IHSG Menguat 0,98 Persen Sepekan, Tiga Reksadana Campuran Ini Melesat

Indeks reksadana campuran naik 0,7 persen dan indeks reksadana campuran syariah bertambah 0,68 persen
Bareksa • 28 Oct 2019
cover

Karyawan beraktivitas di dekat grafik pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (2/8/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 41.36 poin atau 0,65 persen ke level 6,340.18. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.

Bareksa.com - Mengakhiri pekan keempat di bulan Oktober 2019, kinerja pasar saham Indonesia terlihat sangat positif, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu menguat 0,98 persen secara mingguan ke level 6.252,35 pada penutupan perdagangan Jumat (25/10/2019).

Sebagai informasi, IHSG berhasil reli 10 hari beruntun dengan terus menerus finish di zona hijau sejak 10 Oktober 2019. Kalau dicermati hari itu jadi hari penting perekonomian global seiring dengan diselenggarakannya negosiasi dagang Amerika Serikat dengan China di Washington.

Hasil sementara dari negosiasi dagang tersebut mengisyaratkan kedua belah pihak menginginkan untuk mengakhiri perang dagang yang berlangsung kurang lebih dalam 15 bulan terakhir.

Beberapa poin yang ada dalam kesepakatan tersebut adalah Amerika Serikat menunda penetapan tarif impor produk China yang akan dikenakan pada 15 Oktober kemarin. Sementara China berjanji untuk membeli produk-produk pertanian AS.

Sempat menimbulkan kebingungan terkait kejelasan dari hasil negosiasi dagang tersebut. Respons positif Washington dan Beijing cukup membawa angin segar bagi mayoritas bursa Asia.

Presiden AS, Donald Trump dan Presiden China, Xi Jinping akan dijadwalkan bertemu di KTT APEC pertengahan November nanti di Chile. Saat ini kedua negara sedang mempersiapkan detail dokumen kesepakatan untuk ditandatangani kedua kepala negara.

Tidak hanya sampai di situ, IHSG menyambut positif momen yang terjadi lima tahun sekali. Apalagi kalau bukan Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI bersama jajaran eksekutifnya yaitu menteri.

Pelantikan jajaran Kabinet Indonesia Maju, mampu membawa IHSG melaju kencang. Apalagi setelah nama-nama tersohor dari kalangan pebisnis diangkat jadi menteri seperti Erick Thohir (Pendiri Mahaka Group) yang menjadi menteri BUMN, Nadiem Makarim (Founder dan Ex-CEO Go-Jek) yang menjadi Mendikbud hingga Wishnutama (Pendiri NET TV) yang jadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Kondisi bursa saham domestik yang bergerak ke zona hijau, turut memberikan sentimen positif terhadap kinerja reksadana campuran,di mana indeks reksadana campuran naik 0,7 persen dan indeks reksadana campuran syariah bertambah 0,68 persen dalam periode yang sama.

Pergerakan NAB Indeks Reksadana Campuran dan Indeks Reksadana Campuran Syariah Sepekan


Sumber: Bareksa

Di tengah kondisi indeks reksadana campuran yang bergerak positif, terdapat tiga produk reksadana campuran yang dijual Bareksa yang mampu membukukan kenaikan tertinggi sepanjang pekan lalu. Berikut ulasannya.

1. Semesta Dana Maxima

Reksadana campuran pertama yang mencatatkan imbal hasil tertinggi pada pekan lalu diraih oleh Semesta Dana Maxima dengan kenaikan 1,65 persen periode 21-25 Oktober 2019. Sejak awal tahun hingga akhir pekan lalu (year to date), reksadana campura ini tercatat sudah naik 3,01 persen YtD.

Pergerakan NAB Reksadana Semesta Dana Maxima secara YtD 2019 (per 25 Oktober)


Sumber: Bareksa

Semesta Dana Maxima bertujuan untuk memperoleh hasil investasi yang optimal dengan memanfaatkan seluruh instrumen investasi di pasar modal yaitu surat utang maupun efek ekuitas dan instrumen investasi di pasar uang.

Produk yang dikelola oleh PT Semesta Aset Manajemen ini, hingga September 2019 memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) senilai Rp24,09 miliar.

Semesta Dana Maxima dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp100.000. Reksadana campuran yang diluncurkan sejak 8 Oktober 2004 ini bekerja sama dengan bank kustodian PT Bank Danamon Indonesia Tbk.

2. Pratama Berimbang

Reksadana campuran kedua yang mencatatkan imbal hasil tertinggi sepanjang pekan lalu diraih oleh Pratama Berimbang dengan kenaikan 1,53 persen periode 21-25 Oktober 2019. Namun, bila dilihat secara YTD per 25 Oktober 2019, reksadana campuran ini masih minus 2,94 persen YtD.

Pergerakan NAB Reksadana Pratama Berimbang YtD 2019 (per 25 Oktober)


Sumber: Bareksa

Pratama Berimbang bertujuan untuk memberikan hasil investasi yang optimal dan dapat memberikan pendapatan yang tinggi, yang diukur dengan perhitungan peningkatan nilai modal (capital gain) yang konsisten dari hasil pengelolaan yang konservatif dan prudent dengan pola investasi berjangka panjang

Produk yang dikelola oleh PT Pratama Capital Assets Management ini, hingga September 2019 memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) senilai Rp14,37 miliar.

Pratama Berimbang dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp100.000. Reksadana campuran yang diluncurkan sejak 6 April 2005 ini bekerja sama dengan bank kustodian PT Deutsche Bank AG.

3. Setiabudi Dana Campuran

Reksadana campuran ketiga yang mencatatkan imbal hasil tertinggi sepanjang pekan lalu diraih oleh Setiabudi Dana Campuran dengan kenaikan 1,46 persen periode 21-25 Oktober 2019. Namun, bila dilihat secara YTD per 25 Oktober 2019, reksadana campuran ini tercatat baru naik 2,9 persen YtD.

Pergerakan NAB Reksadana Setiabudi Dana Campuran YtD 2019 (per 25 Oktober)


Sumber: Bareksa

Setiabudi Dana Campuran bertujuan untuk memperoleh tingkat pengembalian yang optimal dalam jangka menengah panjang dengan peningkatan modal dan penghasilan melalui investasi kedalam efek bersifat ekuitas dan efek bersifat utang serta dapat berinvestasi pada instrumen pasar uang dengan berpegang pada proses investasi yang sistematis dan memperhatikan risiko investasi.

Produk yang dikelola oleh PT Setiabudi Investment Management ini, hingga September 2019 memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) senilai Rp28,16 miliar.

Setiabudi Dana Campuran dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp1.000.000. Reksadana campuran yang diluncurkan sejak 25 September 2017 ini bekerja sama dengan bank kustodian PT Bank Central Asia Tbk.

Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Reksadana campuran adalah reksadana yang melakukan investasi pada efek bersifat ekuitas, utang, dan/atau instrumen pasar uang dalam negeri yang masing-masing paling banyak 79 persen (tujuh puluh sembilan persen) dari nilai aktiva bersih.

Dalam portofolio reksadana tersebut wajib terdapat efek bersifat ekuitas dan efek bersifat utang. Jenis Reksadana ini cocok untuk investasi dengan jangka waktu 3 - 5 tahun dan/atau cocok untuk investor dengan profil risiko moderat.

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.