Prospek Reksadana Pendapatan Tetap Dinilai Masih Positif Hingga Akhir Tahun

Hal tersebut seiring mulai melandainya pergerakan imbal hasil obligasi Pemerintah AS atau US Treasury
Abdul Malik • 05 May 2021
cover

Ilustrasi investasi di reksadana pendapatan tetap dan obligasi, baik obligasi korporasi ataupun obligasi pemerintah atau SBN yang terus bertumbuh saat pasar bergejolak. (Shutterstock)

Bareksa.com - Reksadana pendapatan tetap dinilai masih memiliki prospek positif hingga akhir tahun ini, meskipun sempat terkoreksi pada awal tahun. Hal itu terkait adanya potensi penguatan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) Indonesia.

Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto mengatakan prospek investasi di reksadana pendapatan tetap masih sangat positif. Hal tersebut seiring dengan mulai melandainya pergerakan imbal hasil obligasi AS atau US Treasury.

Rudiyanto menjelaskan sampai akhir tahun, yield US Treasury diprediksi akan stabil di kisaran 1,5 persen-1,6 persen. Kondisi itu akan memicu penguatan pada imbal hasil obligasi Indonesia pada rentang 6–6,3 persen.

Menurutnya investor asing telah mencatatkan net buy pada pasar obligasi negara dalam beberapa pekan terakhir. Hal tersebut akan berimbas pada penguatan berkelanjutan pada imbal hasil obligasi Indonesia.

"Yield Indonesia masih sangat menarik dibandingkan negara lain dan dengan rating utang yang stabil. Sehingga, potensi return (imbal hasil) yang didapat investor cukup baik," kata Rudiyanto dilansir Bisnis.com (4/5/2021).

Di sisi lain Rudiyanto memandang, pelemahan tipis pada pasar reksadana pendapatan tetap hanya bersifat sementara. Hal ini didukung oleh keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan sehingga semakin mengurangi sentimen negatif terhadap harga obligasi.

Director & Chief Investment Officer Fixed Income Manulife Aset Manajemen Ezra Nazula mengatakan kondisi pasar obligasi Indonesia akan cukup kondusif sepanjang tahun ini. Hal tersebut akan berimbas positif untuk pasar reksadana pendapatan tetap yang memiliki aset dasar berupa surat utang.

Ia menjelaskan, salah satu sentimen utama yang mendukung prospek reksadana pendapatan tetap adalah rating utang Indonesia yang tergolong stabil. Lembaga pemeringkat S&P beberapa waktu lalu telah mengafirmasi rating utang Indonesia pada BBB dengan outlook negatif.

Selain itu, prospek return optimal dari instrumen reksadana pendapatan tetap juga didukung oleh kebijakan suku bunga rendah yang dipertahankan oleh Bank Indonesia serta data-data makro ekonomi yang suportif.

Selain itu, sentimen-sentimen global yang signifikan juga sudah mulai mereda, seperti pergerakan yield US Treasury. Hal ini akan meningkatkan potensi inflow pada pasar surat utang Indonesia yang turut berdampak pada reksa dana pendapatan tetap,” paparnya dilansir Bisnis.cm Selasa (4/5/2021).

Di sisi lain, Ezra mengatakan masih ada sejumlah sentimen eksternal yang dapat berdampak negatif terhadap reksadana pendapatan tetap. Salah satu sentimen tersebut ialah penyebaran virus corona yang kembali menyeruak di beberapa negara seperti India.

Kendati demikian, ia memandang volatilitas tersebut hanya bersifat sementara. Menurutnya, dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang kuat, potensi keuntungan pada reksadana pendapatan tetap masih baik sepanjang tahun ini.

(Martina Priyanti/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.