Manulife AM : Evaluasi Kinerja Pasar Obligasi 2020 dan Prediksi di 2021

Manulife AM memandang positif potensi pasar obligasi didukung oleh beberapa faktor
Abdul Malik • 21 Dec 2020
cover

Ezra Nazula - Director & Chief Investment Officer, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (Manulife AM)

Bareksa.com - Pasar keuangan dalam negeri tak luput dari dampak pandemi Covid-19 pun sejumlah faktor eksternal lainnya sepanjang tahun 2020. Berikut evaluasi kondisi kinerja pasar pada tahun ini yang tinggal hitungan hari serta potensi tahun depan, menurut Ezra Nazula - Director & Chief Investment Officer, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia dalam keterangan tertulis yang diterima Bareksa, Senin (21/12/2020):

Kinerja pasar obligasi sepanjang tahun ini berhasil mencatatkan kinerja positif meski di tengah kondisi pandemi Covid-19. Faktor apa yang mendukung kinerja pasar obligasi?

Pasar obligasi mencatat kinerja yang baik tahun ini mengacu pada indeks obligasi BINDO per akhir November, pasar obligasi mencatat penguatan 12,68 persen. Dalam kondisi ketidakpastian ekonomi, kelas aset obligasi menjadi salah satu pilihan bagi investor untuk mengurangi tingkat risiko portofolio. Secara umum kinerja pasar obligasi didukung oleh beberapa faktor:

Pertama, tren penurunan suku bunga secara global termasuk di Indonesia. Kondisi ini menjadi iklim yang suportif bagi pasar obligasi, terutama bagi investor yang mencari yield lebih menarik di tengah tren penurunan suku bunga.

Kedua, stimulus dari bank sentral yang meningkatkan likuiditas di sistem finansial. Tingginya likuiditas di sistem finansial meningkatkan permintaan untuk obligasi, karena perbankan yang mengalami kelebihan likuiditas dapat memarkir dananya di obligasi.

Ketiga, bank sentral dan pemerintah yang berhasil menjaga kredibilitas. Peranan otoritas dan regulator dalam menerapkan kebijakan yang tepat dan kredibel sangat penting untuk menjaga keyakinan pasar di tengah kondisi pasar yang volatil.

Secara umum pemerintah dan Bank Indonesia (BI) berhasil melakukan hal tersebut, terlihat dari permintaan investor domestik yang kuat dan investor asing yang mulai kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia.

Bagaimana Anda memandang tahun depan atau 2021? 

Kami melihat 2021 sebagai tahun pemulihan ekonomi, melanjutkan tema dari semester II 2020 di mana data ekonomi mulai menunjukkan perbaikan. Secara makroekonomi kami melihat beberapa faktor yang dapat menjadi tema utama pasar di tahun 2021:

a. Kebijakan moneter dan fiskal tetap akomodatif di pasar global dan domestik untuk mendukung proses pemulihan ekonomi.
b. Kembalinya aliran dana asing ke pasar negara berkembang untuk mencari imbal hasil atau potensi pertumbuhan pada aset finansial negara berkembang di tengah rendahnya tingkat inflasi dan suku bunga bank sentral global.
c. Tren pelemahan dolar AS masih akan berlanjut di 2021 karena kebijakan moneter dan fiskal AS yang tetap akomodatif. Sementara itu fundamental Rupiah tetap baik dengan inflasi rendah, adanya ruang penurunan suku bunga, dan arus dana asing yang mulai kembali masuk sehingga meningkatkan daya tarik obligasi Indonesia walau yield sudah turun di 2020.
d. Permintaan investor lokal untuk obligasi diperkirakan akan tetap suportif di 2021, karena likuiditas pasar yang masih melimpah di tengah kebijakan fiskal dan moneter akomodatif, sementara pertumbuhan kredit masih relatif rendah.
e. Ketersediaan dan distribusi vaksin akan menjadi perhatian pasar yang dapat menjadi katalis bagi pasar, namun juga dapat menjadi faktor risiko.

Apakah masih ada potensi menarik dari pasar obligasi?

Kami memandang faktor-faktor di atas merupakan faktor yang suportif bagi pasar obligasi Indonesia di 2021. Obligasi Indonesia masih menawarkan tingkat real yield yang menarik di antara negara berkembang lain. Sebagai gambaran, real yield obligasi 10 tahun Indonesia saat ini di kisaran 4,6 persen, sementara Filipina -0,5 persen dan India -1,7 persen, yang menjadikan daya tarik tinggi bagi obligasi Indonesia.

Dengan dinamika global dan domestik tersebut kami memproyeksikan imbal hasil obligasi pemerintah 10-tahun dapat berpotensi turun ke level 5,5 persen – 6 persen di 2021, sehingga masih memberikan potensi upside bagi investasi di pasar obligasi.

Bagaimana dampak dari perubahan kepemimpinan AS yakni dengan terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat, terhadap pasar?

Kebijakan dagang dengan konfrontasi menjadi ciri khas era kepemimpinan Presiden Trump, yang tidak direspon positif oleh pasar karena mencipatkan ketidakpastian dan meningkatnya volatilitas. Sementara itu Joe Biden diperkirakan akan mengambil pendekatan yang berbeda dengan Trump, dengan lebih melakukan pendekatan diplomatis dan kerja sama multilateral.

Pendekatan ini diperkirakan akan mengurangi faktor ketidakpastian dan volatilitas di pasar, sehingga menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif, terutama bagi kawasan Asia.  Selain itu, pasar juga mengapresiasi penunjukkan mantan Fed Chair Janet Yellen sebagai Menteri Keuangan. Yellen dianggap dapat berkoordinasi baik dengan The Fed sehingga arah kebijakan fiskal dan moneter dapat lebih selaras dan efektif. Kondisi ini berbeda dengan era Trump di mana Menteri Keuangan Steven Mnuchin dalam beberapa kesempatan memiliki pandangan yang berbeda dengan The Fed. Presiden Trump juga beberapa kali mengeluarkan pernyataan yang berlawanan dengan The Fed yang menimbulkan ketidakpastian bagi pasar.

Secara keseluruhan cara kepemimpinan Trump yang tidak konvensional sering menyebabkan ketidakpastian dan volatilitas di pasar. Sementara itu Joe Biden dianggap sebagai politisi yang lebih konvensional sehingga arah dan komunikasi kebijakan diperkirakan dapat lebih konsisten sehingga mengurangi ketidakpastian di pasar.  Tidak hanya terpilihnya Joe Biden saja yang mengubah sentimen pasar, namun hasil pemilu kongres AS juga diperkirakan suportif bagi sentimen pasar.

Saat ini diperkirakan akan terjadi kondisi split congress – di mana partai Demokrat meraih mayoritas dalam House, sementara partai Republik mayoritas dalam Senate – yang akan menjadi skenario baik bagi pasar. Dengan kondisi split congress ini maka kebijakan fiskal Amerika diperkirakan tetap moderat dan tidak terlalu progresif.

Dalam skenario ini maka defisit fiskal Amerika Serikat dapat lebih terjaga dan tingkat imbal hasil US Treasury dapat tetap pada level yang relatif rendah sehingga meningkatkan appetite untuk obligasi di negara berkembang.

Bagaimana pandangan Anda terhadap risiko rating Indonesia meski lembaga pemeringkat S&P mempertahankan rating BBB bagi Indonesia namun merevisi outlook menjadi negatif pada pertengahan tahun ini ?

Outlook direvisi menjadi negatif bukan karena kondisi fundamental, namun karena risiko kondisi eksternal dan fiskal karena pandemi Covid-19. Untuk memberi dukungan pada ekonomi pemerintah melebarkan target defisit fiskal menjadi 6,3 persen dari sebelumnya yang dibatasi di level 3 persen. Sebetulnya kebijakan ini juga banyak dilakukan negara lain dalam kondisi pandemi saat ini untuk memberi stimulus pada ekonomi.

Dalam pandangan kami pelebaran defisit yang dilakukan pemerintah masih dalam batas wajar. Selama pemerintah bisa menjaga kredibilitas postur fiskal dan komunikasi kebijakan ke pasar dengan baik maka risiko penurunan rating dapat dimitigasi. Kalau kita lihat kondisi Indonesia masih cukup baik karena dapat mempertahankan peringkatnya, sementara negara lain banyak mendapat penurunan rating.

Lembaga pemeringkat Fitch melakukan penurunan rating pada 33 negara di semester I-2020 termasuk Inggris. 

Bagaimana pandangan Anda terhadap obligasi korporasi dan apakah di tengah kondisi ekonomi saat ini pruden bagi investor untuk memiliki eksposur di obligasi korporasi?

Obligasi korporasi masih menarik untuk menjadi bagian dalam portofolio investor karena menawarkan imbal hasil lebih tinggi dibanding obligasi pemerintah dengan tenor sama sehingga dapat menjadi kicker tambahan bagi kinerja portofolio. Selaras dengan pergerakan pasar obligasi pemerintah, obligasi korporasi juga bisa menangkap upside dari potensi penurunan yield obligasi.

Namun, investor harus memperhatikan risiko gagal bayar pada obligasi korporasi, yang dapat terjadi apabila kondisi keuangan emiten tidak sehat. Untuk memitigasi risiko ini analisa fundamental menjadi sangat penting dalam pemilihan obligasi korporasi. Oleh karena itu secara internal kami memiliki tim analis yang berpengalaman dan secara reguler melakukan pemantauan pada emiten yang ada dalam portofolio kami untuk memastikan kondisi emiten tetap sehat. 

Bagaimana filosofi pengelolaan portofolio Anda?

Kami memiliki filosofi pengelolaan portofolio secara aktif yang dilakukan berdasarkan riset fundamental. Filosofi ini memberi fleksibilitas untuk menyesuaikan posisi portofolio dengan kondisi pasar terkini sehingga mendapatkan risk-return tradeoff yang optimal. Kami juga memanfaatkan jaringan global Manulife Investment Management untuk mendapat pandangan dari analis lokal terkait kondisi pasar dan sentimen investor global yang dapat mempengaruhi risk appetite pasar obligasi Indonesia.

Strategi apa yang Anda terapkan untuk mendapat alpha dalam kondisi pasar saat ini? 

Untuk saat ini kami masih memandang positif potensi pasar obligasi, didukung oleh beberapa faktor seperti tingkat imbal hasil riil obligasi Indonesia yang masih menarik, potensi arus dana asing yang kembali ke negara berkembang termasuk Indonesia, tingkat suku bunga yang tetap akomodatif, dan likuiditas di pasar finansial yang tinggi dapat memberi support untuk pasar obligasi.

Posisi durasi portofolio overweight terhadap tolok ukur untuk menangkap alpha bagi portofolio.

(Martina Priyanti/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

​DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.