Telekomunikasi Naik Saat PDB Minus, Reksadana Ini Punya Saham TLKM, ISAT & EXCL

Lapangan usaha informasi dan komunikasi tumbuh 10,88 persen, saat ekonomi Indonesia minus 5,32 persen di kuartal II 2020
Bareksa • 06 Aug 2020
cover

Petugas memeriksa jaringan base transceiver station (BTS) milik Telkomsel di BTS Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Selasa (5/5). Perawatan rutin tersebut dilakukan guna menjaga agar menara BTS bekerja optimal. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

Bareksa.com - Badan Pusat Statistik mengumumkan perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan II 2020 mencapai Rp3.687,7 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.589,6 triliun.

Secara year on year (YoY) atau dibandingkan kuartal II 2019, ekonomi Indonesia minus 5,32 persen, secara kuartal per kuartal (QtQ) turun 4,19 persen dan secara akumulasi semester I 2020 dibandingkan semester I tahun lalu terkontraksi 1,26 persen.


Sumber : BPS

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto mengatakan kontraksi terjadi pada hampir semua lapangan usaha. Secara YoY dari sisi produksi, lapangan usaha transportasi dan pergudangan mengalami penurunan terdalam yakni 30,84 persen. Kemudian sektor penyediaan akomodasi dan makan minum minus 22,02 persen, serta industri pengolahan yang memiliki peran dominan juga turun 6,19 persen.

Di sisi lain, beberapa lapangan usaha masih mengalami pertumbuhan positif, di antaranya informasi dan komunikasi 10,88 persen; pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang 4,56 persen; dan jasa kesehatan dan kegiatan sosial 3,71 persen. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan juga tumbuh 2,19 persen.


Sumber : BPS

“Ini terjadi karena peningkatan belanja iklan televisi dan media digital, traffic internet. Adanya peningkatan pelanggan internet dan TV interaktif berbayar,” ucap Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Rabu (5/8/2020).

Sektor telekomunikasi yang masih tetap kinclong kinerjanya di kuartal II 2020, di saat ekonomi minus terdampak wabah Covid-19. Kenaikan kinerja sektor ini wajar, seiring kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) oleh pemerintah yang mendorong konsumsi paket data internet masyarakat meningkat untuk kebutuhan bekerja dan belajar dari rumah.

Di sektor telekomunikasi, tiga emiten besar di antaranya adalah PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL). Berdasarkan data Bareksa, kinerja dua saham dari tiga emiten tersebut melesat sepanjang kuartal II 2020. Saham ISAT melesat hingga 47 persen sepanjang periode 1 April hingga 30 Juni 2020. Kemudian saham EXCL juga meroket 42,05 persen di periode yang sama. Hanya saham TLKM yang sepanjang kuartal II tahun ini mencatatkan penurunan 1,61 persen.


Sumber : Bareksa

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal II (Q2) 2020 minus 5,23 persen. Dari berbagai lapangan usaha yang terkontraksi, sebagian tetap tumbuh dan didominasi oleh sektor jasa. Pertumbuhan positif tertinggi di Q2 2020 dicapai oleh sektor informasi dan komunikasi yang menyumbang 4,66 persen struktur PDB. Pertumbuhannya mencapai 10,88 persen tertinggi dari seluruh sektor lapangan usaha di Q2 2020. Pertumbuhannya juga melampaui Q2 2019 yang hanya 9,6 persen. “Ini terjadi karena peningkatan belanja iklan televisi dan media digital, traffic internet. Adanya peningkatan pelanggan internet dan TV interaktif berbayar,” ucap Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Rabu (5/8/2020).

Baca selengkapnya di artikel "Meski Ekonomi Kontraksi, Telekomunikasi Tumbuh 10 % di Q2 2020", https://tirto.id/fVRv

Seiring kinclongnya kinerja sektor telekomunikasi, apa saja produk reksadana yang di dalamnya memiliki portofolio saham tiga emiten tersebut. Berdasarkan daftar reksadana yang tersedia di Bareksa, tercatat ada 43 produk reksadana yang didalamnya memiliki portofolio saham TLKM berdasarkan fund fact sheet Juni 2020. Sedangkan untuk saham ISAT dan EXCL masing-masing dua reksadana.

Daftar Reksadana Beraset Saham TLKM (per Juni 2020)

1. Manulife Dana Saham Kelas A
2. Manulife Greater Indonesia Fund
3. Manulife Saham Andalan
4. Manulife Syariah Sektoral Amanah Kelas A
5. Maybank Dana Ekuitas
6. Mega Asset Greater Infrastructure
7. Mega Asset Maxima
8. MNC Dana Ekuitas
9. MNC Dana Kombinasi Icon
10. MNC Dana Syariah Ekuitas
11. Pinnacle Strategic Equity Fund
12. Prospera Balance
13. Prospera Bijak
14. Prospera BUMN Growth Fund
15. Prospera Saham SMC
16. RHB Alpha Sector Rotation
17. RHB SRI KEHATI Index Fund
18. Schroder 90 Plus Equity Fund
19. Schroder Dana Prestasi
20. Schroder Dana Prestasi Plus
21. Schroder Syariah Balanced Fund
22. Semesta Dana Maxima
23. Semesta Dana Saham
24. Sequis Equity Maxima
25. Setiabudi Dana Campuran
26. Simas Danamas Saham
27. Simas Saham Bertumbuh
28. Simas Saham Unggulan
29. Simas Satu Prima
30. Simas Syariah Berkembang
31. Simas Syariah Unggulan
32. Syailendra Balanced Opportunity Fund
33. Syailendra Equity Opportunity Fund
34. Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund
35. Reksa Dana Syariah Syailendra Sharia Equity Fund
36. TRAM Alpha
37. TRAM Consumption Plus
38. TRAM Infrastructure Plus
39. TRIM Kapital
40. TRIM Kapital Plus
41. TRIM Kombinasi 2
42. TRIM Syariah Berimbang
43. TRIM Syariah Saham

Daftar Reksadana Beraset Saham ISAT (per Juni 2020)
1. BNP Paribas Solaris
2. Principal Total Return Bond Fund

Daftar Reksadana Beraset Saham EXCL (per Juni 2020)
1. Eastspring Investments Alpha Navigator Kelas A
2. Manulife Saham SMC Plus

Sepanjang Juni 2020, kinerja saham TLKM, ISAT dan EXCL juga senada dengan kinerja sepanjang kuartal II. Saham ISAT mencetak kenaikan tertinggi yakni 13.53 persen, disusul EXCL 7,78 persen, sedangkan TLKM minus 6,15 persen.


Sumber : Bareksa

Meskipun kinerja saham TLKM minus pada Juni, namun karena ada prinsip diversifikasi portofolio aset, maka kinerja reksadana dengan portofolio TLKM tidak lantas mesti ikut minus. Hal ini karena di dalam reksadana tersebut tidak hanya ada saham TLKM, namun juga ada saham lain atau obligasi yang akan saling menopang kinerjanya. 

Contohnya kinerja empat produk reksadana Manulife, yakni Manulife Greater Indonesia yang berhasil mencetak return 5,48 persen sebulan pada Juni. Kemudian disusul Manulife Saham Andalan dengan imbal hasil 4,09 persen, Manulife Dana Saham Kelas A (2,66 persen) dan Manulife Syariah Sektoral Amanah Kelas A (2,43 persen).


Sumber : Bareksa

Tidak berbeda, empat produk reksadana yang memiliki portofolio saham ISAT dan EXCL yang melesat pada Juni, juga tidak semuanya dari empat produk reksadana tersebut membukukan imbal hasil positif. Tercatat tiga reksadana yang membukukan imbal positif sepanjang Juni 2020.

Keuntungan tertinggi dicatatkan Manulife Saham SMC Plus dengan imbal hasil 5,54 persen sebulan pada Juni. Kemudian disusul BNP Paribas Solaris dengan imbal hasil 3,98 persen dan Eastspring Investments Alpha Navigator Kelas A dengan return 1,74 persen. Adapun Principal Total Return Bond Fund mencatatkan imbal hasil negatif 1,05 persen. 


Sumber : Bareksa

Adapun dalam jangka waktu 3 bulan terakhir (per 5 Agustus 2020), empat reksadana tersebut membukukan imbal hasil positif. Tertinggi oleh Manulife Saham SMC Plus dengan return 21,96 persen, kemudian disusul BNP Paribas Solaris (18,32 persen), Eastspring Investments Alpha Navigator Kelas A (14,59 persen) dan Principal Total Bond Fund (1,79 persen).


Sumber : Bareksa

Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Simak ulasan tips untuk memaksimalkan keuntungan berinvestasi di reksadana : Tips Menabung di Reksadana Agar Tujuan Investasi Dapat Tercapai

***

Ingin berinvestasi yang aman di reksadana dan diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.