Top 10 Reksadana Juara Cuan Pekan Ketiga Januari 2022

Kondisi pasar saham yang mengalami kenaikan pada pada pekan lalu, secara umum ternyata bertolak belakang dengan kinerja berbagai jenis reksadana
Abdul Malik • 24 Jan 2022
cover

Ilustrasi top 10 reksadana imbalan tertinggi, kelolaan terbesar dan manajer investasi kelolaan tertinggi. (shutterstock)

Bareksa.com - Mengakhiri pekan ketiga di Januari 2022, kinerja pasar saham Indonesia terpantau mengalami penguatan sekaligus berhasil memecahkan rekor baru. Dalam perdagangan yang berlangsung mulai dari 17 hingga 21 Januari 2022, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami pelemahan di 3 hari pertama perdagangan, sebelum akhirnya rebound di 2 hari perdagangan berikutnya.

Alhasil secara mingguan IHSG mengakumulasi kenaikan 0,49 persen ke level 6.726,37. Sebagai infomrasi, level tersebut menjadi rekor penutupan tertinggi sepanjang masa, mematahkan rekor sebelumnya 6.723,386 yang dicapai pada 22 November 2021.

Di sisi lain, sepanjang pekan lalu investor asing juga terlihat lebih dominan menambah kepemilikan saham mereka dengan catatan aksi beli bersih (net buy) mencapai Rp1,56 triliun di pasar reguler.

Dari luar negeri, kekhawatiran soal The Fed akan secara agresif bergerak untuk menaikkan suku bunga tahun ini berdampak pada pasar. Investor dengan cemas menunggu pertemuan The Fed pekan ini untuk mendapatkan petunjuk baru tentang bagaimana Jerome Powell cs akan mengatasi inflasi. Dengan inflasi di AS yang terus membandel, pasar memperkirakan The Fed bakal agresif dalam mengetatkan kebijakan moneternya.

Berdasarkan data kontrak futures Federal Fund Rate /FFR yang menjadi suku bunga acuan AS, pelaku pasar mengantisipasi The Fed bakal menaikkan suku bunga acuan paling cepat 25 bps pada Maret 2022 dengan probabilitas 88,7 persen.

The Fed diperkirakan bakal menaikkan suku bunga acuan 4-5 kali di tahun 2022. Setelah itu bank sentral AS juga diprediksi akan menempuh kebijakan moneter kontraktif dengan mereduksi ukuran neracanya (balance sheet).

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) pada Kamis (20/1) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5 persen. Namun BI memulai langkah normalisasi dengan menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM) rupiah untuk bank konvensional, komersial dan syariah mulai Maret 2022.

Di sisi lain, kasus infeksi harian Covid-19 meningkat hampir 18x sejak awal tahun. Hingga saat ini secara kumulatif ada 1.161 kasus konfirmasi Omicron ditemukan di Indonesia. Setelah ditelusuri, lebih banyak infeksi yang ditemukan akibat imported case yang mengindikasikan sumbernya lebih banyak dari luar negeri.

Di Indonesia varian Omicron telah merenggut korban jiwa. Ada dua orang pengidap Covid-19 varian Omicron yang dilaporkan meninggal dunia sejauh ini. Kenaikan kasus infeksi terutama yang disebabkan oleh varian Omicron ini diyakini menjadi pertanda bahwa puncak kasus sebentar lagi akan terjadi.

Berdasarkan prediksi Ikatan Dokter Indonesia (IDI), puncak penyebaran Omicron akan terjadi 4 - 8 pekan ke depan atau sekitar Februari - Maret 2022.

Mayoritas Jenis Reksadana Melemah

Kondisi pasar saham yang mengalami kenaikan pada pada pekan lalu, secara umum ternyata bertolak belakang dengan kinerja berbagai jenis reksadana, di mana yang berbasis saham justru menorehkan kinerja terburuk.

Sumber: Bareksa

Berdasarkan data Bareksa, indeks reksadana saham menjadi yang paling rendah pada pekan lalu dengan kinerja -0,15 persen, disusul oleh indeks reksadana campuran dan reksadana pendapatan tetap masing-masing -0,07 persen dan -0,03 persen.

Alhasil, hanya indeks reksadana pasar uang berhasil menorehkan kinerja positif pada pekan lalu dengan kenaikan 0,05 persen.

Namun di sisi lain, top 10 produk reksadana yang berhasil mencatatkan imbal hasil (return) mingguan tertinggi pada pekan lalu ternyata masih mampu ditempati oleh jenis reksadana yang high-risk, di mana produk reksadana saham mendominasi dengan 8 produk, sementara 2 produk lainnya merupakan produk reksadana indeks & ETF.

Sumber: Bareksa

Reksadana yang mencatatkan cuan tertinggi sepanjang pekan lalu di antaranya Eastspring Investments Alpha Navigator Kelas A dan Sucorinvest Maxi Fund dengan imbal hasil masing-masing 1,36 persen. Kemudian disusul Eastspring Investments Value Discovery Kelas A dengan imbalan 1,11 persen, Shinhan Equity Growth 1,03 persen dan Reksa Dana Indeks Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund dengan return 1,02 persen. Selengkapnya sebagaimana tertera dalam tabel.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(KA0 1/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.