Cocok Bagi Investor Pemula, Lihat Kinerja Dua Reksadana Indeks Ini

Kedua produk itu mengalahkan benchmarknya
Bareksa • 05 Dec 2019
cover

Pengunjung menyaksikan layar pergerakan angka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Bareksa.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,34 persen pada perdagangan Rabu, 4 Desember 2019 ke level 6.112,88. IHSG secara year to date telah terkoreksi 1,32 persen.

Penurunan IHSG sepanjang tahun ini tidak lepas dari beberapa saham-saham unggulan yang tergabung di indeks LQ45 maupun IDX30. Indeks LQ45 sudah terkoreksi 0,88 persen secara ytd, sementara IDX30 minus 1,51 persen.

Indeks LQ45 dan IDX30 sendiri menjadi pilihan beberapa manajer investasi sebagai acuan dalam meramu produk reksadana. Seperti Reksadana Kresna Indeks 45 dan reksadana Indeks Avrist IDX30.

Reksadana indeks adalah reksadana yang dikelola untuk mendapatkan hasil investasi yang mirip dengan suatu indeks yang dijadikan acuan, baik itu indeks obligasi maupun indeks saham.

Dalam pengertian lain, reksadana indeks juga bisa diartikan sebagai jenis reksadana yang kinerjanya mengacu pada indeks tertentu, bisa indeks saham bisa juga indeks obligasi. Meski demikian, cara kerjanya berbeda dengan reksadana konvensional yang berfokus pada saham dan obligasi.

Berbeda dengan reksadana konvensional yang berusaha mengalahkan kinerja tolok ukurnya (benchmark), justru target dari reksadana indeks adalah menyamainya. Jadi, daripada dikelola secara aktif, pendekatan dari reksadana indeks adalah secara pasif dengan menyusun portofolio investasi menyerupai indeks acuannya.

Karena komposisinya mirip atau bahkan sama persis dengan indeks acuannya, hasilnya juga tentunya akan mirip dengan indeks acuannya. Cara ini dikenal pula dengan strategi pengelolaan pasif (passive management strategy).

Dengan karakter seperti itu, lalu bagaimana dengan kinerja Kresna Indeks 45 dan Avrist IDX30? Berikut ulasannya :

Kresna Indeks 45

Produk ini adalah racikan Kresna Asset Management yang lahir pada 14 Oktober 2008. Kehadiran Kresna Indeks 45 bertujuan memberikan hasil investasi yang setara dengan kinerja Indeks LQ45. Indeks LQ45 adalah indeks yang dipublikasikan dan dihitung oleh Bursa Efek Indonesia.

Saat ini, Kresna Indeks 45 sudah mencatat dana kelolaan atau asset under management (AUM) Rp250,72 miliar dengan NAB per unit Rp4.356,69.

Secara YtD, return Kresna Indeks 45 dalam posisi minus 0,23 persen. Return ini justru lebih baik dari benchmarknya yakni indeks LQ45 yang minus 0,88 persen.

Sumber: Bareksa.com

Kresna Indeks 45 ini punya kebijakan investasi minimum 80 persen dan maksimum 100 persen pada Efek ekuitas yang terdaftar di Indeks LQ45, serta minimum 0 persen dan maksimum 20 persen pada instrumen pasar uang dan/atau efek pendapatan tetap dan/atau efek ekuitas lainnya dan/atau efek derivatif seperti rights, warrant, futures, kontrak opsi dan efek derivatif lainnya yang sudah maupun yang akan diterbitkan di Bursa Efek.

Avrist IDX30

Reksadana racikan Avrist Asset Management ini masih berusia muda. Lahir pada 18 Desember 2017, Avrist IDX30 sudah mengelola dana Rp116,61 miliar.

Reksadana Indeks Avrist IDX30 bertujuan untuk berinvestasi pada perusahaan dengan kapitalisasi saham besar, likuiditas tinggi,dan kondisi keuangan yang baik, yang masuk ke dalam Indeks IDX30 serta memberikan hasil investasi yang setara dengan kinerja Indeks IDX30.

Kini, Avrist IDX30 punya return minus 1,05 persen secara YtD. Namun return tersebut masih lebih baik ketimbang benchmarknya IDX30 yang minus 1,51 persen. Adapun NAB per unit saat ini adalah Rp945.

Sumber: Bareksa.com

Avrist IDX30 punya kebijakan investasi minimum 80 persen dan maksimum 100 persen dari nilai aktiva bersih pada pada efek bersifat ekuitas dan minimum 0 persen dan maksimum 20 persen dari nilai aktiva bersih pada efek bersifat utang dan/atau instrumen pasar uang dalam negeri.

Sebagai informasi, Wakil Ketua I Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII) Hanif Mantiq pernah menyampaikan, investor pemula sebaiknya diarahkan ke reksadana berbasis indeks dan exchange trade fund (ETF) yang tingkat tracking errornya terhadap benchmark cukup tinggi.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.