Ini Faktor Pendorong IHSG dan Reksadana Saham Jelang Akhir 2021

Sejak awal bulan ini hingga 19 Oktober 2021, IHSG telah mencatatkan kenaikan 5,87 persen
Abdul Malik • 21 Oct 2021
cover

Ilustrasi krisis energi global justru berdampak positif bagi Indonesia sebagai negara net produser komoditi. Kondisi itu mendongkrak kinerja pasar saham, reksadana dan SBN. (Shutterstock)

Bareksa.com - ​Kinerja pasar saham yang menunjukkan tren positif menimbulkan optimisme baru di kalangan pelaku pasar. Seperti diketahui, dalam beberapa waktu terakhir Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus merangkak naik bahkan sudah menembus level psikologis 6.600.

Sekadar informasi, sejak awal bulan ini hingga 19 Oktober 2021, IHSG telah mencatatkan kenaikan 5,87 persen month to date (MtD). Adapun dilihat sejak awal tahun, IHSG telah mengakumulasi kenaikan 11,32 persen year to date (YtD).

Sumber: Bareksa

Momentum bullish (kenaikan) yang saat ini terjadi di pasar saham, membuat kinerja indeks reksadana saham diperkirakan dapat terus naik hingga akhir tahun.

Berdasarkan data Bareksa, kinerja indeks reksadana saham memimpin di posisi pertama dengan torehan 5,26 persen MtD, sedikit di bawah IHSG.

Meski begitu, jika dilihat sejak awal tahun kinerja indeks reksadana saham justru hanya mencatatkan kenaikan 3,23 persen YtD, satu peringkat di bawah indeks reksadana campuran dengan kenaikan 3,77 persen YtD.

Faktor Pendorong IHSG dan Reksadana Saham

Menurut pandangan Bareksa, peluang pertumbuhan kinerja IHSG maupun reksadana saham tentu tidak lepas dari optimisme pelaku pasar terhadap pasar saham di Tanah Air saat ini. 

Saat ini, pasar saham domestik memiliki momentum yang cukup baik dikarenakan beberapa faktor, tertuama roda perekonomian yang saat ini mengalami kebangkitan setelah pelonggaran pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Di sisi lain, adanya krisis energi yang terjadi secara global justru menempatkan Indonesia pada posisi yang unik, di mana sebagian dari perekonomian Tanah Air ditopang oleh sektor komoditas. Seiring lonjakan harga minyak akibat krisis energi global, harga komoditas pun ikut terkerek.

Ketika harga komoditas mengalami kenaikan, maka akan menjadi sentimen positif bagi kinerja pasar modal Indonesia.

Jika kenaikan harga tersebut berlanjut, mini commodity super cycle ini bisa berimbas positif pada perekonomian Indonesia di beberapa bulan yang akan datang karena akan menopang cadangan devisa RI.

Selain itu, kekhawatiran negara lain dengan keadaan krisis energi juga bisa memicu inflasi yang berkelanjutan, posisi Indonesia yang unik sebagai net producer of energy, kebijakan fiskal dan moneter yg dikelola relatif konservatif oleh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia, berhasil memposisikan Indonesia menjadi pasar yang menarik untuk penempatan dana.

Hal tersebut setidaknya tercermin dari aliran dana yang masuk ke pasar saham senilai Rp6,96 triliun sepanjang bulan berjalan per 19 Oktober, atau Rp34,68 triliun sepanjang tahun berjalan.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.