ia melanjutkan valuasi pasar saat ini sepertinya telah mempertimbangkan kondisi terburuk, contohnya imbal hasil UST naik ke level tertinggi sejak tahun 2007 dan valuasi pasar saham Asia telah turun di bawah -1 standar deviasi (level yang sama tercapai ketika konflik dagang di 2018 dan pandemi Covid di 2020). 

"Kondisi ini tentu membuka peluang investasi yang menarik terutama bagi investor dengan jangka waktu investasi panjang," lanjutnya.

Peluang Pasar Obligasi Domestik 

Ezra mengatakan mengacu pada teori umum bahwa pergerakan suku bunga dan harga obligasi berbanding terbalik, dan melihat saat ini adalah siklus kenaikan suku bunga, maka kita bisa menyimpulkan saat ini kelas aset obligasi sedang menghadapi lebih banyak tantangan.

"Namun kita tidak boleh mengabaikan faktor-faktor lainnya yang juga berpengaruh. Sampai saat ini pergerakan pasar obligasi Indonesia masih akan relatif resilien didukung oleh fundamental makro ekonomi Indonesia yang baik, likuiditas domestik yang masih tinggi, aksi jual asing yang lebih terbatas karena kepemilikannya yang semakin rendah <15%, dan target penerbitan obligasi yang lebih rendah di 4Q," paparnya.

Strategi Investasi Untuk Dorong Kinerja Portofolio

Ezra mengatakan guna menghasilkan kinerja portofolio yang optimal, pengelolaan akan didasari pada pendekatan top-down , analisa makro ekonomi global dan domestik dan kekuatan analisa bottom-up, untuk pembentukan portofolio yang optimal. Lebih lanjuta ia menjelaskan strategi investasi akan memperhatikan beberapa aspek yakni :

- Duration Management

Yaitu, mengedepankan pengelolaan aktif dan stabilitas kinerja, di mana durasi portofolio akan sangat dinamis. Overweight atau underweight terhadap tolok ukur, bergantung dari tinjauan terhadap prospek pasar.

- Security Selection

Yaitu, melakukan penempatan pada tenor tertentu yang memberikan spread imbal hasil yang menarik.

- Yield Enhancement

Yaitu, memaksimalkan potensi imbal hasil pada porsi kas portofolio dengan melakukan penempatan pada obligasi korporasi tenor <1 tahun dengan tingkat kelayakan kredit yang kuat dan terpercaya.

"Di samping itu, kami juga terus mencermati likuiditas dan volatilitas untuk memastikan pengelolaan investasi memberikan hasil optimal dengan risiko yang terkendali," kata Ezra.

(Martina Priyanti/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.