Ini Penyebab Jumlah Investor Reksadana Melesat, Dominasi SID Pasar Modal

Di tengah gejolak pasar akibat pandemi Covid-19, jumlah investor justru melesat
Abdul Malik • 07 Jul 2021
cover

Ilustrasi perempuan investor yang gembira melihat imbal hasil investasinya di reksadana dan SBN terus tumbuh di tengah gejolak pasar akibat pandemi Covid-19. (Shutterstock)

Bareksa.com - Kinerja pasar modal Indonesia pada paruh pertama tahun ini memang kurang menggembirakan. Bagaimana tidak? Sepanjang semester I 2021, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai tolok ukur pasar saham Tanah Air hanya mampu menorehkan kenaikan tipis 0,11 persen sepanjang tahun berjalan atau secara year to date (YtD).

Kinerja IHSG yang hampir stagnan tersebut utamanya akibat pasar dibayangi lonjakan kasus Covid-19. Kondisi tersebut secara umum berdampak buruk terhadap industri reksadana yang mayoritas menorehkan kinerja negatif.

Berdasarkan catatan Bareksa, reksadana berbasis saham yang mencatatkan kinerja terburuk dibandingkan reksadana jenis lainnya dengan -6,35 persen YtD pada semester I 2021.

Sumber: Bareksa

Kemudian indeks reksadana campuran dan indeks reksadana pendapatan tetap juga ikut mencatatkan kinerja negatif, masing-masing -2,23 persen YtD dan -0,26 persen YtD.

Alhasil sepanjang enam bulan pertama 2021, hanya indeks reksadana pasar uang yang berhasil menorehkan kinerja positif dengan kenaikan 1,63 persen YtD. Namun, di tengah keberagaman imbal hasil reksadana Indonesia, jumlah investor pasar modal Indonesia justru melesat.

Berdasarkan catatan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah Nomor Tunggal Identitas Pemodal atau yang lazim juga disebut dengan Single Investor Identification (SID) yang tercatat pada (KSEI) telah mencapai 9.335.798.

Bareksa menilai peningkatan investor pasar modal Indonesia disebabkan karena tingkat suku bunga yang saat ini tergolong rendah, sehingga membuat investor pada akhirnya mencari alternatif investasi selain deposito yang menawarkan potensi imbal hasil yang lebih tinggi.

Sumber: Press Releases KSEI

Dari 9,34 juta SID yang ada, investor reksadana tercatat mendominasi dengan SID sebanyak 4,83 juta atau setara 51,69 persen.

Menurut pandangan Bareksa, hal ini dapat menjadi sentimen positif bagi pasar modal Indonesia yang menandakan adanya peningkatan partisipasi dari investor ritel sehingga mengurangi ketergantungan pasar modal terhadap investor asing.

Kondisi tersebut diharapkan bisa mengurangi gejolak pasar jika terjadi hal-hal yang membuat investor asing keluar dari pasar modal Indonesia.

Sumber: Press Releases KSEI

Selain mendominasi dari sisi jumlah SID, pertumbuhan investor reksadana juga yang paling signifikan dibandingkan yang lain.

Sejak awal tahun hingga 15 Juni 2021, investor reksadana tercatat mengalami pertumbuhan 51,96 persen YtD, jauh lebih tinggi dari investor Surat Berharga Negara (YtD) dengan 15,44 persen YtD.

Kondisi ini secara tidak langsung memberikan gambaran bahwa instrumen reksadana masih menjadi pilihan bagi masyarakat karena menawarkan berbagai kemudahan bagi para investornya, seperti modal investasi yang sangat terjangkau, imbal hasil yang dapat mengalahkan deposito, dikelola oleh pihak yang profesional, dan sebagainya.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.