IHSG Berpeluang Tembus 6.800 Tahun Depan, Potensi Reksadana Saham

Level ini setara dengan price to earning ratio (PER) 17,4 kali dan earning per share (EPS) growth 30 persen
Abdul Malik • 15 Dec 2020
cover

Pekerja berjalan di dekat monitor pergerakan bursa saham saat pembukaan perdagangan saham tahun 2020 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (2/1/2020). Pada awal perdagangan pertama tahun 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka naik 0,22 persen atau 13,59 poin di level 6.313,13. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj)

Bareksa.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tahun depan berpeluang menguat dan menembus angka 6.800. Hal ini seiring dengan perbaikan kinerja IHSG dan juga derasnya arus modal asing yang masuk. Analis PT Philip Sekuritas Anugerah Zamzami menjelaskan, IHSG diperkirakan akan bergerak ke level 6.820 pada tahun depan. Level ini setara dengan price to earning ratio (PER) 17,4 kali dan earning per share (EPS) growth 30 persen.

"Peningkatan IHSG dipengaruhi oleh bertumbuhnya laba di sektor perbankan, telekomunikasi, tambang dan material," kata dia di Jakarta, Senin (14/12).

Sementara tahun ini, IHSG diperkirakan akan ditutup di level 6.098. Hal ini seiring dengan meningkatnya partisipasi investor domestik serta ekspektasi pemulihan ekonomi pada tahun depan. Sentimen lainnya adalah dari window dressing untuk laporan keuangan emiten tahun 2020.

Menurut Zamzami, efek window dressing ini sudah terasa sejak awal pekan Desember 2020. "Namun untuk pekan depan, sepertinya lebih sepi karena pekan pendek dan sudah menuju libur akhir tahun," terang dia.

Sektor Saham yang Bersinar

Dengan peningkatan IHSG tersebut, ada beberapa sektor saham yang akan bersinar pada tahun depan. Sektor saham tersebut adalah di sektor perbankan, seiring dengan peningkatan permintaan kredit, likuiditas yang banyak, dan peningkatan laba perbankan. Kemudian, sektor telekomunikasi juga akan meningkat karena peningkatan tarif data dan omnibus law. Sektor lain yang juga akan berkembang adalah industri semen dan konstruksi karena meningkatnya anggaran infrastruktur dan multiplier effect dari proyek infrastruktur.

Sektor komoditas, menurut Zamzami juga akan menguat karena adanya siklus initial recovery yang mendukung harga komoditas, pembentukan holding baterai dan gasifikasi batubara. Sektor agribisnis dinilai juga akan bersinar karena meningkatnya permintaan sawit dan gangguan pasokan sawit akibat la nina.Lebih lanjut,

PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada 2021 bisa menembus angka 6.880. Hal ini seiring dengan pulihnya kinerja IHSG dan kembalinya arus modal asing ke Indonesia. Kepala Divisi Riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia Hariyanto Wijaya mengatakan, kinerja IHSG diperkirakan akan pulih pada 2021 dengan target earning 25 persen secara tahunan.

"Pada 2020, earning growth IHSG mencapai -24 persen secara tahunan," ujar dia.

Selain itu, peningkatan IHSG ditopang juga oleh derasnya arus modal asing yang masuk ke Indonesia, setelah sebelumnya modal ini banyak yang keluar dari Indonesia. Derasnya arus modal asing yang masuk disebabkan kinerja IHSG yang masih minus secara year to date (ytd).

"Kinerja IHSG yang masih minus menarik investor asing untuk masuk karena mereka mencari negara dengan return yang attractive," ucap dia.

Valusasi IHSG

Dari segi valuasi, IHSG juga masih tergolong murah yakni price to earning ratio (PER) sebesar 15,3 kali. Begitupun dengan earning per share (EPS) growth Indonesia yang cenderung tinggi, yakni 30 persen yang juga menjadi daya tarik bagi investor asing.

Potensi meningkatnya arus modal asing ini, menurut Hariyanto bisa berpotensi membawa IHSG ke level lebih tinggi dari base case scenario di level 6.880. Secara bull case scenario, IHSG bisa berada di posisi 7.150 pada akhir 2021.

"Bull case scenario bisa tercapai jika earning growth pada 2021 bisa mencapai 30 kali dengan PER 16,5 kali atau sama dengan periode sebelum Covid-19. Selain itu, disebabkan juga oleh implementasi dari Omnibus Law yang diharapkan bisa membawa lebih banyak modal asing," papar dia.

Namun demikian, IHSG pada 2021 juga berpotensi mengalami penurunan ke level 5.150. Menurut Hariyanto, penurunan IHSG pada 2021 bisa terjadi jika pandemi Covid-19 berlangsung lebih lama sehingga earning growth IHSG hanya mencapai 10 persen. Kekhawatiran akan pandemi Covid-19 yang berkepanjangan ini juga menyebabkan arus modal asing kembali keluar dari Indonesia.

Di tengah optimisme akan kenaikan IHSG ini, Hariyanto menilai, sektor komoditas akan menjadi unggulan pada tahun depan. Kembali meningkatnya aktivitas manufaktur Tiongkok menjadi faktor yang mendorong hal tersebut. Pasalnya, Tiongkok sebagai negara tujuan utama ekspor banyak membeli komoditas dari Indonesia.

Terlebih lagi, nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah diperkirakan akan melemah pada tahun depan. Pelemahan nilai tukar Dolar AS ini berpengaruh positif terhadap harga komoditas.

Peluang Reksadana Saham

Dengan peningkatan IHSG tersebut, investor bisa langsung berinvestasi di saham atau membeli produk reksadana berbasis saham. Di Bareksa terdapat 75 reksadana saham yang bisa dipilih.Dari 75 produk tersebut, ada empat produk yang bisa memberikan tingkat imbal hasil di atas 20 persen dalam 3 tahun.

Keempat produk tersebut adalah Sucorinvest Sharia Equity Fund, Sucorinvest Maxi Fund, Shinhan Equity Growth dan Sucorinvest Equity Fund.

NAV Reksadana Saham

Sumber : Bareksa

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

​DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.