Begini Kinerja Dana Kelolaan dan Unit Penyertaan Reksadana Syariah di 2021

Dana kelolaan reksadana syariah tercatat Rp44,4 triliun pada Desember 2021 atau anjlok 41 persen
Abdul Malik • 14 Jan 2022
cover

Ilustrasi dana kelolaan reksadana syariah pada 2021 yang menurun akibat tertekan reksadana terproteksi syariah. (Shutterstock)

Bareksa.com - Menutup tahun 2021, industri reksadana Tanah Air berhasil mencatatkan kinerja cukup menggembirakan. Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report December 2021 yang mengolah data Otoritas Jasa Keuangan menyebutkan dana kelolaan reksadana pada 2021 mencapai Rp580 triliun atau tepatnya Rp579,9 triliun,

Nilai dana kelolaan reksadana Desember 2021 tersebut naik 3 persen secara bulanan dan bertambah 1 persen secara tahunan dan sepanjang tahun berjalan. Nilai tersebut merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah industri reksadana nasional.

Sebelumnya rekor tertinggi dicatatkan pada Desember 2020 yang senilai Rp573,5 triliun. Nilai dana kelolaan Desember 2021 bertambah Rp6,42 triliun jika dibandingkan Desember 2020.

Sumber : Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report Desember 2021

Meskipun dana kelolaan naik, namun sayangnya jumlah unit penyertaan reksadana justru menurun. Tercatat jumlah unit penyertaan reksadana pada Desember 2021 sebanyak 422,2 miliar unit, menurun 2,98 persen atau hilang 12,95 miliar unit dari Desember 2020 yang sebanyak 435,1 miliar unit. Hal itu menandakan, investor yang sepanjang 2021 menjual reksadananya, hingga akhir tahun belum sepenuhnya kembali berinvestasi di reksadana.

Kinerja Dana Kelolaan dan Unit Penyertaan Reksadana Syariah

Meskipun total dana kelolaan secara industri pada 2021 mencatatkan pertumbuhan secara bulanan maupun tahunan atau sepanjang tahun berjalan, namun hal serupa belum dicatatkan reksadana syariah. Dana kelolaan dan unit penyertaan reksadana yang dikelola sesuai dengan prinsip-prinsip syariah tersebut masih mencatatkan kinerja negatif secara tahunan maupun sepanjang tahun berjalan pada Desember 2021.

Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report December 2021 menyebutkan dana kelolaan reksadana syariah tercatat Rp44,4 triliun pada Desember 2021 atau anjlok 41 persen secara tahunan maupun sepanjang tahun berjalan. Meski begitu secara bulanan berhasil naik 3 persen.

Tidak berbeda, unit penyertaan reksadana syariah yang tercatat 27,9 miliar unit pada Desember 2021 juga merosot hingga 56 persen baik secara tahunan maupun sepanjang tahun berjalan, serta secara bulanan stagnan. Pada Desember 2020 lalu, dana kelolaan reksadana syariah sempat menyentuh Rp74,9 triliun dan unit penyertaan mencapai 64,1 miliar unit.

Turunnya dana kelolaan reksadana syariah secara total di Desember 2021, akibat penurunan dana kelolaan beberapa jenis reksadana. Di antaranya dana kelolaan reksadana pasar uang syariah anjlok 21 persen YoY jadi Rp7,9 triliun, reksadana campuran syariah turun 10 persen jadi Rp939 miliar, serta reksadana terproteksi yang kehilangan dana kelolaannya hingga 96 persen jadi Rp1,6 triliun.

Seiring hal itu, unit penyertaan reksadana syariah pada jenis-jenis tersebut juga mengalami penuruan. Di antaranya unit penyertaan reksadana pasar uang syariah anjok 26 persen secara tahunan, reksadana campuran syariah berkurang 7 persen, serta unit penyertaan reksadana terproteksi syariah juga longsor 96 persen pada Desember 2021.

Meski begitu, untuk reksadana syariah jenis lainnya masih membukukan kinerja positif. Di antaranya dana kelolaan reksadana saham syariah melesat 37 persen secara tahunan jadi Rp25,8 triliun dan unit penyertaannya juga naik 8 persen jadi 12,4 miliar unit pada Desember 2021.

Tidak berbeda, dana kelolaan reksadana pendapatan tetap syariah juga membukukan kenaikan dana kelolaan dan unit penyertaan masing-masing 7 persen secara tahunan jadi Rp7,8 triliun dan 5,6 miliar unit pada Desember 2021.

Anjloknya dana kelolaan dan unit penyertaan reksadana syariah sudah terjadi sejak Mei tahun lalu. Pada Mei 2021 dana kelolaan reksadana syariah anjlok hingga 45,3 persen secara year to date menjadi Rp40,67 triliun dibandingkan Desember 2020.

Penyebabnya juga sama yakni akibat anjloknya kelolaan reksadana terproteksi syariah yang anjlok 96 persen secara bulanan dan sepanjang tahun berjalan, serta dana kelolaan reksadana pasar uang syariah yang anjlok 17 persen secara bulanan dan ambrol 15 persen sepanjang tahun berjalan.

Anjloknya dana kelolaan dan unit penyertaan reksadana terproteksi syariah dan reksadana pasar uang syariah akibat Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) menarik dana mereka dari dua instrumen investasi tersebut. Porsi investasi BPKH di reksadana terproteksi syariah yang pada akhir April 2021 senilai Rp35,95 triliun dan kemudian dijual atau dicairkan semuanya sehingga investasi di portofolio ini sudah tidak ada sama sekali.

Investasi BPKH di reksadana pasar uang syariah juga hanya tersisa Rp114 miliar, yang berkurang drastis dari jumlah sebelumnya yang senilai Rp2,05 triliun.

Artikel ini merupakan cuplikan dari laporan bulanan industri reksadana Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report December 2021. Untuk berlangganan laporan ini silahkan hubungi [email protected] (cc: [email protected]).

(Martina Priyanti/Tim Data/Abdul Malik)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.