Prospek Reksadana Campuran di Tengah Ekonomi Menuju Pemulihan

Prospek reksadana campuran ke depannya akan mengikuti harga obligasi dan saham yang menjadi aset dasarnya
Abdul Malik • 07 May 2021
cover

Ilustrasi investasi di reksadana dana SBN yang terus bertumbuh. (Shutterstock)

Bareksa.com - Bagi yang baru mulai berinvestasi di reksadana, jenis reksadana campuran mungkin merupakan pilihan yang paling ideal. Namun, dibandingkan dengan jenis reksadana lainnya, reksadana campuran mungkin bisa dikatakan paling kurang populer di Indonesia.

Hal tersebut setidaknya tercermin dari jumlah dana kelolaannya, di mana berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret 2021, reksadana campuran memiliki asset under management (AUM) senilai Rp25,73 triliun atau hanya 4,55 persen dari AUM industri yang senilai Rp565,87 triliun.

Sumber: OJK

Nilai tersebut jauh berbeda dengan beberapa jenis reksadana lainnya, sebut saja reksadana pendapatan tetap yang dana kelolaannya Rp139,13 triliun (24,59 persen), kemudian reksadana saham Rp123,71 triliun (21,86 persen), dan reksadana pasar uang Rp91,6 triliun (16,19 persen).

Bagi investor yang tertarik untuk masuk pada reksadana campuran, maka disarankan untuk mengetahui aset dasar mayoritas pada masing-masing produk yang ada, karena akan menentukan kinerja reksadana campuran yang bersangkutan.

Seperti diketahui, porsi investasi di reksadana campuran harus terbagi-bagi ke dalam saham, obligasi, dan pasar uang. Porsi masing-masing instrumen itu maksimal 79 persen dari nilai aktiva bersih reksadana campuran tersebut.

Berdasarkan pantauan Bareksa, sejumlah reksadana campuran memang ada yang telah diatur sedemikian rupa sehingga menegaskan mayoritas aset dasarnya, baik ke saham maupun obligasi.

Sumber: Fund Fact Sheet, diolah Bareksa

Sebagai contoh, salah satu produk reksadana campuran mencatatkan kinerja paling moncer sepanjang tahun berjalan ini dengan kenaikan 10,67 persen year to date (YtD) per 6 Mei 2021 yakni Syailendra Balanced Opportunity Fund tercatat mengalokasikan 46,23 persen dana kelolananya pada saham, kemudian 32,55 persen pada obligasi korporasi dan 21,23 persen pada efek pasar uang.

Dengan begitu, investor dapat mengetahui bahwa dominasi reksadana campuran di atas banyak menaruh dananya pada aset saham, yang berarti ketika pasar saham bangkit ada kemungkinan besar reksadana ini akan ikut terdorong.

Prospek Reksadana Campuran

Adapun prospek reksadana campuran ke depannya secara umum akan mengikuti harga obligasi dan saham yang menjadi aset dasar dari reksadana yang bersangkutan. Salah satu sentimen yang akan mempengaruhi kinerja instrumen ini adalah inflasi di Indonesia dan Amerika Serikat (AS) yang dapat memicu pergerakan harga obligasi.

Selanjutnya, prospek pemulihan ekonomi pada tahun ini juga akan berperan dalam kinerja reksadana campuran.

Seperti diketahui, pada Rabu (5/5/2021), Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tiga bulan pertama 2021. Hasilnya, ekonomi Tanah Air tumbuh -0,96 persen dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter on quarter/QoQ). Sementara dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/YoY), ekonomi Indonesia tumbuh -0,74 persen.

Realisasi ini tidak jauh dari ekspektasi pasar. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan PDB terkontraksi 1,09 persen QoQ, sementara secara tahunan diperkirakan terjadi kontraksi 0,87 persen YoY.

Hasil yang sedikit lebih baik di atas konsensus tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi domestik cukup solid, meskipun masih mengalami kontraksi. Peningkatan pertumbuhan ekonomi terjadi secara konsisten sejak perekonomian menghadapi guncangan akibat pandemi Covid-19 dan mengalami kontraksi pada Triwulan II 2020.

Pemulihan ekonomi yang lebih baik akan berimbas pada hasil keuangan emiten yang lebih baik dan mengerek nilai sahamnya, yang pada akhirnya juga membuat kinerja reksadana yang memiliki aset saham dalam portofolionya ikut menguat.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.