Sejumlah Analis Prediksi Indeks 6.800 di Akhir 2021, Peluang Reksadana Berbasis Saham

Pada Agustus ada short rally dari tanggal 1-18 digerakan emiten big caps
Abdul Malik • 06 Sep 2021
cover

Ilustrasi analis dan manajer investasi sedang memantau pergerakan IHSG dan dampaknya terhadap kinerja reksadana saham dan campuran, serta pengaruhnya ke SBN. (Shutterstock)

Bareksa.com - Pasar modal Tanah Air diproyeksikan lebih bergairah di sisa akhir tahun ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai sejumlah analis bakal meningkat pada kuartal keempat 2021.

CEO Sucor Sekuritas, Bernardus Setya, menjelaskan proyeksi kinerja pasar modal dalam negeri lebih baik pada kuartal terakhir 2021, karena tren ekonomi global yang menunjukkan sebagian besar negara keluar dari zona resesi akibat pandemi Covid-19, tak terkecuali Indonesia.

"Secara konsensus pertumbuhan produk domestik bruto (GDP) Indonesia mencapai 4 persen tahun ini. Proyeksi itu cukup signifikan setelah minus 2 persen pada 2020. Selain itu, optimisme muncul karena dana asing yang masuk ke pasar modal Indonesia di 2021 cukup kuat dibandingkan tahun lalu," ungkapnya dalam acara seminar daring “Riding Out a Market Downturn” yang diselenggarakan oleh D’Origin dan IGICO Advisory (5/9/2021).

Menurut Bernardus, sejak Februari hingga Desember 2020 bursa efek dalam negeri didominasi dengan penjualan bersih oleh investor asing. Puncaknya pada September 2020 penjualan saham oleh investor asing di bursa efek Tanah Air mencapai lebih dari Rp15 triliun. Adapun pembelian saham oleh investor asing pada 2020 hanya terlihat pada Mei yang nilainya masih di bawah Rp10 triliun.

Sedangkan pada 2021, pembelian saham oleh investor asing sangat dominan dengan nilai terbesar terjadi pada Januari mencapai lebih dari Rp10 triliun. Hal itu pun berlanjut dalam kurun waktu empat bulan terakhir yang mendorong geliat IHSG.

“Kami optimistis mengalami recovery setelah kita mengalami kontraksi dalam akibat pandemi Covid-19 yang terjadi sejak 2020. Kami melihat IHSG di kisaran 6.600-6.800 di akhir tahun,” ujarnya.

Di dalam negeri, optimisme pasar terdorong dengan keberhasilan pemerintah menekan laju Covid-19 varian Delta dan masifnya program vaksinasi. Hal itu lantas memutar kembali roda perekonomian lebih kencang. Bernardus memberi gambaran, memasuki semester II utamanya pada September biasanya merupakan bulan berdarah bagi IHSG. Data menyebutkan, pada bulan tersebut pada periode 2018-2020 IHSG masuk zona merah.

Meski begitu, data 2017-2020 yaitu pada Oktober IHSG selalu di zona hijau dan satu tahun di zona merah. Dia menyebut, pasar pada September memang volatile termasuk pada 2021. Tetapi hal itu adalah kesempatan bagus untuk melirik melihat saham apa yang berpotensi dikoleksi ke depan.

Karena itu menurutnya investor tak perlu khawatir menghadapi kondisi pasar di akhir tahun karena kecenderungan pasar yang bullish lebih besar.

“Pada Agustus ada short rally dari tanggal 1-18 digerakan emiten big caps. Dan kami yakin blue chip pada kuartal IV cukup menarik diperhatikan. IHSG mengalami kenaikan dari Oktober sampai Desember ditopang saham blue chip biasanya,” ujarnya optimistis.

Terdorong Stimulus Pemerintah

Senada, Mentor of BBK Trading Tools, Feyara menyatakan optimisme yang kuat di pasar modal Indonesia terdorong pula oleh stimulus pemerintah untuk meningkatkan pemulihan ekonomi. “Ada realisasi Program PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) 2021 yang realisasinya 43,9 persen yaitu Rp326 triliun. Kemudian peningkatan ekonomi triwulan kedua 2021 yang secara tahunan (year on year) naik sekitar 7 persen,’ ujarnya.

Pemerintah melalui PEN, mendorong tingkat konsumsi yang akan menggerakkan sektor rumah tangga pada akhir tahun. Feyara menekankan, dorongan pemerintah atas investasi di sektor publik akan memicu sentimen positif di pasar modal pada kuartal terakhir 2021.

Vice President of Samuel Sekuritas Indonesia, M. Alfatih, mengatakan pandemi Covid-19 memang memukul ekonomi termasuk pasar modal paling keras jika dibandingkan dengan isu global lain sebelumnya. Yaitu seperti Tapering 2013, Brexit, US mini recession, ataupun fenomena perang dagang AS-Tiongkok semasa Presiden Donald Trump berkuasa di Amerika Serikat. Pandemi Covid-19 membuat harga market keluar dari up channel range-nya yang ada sejak 2012.

“Dan sekarang sedang mencoba untuk kembali dalam up channelnya dengan menembus resisten dari 2018 sebelum lanjut tren naiknya. Dan tren naiknya optimistisnya sih Rp8.000, untuk periode beberapa tahun ke depan,” dia menjelaskan.

Karena itu, dia memperkirakan IHSG sekitar 6.800 di pada akhir kuartal keempat 2021, dengan support sekitar 5.800-Rp6.000.

Founder B-Trade TC yang juga Elliot Wave expert, Wijen Pontus, menjelaskan proyeksi IHSG melalui dua skenario yang dianalisa dengan skema Elliot Wave. Skenario pertama dan yang kemungkinan besar terjadi adalah skenario sangat optimistis, di mana IHSG akan break di level 6.200-6.400 dalam jangka waktu sekitar satu bulan ke depan. Dan itu menurutnya adalah level resistensi yang cukup penting.

“Karena saya sangat optimistis maka saya gunakan skenario pertama ini sebagai skenario yang mungkin terjadi. Begitu break di 6.200-6.400 entah minggu depan atau Oktober skenario ini confirm, IHSG artinya akan bullish setahun ke depan. Target kita tahun depan IHSG ke level 6.800 sampai 7.000,” ujarnya optimistis.

Kendati demikian, ada skenario kedua jika IHSG menyentuh level 6.100 dalam waktu dekat. Sehingga pada akhir tahun IHSG bisa kembali di kisaran 5.800."Namun pelaku pasar tak perlu khawatir karena ini adalah kesempatan untuk mengoleksi saham incaran. Di mana harga saham cenderung melandai. Dan jika demikian,  IHSG akan kembali naik pada akhir 2022," ungkapnya.

Potensi Reksadana Saham

Seiring positifnya prediksi kinerja indeks saham Tanah Air hingga akhir tahun, hal itu bisa menjadi peluang bagi reksadana berbasis saham, seperti reksadana saham dan reksadanacampuran.

Menurut data Bareksa, secara year to date, kinerja indeks reksadana saham dan indeks reksadana campuran, baik konvensional maupun syariah, masih underperform dibandingkan kinerja IHSG.

Sepanjang tahun berjalan IHSG naik 2,47 persen (per 3 September 2021), adapun indeks reksadana saham minus 3,88 persen dan indeks reksadana campuran negarif 0,59 persen.

Kondisi itu menunjukkan indeks reksadana saham dan indeks reksadana campuran masih di harga murah dan berpeluang meningkat, jika nantinya kinerja IHSG melesat sesuai prediksi para analis.

Sumber : Bareksa

Meski indeks acuannya masih negatif, namun sejatinya sejumlah produk reksadana saham dan reksadanacampuran di Bareksa, mampu membukukan kinerja mencorong sepanjang tahun berjalan.

Bahkan reksadana campuran besutan Jarvis Asset Management yakni Jarvis Balanced Fund mampu membukukan imbalan 61,67 persen YtD.

Disusul reksadana campuran kelolaan Syailendra Capital yakni Syailendra Balanced Opportunity Fund mencatatkan kenaikan imbalan 26,11 persen dan reksadana saham milik Manulife Aset Manajemen Indonesia yakni Manulife Saham Andalan yang membukukan return 24,79 persen.

Top 10 reksadana campuran dan reksadana saham dengan imbalan tertinggi YtD mencatatkan imbal hasil antara 8,7 persen hingga 61,67 persen.

Dari 10 reksadana tersebut masing-masing diisi 5 reksadana saham dan 5 reksadana campuran.

Top 10 Reksadana Imbalan Tertinggi YtD (per 3 September 2021)

Sumber : Bareksa

Perlu diingat, apapun produk investasi pilihan kamu, selalu sesuaikan dengan tujuan investasi dan profil risiko kamu ya!

​***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.