Begini Proses Pembersihan Kekayaan dalam Reksadana Syariah

Salah satu ciri utama yang membedakan pengelolaan reksadana syariah dengan reksadana konvensional adalah adanya proses cleansing
Abdul Malik • 27 Apr 2022
cover

Ilustrasi seorang investor Muslimah yang berinvestasi di reksadana syariah dan SBN syariah secara online melalui smartphone. (Shutterstock)

Bareksa.com - Sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia, Indonesia menjadi target pasar paling potensial untuk produk berbasis syariah. Hal tersebut ditandai dengan semakin tingginya antusiasme masyarakat terhadap berbagai produk investasi syariah.

Salah satu produk investasi syariah yang saat ini tengah berkembang di masyarakat adalah reksadana syariah.

Reksadana syariah merupakan suatu wadah untuk mengumpulkan dana masyarakat yang dikelola oleh manajer Investasi, untuk kemudian diinvestasikan ke dalam surat berharga yang disesuaikan dengan ketentuan dan prinsip syariah Islam antara lain berbentuk portofolio penempatan dana di instrumen keuangan syariah seperti saham syariah, sukuk dan instrumen surat berharga syariah lainnya.

Salah satu ciri utama yang membedakan pengelolaan reksadana syariah dengan reksadana konvensional adalah adanya proses cleansing, yaitu proses pembersihan kekayaan reksadana dari hal-hal yang dapat mengganggu status kehalalan dari uang yang didapat selama proses investasi berlangsung.

Dari proses cleansing ini, sebagian besar uang tidak langsung masuk kepada pemilik modal tetapi akan diarahkan pada hal-hal yang bersifat amal. Lalu, bagaimanakah proses tersebut dilakukan?

Sebagai informasi, proses cleansing dalam reksadana syariah biasanya terjadi atas dua kegiatan :

1. Proses cleansing pada pendapatan bunga. Umumnya bank kustodian akan memberikan bunga dari dana yang disetorkan masyarakat ketika ingin berinvestasi reksadana. Pendapatan bunga tersebut selanjutnya harus dicatat secara terpisah karena tidak bisa diakui sebagai pendapatan dan selanjutnya akan diamalkan.

2.  Proses cleansing yang muncul dari aksi korporasi seperti penerbitan utang. Misalkan suatu perusahaan yang unit usaha dan rasio keuangannya telah memenuhi prinsip syariah melakukan pinjaman ke bank. Akibat dari aksi tersebut, maka rasio utangnya berubah mencapai lebih dari 45 persen sehingga oleh OJK dan BEI dikeluarkan dari Daftar Efek Syariah (DES).

Ternyata sewaktu dikeluarkan, manajer investasi reksadana syariah belum sempat menjual semua saham dan harganya mengalami kenaikan. Kenaikan harga saham yang terjadi setelah suatu saham dikeluarkan dari DES selanjutnya juga tidak boleh diakui sebagai pendapatan reksadana syariah dan harus dicatatkan secara terpisah.

Itulah sebagian contoh proses dilakukannya cleansing pada reksadana syariah. Semoga melalui proses cleansing ini kita bisa semakin yakin dengan produk reksadana syariah pilihan kita bahwa keuntungan yang didapatkan merupakan hasil pemisahan antara unsur non halal. Jadi kapan mau mulai untuk berinvestasi pada reksadana syariah?

Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.