MAMI : Ini Tips Buat Investor Saat Pasar Modal Global sedang Bergejolak

Diversifikasi bisa jadi strategi yang baik untuk mengoptimalkan potensi keuntungan sekaligus meminimalisir risiko
Abdul Malik • 19 Oct 2022
cover

Ilustrasi investor wanita duduk melihat grafik pergerakan saham tetapi tetap senang gembira happy anticemas menghadapi kondisi ekonomi resesi karena memiliki strategi investasi di reksadana saham obligasi negara dan emas. (shutterstock)

Bareksa.com - Pasar finansial global masih menunjukkan tren volatilitas tinggi, apa yang harus dilakukan investor? Krizia Maulana, Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menyampaikan investor harus mencari strategi investasi yang tepat agar tujuan keuangannya dapat terealisasi. 

Arah Kebijakan Global

Krizia mengatakan, sebelumnya ketika pasar memperkirakan Bank Sentral Amerika atau The Fed, akan lebih mengerem laju kebijakannya, namun yang terjadi justru sebaliknya. The Fed mengubah laju Fed Funds Rate menjadi semakin agresif dibandingkan sebelumnya.

"The Fed juga meningkatkan proyeksi pengangguran, serta menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS). Terkait itu, sisi positifnya, komunikasi yang cukup terbuka oleh The Fed menunjukkan kenaikan tinggi Fed Rate di depan (front loaded) terjadi di tahun ini dan perkiraan siklus tertinggi suku bunga tidak berubah, masih tetap di awal 2023," ujarnya (19/10/2022). 

Menurutnya kondisi ini menyiratkan bahwa terbuka kemungkinan kebijakan The Fed yang lebih longgar, terutama ketika ekonomi mengalami kontraksi ekstrim dan atau inflasi turun konsisten.

Sementara itu, perubahan struktural ekonomi di China (dari semula berorientasi pada ekspor menjadi pasar domestik) membawa dampak perubahan dan atau regulasi baru di berbagai sektor, seperti teknologi, edukasi dan properti. Selain itu, China juga dianggap tidak peka terhadap penanganan Covid-19 (Zero Covid Policy).

Meski begitu, ia menyampaikan kebijakan pemerintah China yang mengembangkan sektor-sektor prioritas industri masa depan seperti kendaraan listrik, EBT (energi baru dan terbarukan), otomasi, dan semikonduktor, dinilai menjadi peluang yang menarik bagi investor untuk masuk ke pasar China.

Menanggapi kebijakan agresif The Fed, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin (bps) ke level 4,25%. Langkah itu dilakukan untuk menjaga ekspektasi inflasi pasca kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, menjaga daya tarik rupiah, dan menjaga selisih antara suku bunga Indonesia dengan AS di zona positif.

Diversifikasi Aset

Di tengah kondisi saat ini, Krizia mengatakan diversifikasi investasi untuk membangun portofolio yang resilien (berdaya tahan) dapat menjadi strategi yang baik bagi para investor untuk mengoptimalkan potensi keuntungan sekaligus meminimalisir risiko.

Diversifikasi dimaksud bisa dilakukan dari berbagai sisi, seperti diversifikasi kelas aset, diversifikasi pasar atau geografis, diversifikasi mata uang, maupun diversifikasi sektor.

Menurut dia, Kawasan Asia yang beragam menawarkan potensi diversifikasi aset bagi investor. Pelonggaran restriksi aktivitas, pembukaan kembali perjalanan internasional yang mendukung aktivitas ekonomi dan tekanan inflasi yang cenderung lebih rendah, dapat menjadi bantalan di tengah kondisi makroekonomi global yang penuh tantangan.

Krizia mengatakan bagi investor yang ingin melakukan diversifikasi investasi di pasar saham luar negeri (offshore), silahkan manfaatkan reksadana saham syariah offshore, misalnya pada kawasan Asia Pasifik. Investasi di kawasan Asia Pasifik memberikan peluang untuk menikmati keuntungan dari diversifikasi geografis, mata uang, dan investasi pada saham-saham unggulan.

Produk Reksadana Manulife AM

Krizia mengatakan potensi imbal hasilnya lebih optimal daripada sekadar disimpan dalam bentuk tabungan dolar AS. Salah satu reksadana saham yang fokus pada kawasan Asia Pasifik yaitu reksadana Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dolar AS (MANSYAF).

"Saat ini portofolio MANSYAF terdiri dari saham-saham perusahaan Asia berskala global dengan pendapatan mancanegara yang tersebar di bursa-bursa negara-negara di Asia Pasifik seperti China (termasuk Hong Kong), Korea, India, Australia, termasuk Indonesia," jelasnya.

Menurutnya di tengah kondisi yang volatil seperti saat ini, pasar saham di kawasan Asia Pasifik dan Indonesia tetap memiliki peluang yang menarik.

Krizia menyampaikan dengan melakukan diversifikasi, kita dapat meningkatkan imbal hasil portofolio secara keseluruhan lewat kinerja yang lebih stabil dari waktu ke waktu.

"Sebagai investor, dalam membuat keputusan investasi tentunya kita harus selalu mempertimbangkan tujuan investasi, jangka waktu investasi, dan disesuaikan dengan profil risiko masing-masing," kata dia.

(Martina Priyanti/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.