Mendorong Santri Melek Investasi, Kinerja Reksadana Syariah Cemerlang Saat Pandemi

Pangsa pasar reksadana syariah pada September 2020 meningkat jadi 14,04 persen
Abdul Malik • 22 Oct 2020
cover

Sejumlah santri mengikuti kegiatan doa Istighosah di Pondok Pesantren An-Nuqthah, Kota Tangerang, Banten, Kamis (22/10/2020). Kegiatan tersebut digelar untuk memperingati Hari Santri Nasional dengan tema "Santri Sehat, Indonesia Kuat" yang jatuh pada hari ini. ANTARA FOTO/Fauzan/nz

Bareksa.com - Hari ini, Kamis, 22 Oktober adalah Hari Santri Nasional yang dirayakan sejak lima tahun lalu, sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan, Undang Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, menyatakan pesantren memiliki posisi strategis yakni sebagai lembaga pendidikan, lembaga dakwah, sekaligus lembaga pemberdayaan masyarakat.

“Dalam melaksanakan fungsi pemberdayaan masyarakat, pesantren berorientasi pada peningkatan kesejahteraan pesantren dan masyarakat sekitarnya,” ujar Ma'ruf saat meresmikan program Akselerasi Ekonomi Kerakyatan Berbasis Pesantren dan Komunitas dalam Rangka Memperingati Hari Santri Nasional, secara virtual Kamis (22/10/2020).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga memberikan pesan mengajak para santri dan pesantren untuk gotong royong membantu pemerintah dalam mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19. Dia mengalokasikan anggaran Rp2,6 triliun untuk memulihkan perekonomian di pesantren akibat tertekan pandemi Covid-19. Alokasi itu tidak hanya bagi pesantren, tapi juga pendidikan keagamaan yang dialokasikan Rp2,38 triliun.

"Pemerintah memberikan alokasi hingga Rp2,6 triliun dalam rangka menyiapkan pesantren, untuk bisa beradaptasi terhadap kebiasaan baru akibat adanya pandemi Covid-19 atau new normal," ujarnya di acara yang sama.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyatakan BI mendorong potensi pesantren dalam menggerakkan ekonomi syariah nasional secara inklusif. Sebab pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga pusat kegiatan ekonomi. Untuk mendorong peran pesantren, BI mengimplementasikan berbagai program penguatan dalam peta jalan program pengembangan kemandirian ekonomi pesantren pada 2017-2025.

Peta jalan itu meliputi pengembangan dan replikasi model bisnis usaha syariah di pesantren, standardisasi laporan keuangan pesantren, pengembangan platform digital, platform pasar virtual, pengembangan hingga pembentukan holding ekonomi dan bisnis pesantren nasioanal.

Santri Melek Investasi

Seiring dorongan pemerintah agar pondok pesantren mereplikasi implementasi ekosistem pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, maka sudah semestinya santri juga melek investasi, salah satunya di reksadana syariah. Salah satu manajer investasi yang gencar melakukan edukasi investasi reksadana kepada para santri adalah PT Ciptadana Asset Management.

Bekerja sama dengan Nahdlatul Ulama (NU), Ciptadana AM mengembangkan produk-produk reksadana syariah, salah satu contohnya reksadana campuran Cipta Nusantara Syariah Berimbang. Reksadana yang diluncurkan pada Juni 2016 tersebut membukukan imbal hasil positif 0,95 persen setahun terakhir, di tengah gejolak pasar modal akibat pandemi Covid-16.

Sumber : Bareksa

Positifnya kinerja reksadana syariah di tengah pandemi, senada dengan data Otoritas Jasa Keuangan, yang menunjukkan dana kelolaan reksadana syariah terus melesat sepanjang tahun ini. Peningkatan itu bahkan di tengah penurunan dana kelolaan secara total industri akibat dampak pandemi.

Sumber : OJK

Data OJK menyebut, dana kelolaan reksadana syariah melesat hingga 33,3 persen secara year to date hingga September 2020 jadi Rp71,65 triliun dibandingkan akhir tahun lalu Rp53,74 triliun. Jumlah produk reksadana syariah YtD juga bertambah 7,2 persen jadi 284 produk dibandingkan akhir 2019 yang sebanyak 265 produk.

Peningkatan tersebut terjadi saat total dana kelolaan industri reksadana nasional masih tertekan 6 persen YtD jadi Rp510,15 triliun akibat pandemi. Walhasil, pangsa pasar reksadana syariah pada September 2020 meningkat jadi 14,04 persen, dari 9,91 persen pada Desember 2019. Pada Agustus lalu, pangsa pasar reksadana syariah masih 13,4 persen.

Kinerja Reksadana Syariah

Bagaimana kinerja produk-produk reksadana syariah sepanjang tahun ini? Berdasarkan daftar produk reksadana yang tersedia di Bareksa, terdapat 41 produk reksadana syariah, di mana 19 produk di antaranya membukukan kinerja positif sepanjang tahun ini.

Dalam daftar top 10 produk reksadana syariah imbal hasil tertinggi year to date per 21 Oktober 2020, mayoritas atau 5 di antaranya ditempati reksadana pendapatan tetap syariah. Kemudian tiga lainnya reksadana pasar uang dan 2 reksadana saham.

Hal ini dimaklumi, karena seiring dampak pandemi, sepanjang tahun ini reksadana berbasis saham tertekan cukup dalam. Adapun reksadana pendapatan tetap yang portofolio investasinya mayoritas di efek bersifat utang, dan reksadana pasar uang yang berinvestasi di instrumen pasar uang cenderung tahan banting saat pandemi.

Dua reksadana saham syariah yang membukukan imbal hasil positif YtD tersebut pun merupakan reksadana saham syariah global dengan mata uang dolar AS. 10 reksadana tersebut membukukan imbal hasil antara 4,32 persen hingga 9,59 persen. Selengkapnya dalam tabel berikut :

Daftar 10 Reksadana Syariah Return Tertinggi YtD (per 21 Oktober 2020)

Sumber : Bareksa

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.