Pasar Dibayangi Lonjakan Omicron, Reksadana Saham Dominasi Imbalan Tertinggi

Merespons kenaikan kasus Covid-19 varian Omicron yang terus meluas, Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 4,1 persen dan 3,2 persen untuk 2022 dan 2023
Abdul Malik • 14 Jan 2022
cover

Ilustrasi munculnya varian baru Covid-19 Omicron yang berdampak pada pasar keuangan, termasuk pasar saham, reksadana dan SBN, hingga emas. (Shutterstock)

Bareksa.com - Mengakhiri perdagangan Kamis (13/1/2022), pasar saham Indonesia mampu berakhir di zona hijau meskipun dengan penguatan yang sangat terbatas, setelah hampir seharian berkutat di zona merah.

Kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir dengan kenaikan 0,17 persen ke level 6.658,36. Aktivitas perdagangan tergolong sepi dengan nilai transaksi yang hanya Rp10,37 triliun, namun investor asing terlihat masih memborong saham dengan catatan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp571,62 miliar di pasar reguler.

Penguatan tipis IHSG senada dengan pergerakan pasar saham Amerika Serikat (AS) yang juga menguat terbatas pada Rabu malam. Indeks Dow Jones naik 0,11 persen. Sedangkan untuk indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing menguat lebih dari 0,2 persen.

Rebound harga saham-saham di bursa AS terjadi setelah ketiga indeks terus menerus terkoreksi pekan lalu sejalan dengan kenaikan yield (imbal hasil) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mendekati 1,8 persen.

Rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS yang mencerminkan laju inflasi pada bulan Desember 2021 tercatat tumbuh 7 persen year on year (yoy) dan menjadi level tertinggi sejak 1982. Meskipun inflasi berada di level tertingginya dalam 4 dekade terakhir, tetapi kenaikan ini sudah diantisipasi oleh pelaku pasar.

Ekonom yang disurvei Dow Jones sudah memperkirakan IHK AS bulan Desember 2021 bakal naik 7 persen sesuai dengan angka aktual saat ini.

Melihat yield obligasi AS yang turun serta tekanan di pasar saham yang berkurang membuka peluang bagi aset-aset keuangan di negara berkembang seperti Indonesia untuk naik.

Selain mempertimbangkan faktor perkembangan pasar keuangan global, investor dan pelaku pasar perlu mencermati sentimen lain terutama dari perkembangan pandemi.

Saat ini dunia kembali dilanda gelombang lanjutan infeksi Covid-19. Kenaikan laju penularan ini diasosiasikan dengan penyebaran varian Omicron yang sudah ditemukan di lebih dari 110 negara.

Meskipun laju penularannya tinggi, tetapi beberapa studi menunjukkan varian Omicron justru tidak seberbahaya Delta. Namun tetap saja, jika kenaikan kasusnya semakin tinggi dan tak terkendali, hal ini bisa memantik pembatasan yang lebih ketat atau bahkan lockdown.

Merespons kenaikan kasus infeksi yang terus meluas, Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 4,1 persen dan 3,2 persen untuk tahun 2022 dan 2023.

Reksadana Saham Dominasi Return Harian

Kondisi pasar saham Indonesia yang hanya naik tipis pada perdagangan kemarin, secara umum turut membuat kinerja reksadana berbasis saham mengalami hal serupa.

Berdasarkan data Bareksa, indeks reksadana saham dan indeks reksadana saham syariah kompak mencatatkan kenaikan masing-masing 0,50 persen dan 0,17 persen.

Sumber: Bareksa

Kemudian secara lebih rinci, produk reksadana saham terlihat masih mampu mendominasi kinerja positif pada perdagangan kemarin.

Sumber: Bareksa

Berdasarkan top 10 imbal hasil (return) harian pada perdagangan kemarin, 7 diantaranya ditempati oleh produk reksadana saham, sementara 3 lainnya merupakan produk reksadana campuran.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Reksadana saham adalah reksadana yang mayoritas aset dalam portofolionya adalah instrumen aset saham atau efek ekuitas. Reksadana jenis ini berisiko berfluktuasi dalam jangka pendek tetapi berpotensi tumbuh dalam jangka panjang.

Maka dari itu, reksadana saham yang agresif disarankan untuk investor dengan profil risiko tinggi dan untuk investasi jangka panjang (>5 tahun). Demi kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko Anda.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.