IHSG Diprediksi Melesat Meski Suku Bunga AS Naik, Prospek Cuan Reksadana Saham

Meski sempat turun tajam pada awal Mei, hingga akhir tahun, IHSG diprediksi bisa melesat di kisaran 7.500
Abdul Malik • 31 May 2022
cover

Ilustrasi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (Fed Rate). Para analis menilai IHSG berpeluang terus meningkat di tengah kenaikan Fed Rate, sehingga reksadana saham juga prospektif cuan. (Shutterstock)

Bareksa.com - PT Bank OCBC NISP memperkirakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di akhir tahun ini masih bisa melesat di kisaran 7.200-7.500, meskipun sempat dihantam oleh kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) yang sempat menyebabkan fluktuasi di pasar saham. Peluang peningkatan ini tentunya membawa angin segar bagi reksadana yang memiliki portofolio saham.

Wealth Management Head Bank OCBC NISP Juky Mariska menjelaskan, pada awal Mei lalu, Bank Sentral AS menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya menjadi 1 persen. Kenaikan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kenaikan Fed Funds Rate yang diperkirakan akan menyentuh 2,75 - 3 persen pada awal 2023.

Tidak hanya menaikkan suku bunga acuan, The Fed juga merencanakan normalisasi neraca (balance sheet) dengan pengurangan US$47,5 miliar mulai Juni ini, dan pengurangan US$90 miliar pada September mendatang. 

Langkah pengetatan kebijakan ini dilakukan untuk mengatasi tingkat inflasi yang terus mengalami kenaikan. Inflasi yang terlalu tinggi dikhawatirkan akan mendorong ekonomi melambat atau justru masuk ke era stagflasi. Hal ini mendorong imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi di kisaran 3,1 persen. 

Selain kekhawatiran akan kenaikan suku bunga yang lebih agresif, pasar modal masih dibayangi oleh sejumlah risiko. Tren kenaikan suku bunga oleh beberapa negara maju untuk mengatasi tingginya inflasi, berlanjutnya ketegangan Rusia - Ukraina, sanksi kepada Rusia yang terus membuat harga minyak melonjak, serta semakin ketatnya lockdown di China masih mendominasi pergerakan pada pasar saham. 

Dari sisi domestik, Juky melihat aktivitas ekonomi semakin pulih seiring Covid-19 yang terkendali dan herd immunity yang meningkat. “Investor terlihat optimis akan prospek perekonomian Indonesia,” jelas dia dalam keterangan tertulis, Senin (30/5).

Namun, peningkatan bunga acuan bank sentral AS sempat mempengaruhi pasar modal domestik hingga minggu kedua Mei 2022. Penurunan IHSG paling tajam terjadi pada perdagangan Senin (9/5), IHSG terjun 4,42 persen ke 6.909,75. Total volume transaksi bursa mencapai 23,42 miliar saham dengan nilai transaksi Rp23,63 triliun. Investor asing tercatat melakukan penjualan Rp2,47 triliun di seluruh pasar.

Namun, penurunan IHSG ini diprediksi hanya sesaat sehingga IHSG bisa melesat pada akhir tahun ini. Penurunan sesaat ini juga diprediksi tidak akan mengganggu pergerakan imbal hasil (return) reksadana saham.

Penurunan IHSG paling tajam terjadi pada perdagangan Senin (9/5), IHSG terjun 4,42 persen ke 6.909,75. Total volume transaksi bursa mencapai 23,42 miliar saham dengan nilai transaksi Rp23,63 triliun. Investor asing tercatat melakukan penjualan Rp2,47 triliun di seluruh pasar.

Pada penutupan perdagangan Rabu, (26/5), IHSG masih berada di bawah level 7.000, tepatnya di 6.883. Nilai ini menurun 0,44 persen dibandingkan perdagangan hari sebelumnya di level 6.914.

Pada penutupan perdagangan Jumat, (27/5), IHSG juga sudah kembali ke level di atas 7.000, tepatnya 7.026, menguat 2,07 persen dari perdagangan hari sebelumnya.

Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova menjelaskan pelemahan yang terjadi pada IHSG lebih kepada respons pelaku pasar atas kenaikan suku bunga The Fed. Hal ini juga, juga sejalan dengan pelemahan pasar saham di kawasan Asia.

"Pergerakan IHSG adalah reaksi pasar terhadap keputusan The Fed dan pasar saham Asia pun serempak melemah," kata Ivan.

Meski begitu, Ivan menilai dalam waktu dekat IHSG masih ada kemungkinan terjadi kenaikan setelah koreksi yang agresif ini dan kembali ke atas level 7.000. Namun, untuk jangka menengah pelaku pasar masih akan melihat seberapa efektif dampak atas kebijakan The Fed untuk mengendalikan inflasi.

Juky juga mengungkapkan, sejumlah risiko masih membayangi pergerakan pasar saham seperti kenaikan inflasi yang terlalu cepat yang mempercepat laju kenaikan suku bunga. Namun, seiring dengan pulihnya permintaan domestik dan kenaikan harga komoditas, maka IHSG diperkirakan akan berada di kisaran 7.200 – 7.500 hingga akhir tahun. 

Prospek Cuan Reksadana Saham

Penurunan IHSG dalam jangka pendek dinilai tidak akan mempengaruhi return reksadana saham. Berdasarkan daftar 72 reksadana saham yang ada di Bareksa, rata-rata masih mencatatkan cuan cemerlang. Bahkan top reksadana cuan tertinggi setahun terakhir (per 30 Mei 2022) berhasil mencatatkan imbal hasil di atas 20 persen. 

Sumber : Bareksa

Reksadana saham Pinnacle Strategic Equity Fund berhasil membukukan cuan 29,84 persen. Kemudian disusul Sucorinvest Equity Fund dengan imbalan 28,66 persen, Avrist Equity - Cross Sectoral dengan imbal hasil 24,2 persen, HPAM Syariah Ekuitas dengan cuan 24,08 persen dan Rencana Cerdas dengan return 23,04 persen. 

Selengkapnya reksadana apa saja dalam daftar top 10 cuan tertinggi setahun terakhir, sebagaimana tertera dalam tabel.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.