Begini Perkembangan Industri Reksadana Syariah Hingga Maret 2022

Hingga Maret 2022, OJK mencatat dana kelolaan reksadana syariah Rp43,23 triliun
Abdul Malik • 28 Apr 2022
cover

Ilustrasi investor Muslimah yang sedang merencanakan investasinya di reksadana syariah dan SBN syariah. (Shutterstock)

Bareksa.com - Sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia, Indonesia menjadi target pasar paling potensial untuk produk berbasis syariah. Hal tersebut ditandai dengan semakin tingginya antusiasme masyarakat terhadap berbagai produk investasi syariah.

Salah satu yang cukup banyak digandrungi masyarakat saat ini adalah reksadana syariah. Reksadana adalah produk investasi berupa kumpulan aset (portofolio) yang dikelola oleh manajer investasi. Aset reksadana itu dapat berupa saham, obligasi, surat berharga, hingga deposito.

Jika terdapat label syariah, maka aset atau efek yang diinvestasikan oleh reksadana yang bersangkutan tentu berbeda dengan reksadana konvensional. Selain itu, akad pembelian reksadananya juga berbeda.

Akad investasi dalam reksadana syariah terbagi menjadi tiga, yaitu bakal kerja sama (musyarokah), sewa-menyewa (ijarah), dan bagi hasil (mudharabah).

Secara sederhana, reksadana syariah ialah reksadana yang pengelolaannya sesuai dengan hukum syariat Islam, sehingga reksadana jenis ini haram hukumnya untuk membeli saham-saham perusahaan yang bisnisnya dilarang dalam agama Islam seperti riba, minuman keras dan rokok.

Walaupun mengedepankan syariat Islam sebagai arahan investasi bukan berarti reksadana ini eksklusif bagi kaum Muslim saja, bagi investor non muslim pun reksadana ini dapat dipandang sebagai alternatif produk investasi.

Perkembangan reksadana syariah

Mengutip statistik reksadana syariah dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perkembangan reksadana syariah memang terlihat mengalami tekanan dalam satu tahun terakhir. Hal tersebut tercermin dari penurunan dana kelolaan reksadana syariah yang terlihat turun pada akhir 2021 dan cenderung flat hingga kuartal I 2022.

Sumber : OJK

Hingga Maret 2022, OJK mencatat dana kelolaan reksadana syariah Rp43,23 triliun. Nilai tersebut turun 45,58 persen secara tahunan (YOY) dibandingkan Maret 2021 yang senilai Rp79,44 triliun dan turun 1,75 persen sepanjang tahun berjalan (YTD) dibandingkan Desember 2021 yang senilai Rp44 triliun.

Berdasarkan pantauan Bareksa, penurunan AUM industri reksadana syariah secara signifikan terjadi sejak Mei 2021 di mana kala itu terjadi aksi jual atau redemption (pencairan) cukup besar pada jenis reksadana terproteksi yang dilakukan oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).

Sekadar mengingatkan, menurut pemberitaan media saat itu BPKH memang terlihat terus mengurangi porsi investasi di beberapa efek di pasar modal sejak Mei 2021. Lembaga pengelola dana haji di Indonesia ini meningkatkan porsi investasinya di dalam Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

Di sisi lan, faktor obligasi yang jatuh tempo juga mempengaruhi penurunan dana kelolaan di jenis reksadana terproteksi syariah karena sebagian tidak digantikan dengan produk baru. Namun hal sebaliknya terjadi di jenis reksadana saham syariah dan reksadana campuran syariah yang justru tumbuh, masing-masing 15 persen dan 8,3 persen per Maret 2022 dibanding periode sama tahun lalu.

Ke depannya, potensi pertumbuhan industri reksadana syariah masih tetap terbuka lebar Terlebih lagi dengan mayoritas penduduk Indonesia yang muslim membuat potensi industri ini cukup menjanjikan. Hanya saja, edukasi dan penetrasi produk reksadana syariah harus terus ditingkatkan.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.