Indosat - Hutchison Merger, Reksadana Berbasis Saham Telekomunikasi Prospektif

Indosat akan merger dengan Hutchison 3 Indonesia dengan nilai transaksi mencapai US$6 miliar
Abdul Malik • 20 Sep 2021
cover

Ilustrasi rencana PT Indosat Tbk (ISAT) merger dengan Hutchison 3 Indonesia telah mendongkrak kinerja sahamnya dan berdampak positif pada reksadana dengan portofolio saham ini. (Shutterstock)

Bareksa.com - PT Indosat Tbk (ISAT) secara definitif menyatakan diri untuk melakukan penggabungan dengan PT Hutchison 3 Indonesia. Rencana penggabungan ini dinilai akan berdampak positif terhadap iklim persaingan di industri telekomunikasi dan juga terhadap perkembangan saham dan reksadana berbasis saham perusahaan telekomunikasi.

Pengamat Pasar Modal Reza Priyambada menjelaskan, selama ini, pemain di industri telekomunikasi cukup banyak. Namun, dengan adanya penggabungan ini, tingkat kompetisi di industri telekomunikasi akan lebih sehat dan efisien.

"Selama ini, mereka berusaha sendiri-sendiri, tetapi setelah disatukan, pemain menjadi lebih sedikit," jelas dia di Jakarta akhir pekan lalu.

Setelah merger ini, pemain di industri telekomunikasi menjadi PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT), PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN).

Di antara perusahaan tersebut, Telkom akan tetap unggul di industri telekomunikasi. Namun demikian, Indosat dan perusahaan telekomunikasi lainnya tetap akan bersaing ketat dengan menyediakan produk dan layanan berkualitas tinggi.

Berdampak Positif ke Industri Telekomunikasi

Di sisi lain, Analis RHB Sekuritas Michael Wilson Setjoadi mengatakan penggabungan Indosat dengan Hutchison akan berdampak positif ke industri telekomunikasi. Apalagi valuasi enterprise value (EV)/Ebitda untuk transaksi merger dengan Hutchison lebih premium dibandingkan EV/Ebitda Indosat saat ini.

Setelah Indosat dan Hutchison bergabung, Telkom dan Indosat akan menjadi pemain kunci di industri telekomunikasi. Namun, XL dan Smartfren masih akan memiliki pangsa pasar masing-masing.

"Pemain di industri telko pasti akan mampu untuk bersaing, karena dengan Telkomsel (anak usaha Telkom) yang selama ini terbesar pun, masih ada empat operator lain yang bisa bersaing dan membukukan profitabilitas yang cukup," kata dia.

Di industri telekomunikasi, terdapat banyak rencana aksi korporasi yang bisa memicu pergerakan saham. Yakni Indosat akan merger dengan Hutchison 3 Indonesia dengan nilai transaksi mencapai US$6 miliar.

Penyelesaian transaksi ini bergantung pada persetujuan dari pemegang saham Ooredoo Group, CK Hutchison, dan Indosat Ooredoo, persetujuan regulator, serta berbagai syarat dan ketentuan. Jika semua persetujuan berhasil didapatkan, maka penggabungan ini diperkirakan akan selesai pada akhir tahun 2021. 

Perusahaan ini akan menjadi perusahaan telekomunikasi terbesar kedua di Indonesia dengan perkiraan pendapatan tahunan hingga US$3 miliar. Perusahaan gabungan akan memiliki skala, kemampuan keuangan, dan keahlian untuk bersaing dengan lebih efektif.

XL Akuisisi Link Net

Sementara XL Axiata dan induk usahanya, Axiata Group Bhd, akan mengakuisisi 66,03 persen saham PT Link Net Tbk (LINK). Melalui akuisisi tersebut, XL dan Axiata Group bakal menjadi pemegang saham pengendali Link Net.

Sekretaris Perusahaan XL Axiata Ranty Astari Rachman menjelaskan, XL dan Axiata menandatangani term sheet yang tidak mengikat (non-binding term sheet) untuk mengambil alih 1,81 miliar (66,03 persen) saham Link Net dari Asia Link Dewa Pte Ltd (CVC Capital Partners) dan PT First Media Tbk (KBLV).

Di sisi lain, Telkom juga tengah mempersiapkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham anak usahanya, PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel). Tidak hanya Mitratel, Telkom juga akan mempersiapkan IPO TelkomSigma untuk menjadi pemimpin di industri data center.

Dampak ke Saham dan Reksadana

Aksi korporasi ini tentunya akan berdampak positif terhadap pergerakan harga saham Indosat, Telkom dan XL Axiata. Berdasarkan data RTI, saham ISAT meningkat 21,15 persen dalam enam bulan terakhir. Sementara saham TLKM melesat 4,49 persen dan EXCL meningkat 34,86 persen dalam enam bulan terakhir.

Peningkatan saham ini juga berimbas pada reksadana saham yang memiliki portofolio saham telekomunikasi. Seperti misalnya, Manulife Saham SMC Plus dari PT Manulife Aset Manajemen Indonesia yang memiliki portofolio saham ISAT dan EXCL.

Dalam setahun terakhir, tingkat pengembalian (return) reksadana Manulife Saham SMC Plus sudah meningkat 33,64 persen.

Selain itu, terdapat pula reksadana BNP Paribas Solaris dari PT BNP Paribas Asset Management. Reksadana tersebut memiliki portofolio saham ISAT dan EXCL dan berhasil membukukan return 18,85 persen dalam setahun terakhir.

Kemudian, reksadana Manulife Saham Andalan yang memiliki portofolio saham TLKM. Reksadana ini berhasil memberikan return 67,65 persen dalam setahun terakhir.

(K09/AM)

​​***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.