Suku Bunga AS Naik 0,75 Persen, Begini Potensi Cuan Reksadana

Dengan kenaikan ini, maka suku bunga The Fed kini berada di kisaran 1 - 1,75 persen
Abdul Malik • 16 Jun 2022
cover

Ilustrasi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat atau Fed Rate yang berdampak pada pasar keuangan dunia, termasuk IHSG, reksadana, SBN dan emas. (Shutterstock)

Bareksa.com - Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed) menaikan suku bunga acuannya tiga perempat poin persentase atau 75 basis poin (0,75 persen) pada Rabu (15/6/2022) waktu AS. Hal itu dilakukan untuk membendung lonjakan inflasi, proyeksi perlambatan ekonomi, dan peningkatan angka pengangguran pada bulan-bulan mendatang.

Sumber: Tradingeconomics

Sebelumnya, The Fed mulai menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan Maret yang kemudian berlanjut pada pertemuan Mei, dan akhirnya pada pertemuan Juni juga kembali naik hingga saat ini berada di kisaran 1 – 1,75 persen. 

Sebagai informasi, angka tersebut merupakan kenaikan suku bunga terbesar yang pernah diumumkan The Fed sejak 1994. Kenaikan suku bunga tertinggi dalam 30 tahun terakhir itu diputuskan karena ekonomi Negara Paman Sam sedang di bawah tekanan akibat melonjaknya harga gas dan makanan yang telah membuat jutaan orang AS berjuang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Hingga akhir 2022, kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral diprediksi akan berlanjut hingga menjadi 3,4 persen. 

Sumber: Tradingeconomics

Seperti diketahui, Inflasi AS memang terlihat dalam tren meningkat sejak September 2021. Bahkan, pada Mei 2022 angkanya telah menyentuh level 8,6 persen secara tahunan/year on year (YOY), sekaligus menjadi yang tertinggi sejak tahun 1981.

Tingginya inflasi tersebut disebabkan oleh harga komoditas energi dan pangan yang masih berada di level tinggi, di mana inflasi kelompok energi tercatat 34,6 persen YOY dan inflasi kelompok pangan tercatat 10,1 persen YOY.

Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan langkah itu penting untuk menurunkan inflasi sekaligus menstabilkan harga. Meski begitu, dia mengakui kenaikan suku bunga secara agresif tersebut cukup berisiko. Powell mengatakan risko langkah itu sangat besar dan berharap kenaikan suku bunga yang tinggi ini tidak menjadi 'kebiasaan'.

"Sangat penting kita menurunkan inflasi, jika kita ingin memiliki periode berkelanjutan dari kondisi pasar tenaga kerja yang kuat yang menguntungkan semua orang," tuturnya, dilansir AFP, Kamis (16/6/2022).

Namun, dari hasil keputusan yang diumumkan Rabu (15/6/2022) malam waktu AS itu, kenaikan 50 basis poin hingga 75 basis poin masih mungkin dilakukan pada bulan depan. 

Potensi Cuan Reksadana di Tengah Kenaikan Suku Bunga

Dengan kondisi suku bunga AS yang dalam tren kenaikan, secara umum akan membuat pelaku pasar cenderung wait and see dalam mengambil keputusan investasi, terutama dalam mengamati kebijakan yang akan diambil oleh Bank Indonesia untuk merespons kebijakan The Fed.

Reksadana pasar uang tentu bisa menjadi salah satu alternatif untuk pelaku pasar memarkirkan dananya sementarai, sambil standby menunggu kebijakan selanjutnya.

Selama pelaku pasar punya kecenderungan profil risiko yang rendah dan khawatir dengan tertekannya pasar, menambah porsi di reksadana pasar uang bisa menjadi alternatif pilihan. Jadi, ketika pasar sudah terkoreksi imbas keputusan The Fed, investor sudah memiliki “cash buffer” dan siap masuk ke instrumen saham.

Hal ini tentunya, mendorong banyaknya aksi net subscription dari para investor “kawakan” karena ini adalah kesempatan yang baik bagi mereka untuk memarkirkan dananya dan melakukan averaging down.

Selain itu, potensi net subscription juga akan datang dari investor pemula yang baru mencoba berinvestasi di pasar modal dengan profil risiko yang rendah.

Apalagi, dengan potensi kenaikan suku bunga acuan BI7DRR dalam merespons suku bunga The Fed yang sudah naik, reksadana pasar uang dinilai punya prospek yang menarik ke depan.

Tahun lalu, saat suku bunga acuan BI7DRR di level 3,5 persen, rata-rata kinerja reksadana pasar uang di Bareksa menghasilkan pertumbuhan 2,93 persen dalam setahun. Dengan adanya potensi kenaikan suku bunga acuan BI7DRR ke level 3,75 persen, maka imbal hasil reksadana pasar uang diproyeksikan bisa ikut naik setidaknya dengan rata-rata ke 3,25 – 3,5 persen.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.