Kado Hari Anak Nasional, Siapkan Biaya Pendidikan Buah Hati dengan Reksadana

Salah satu alternatif untuk menumbuhkan uang kita adalah dengan berinvestasi di reksadana
Bareksa • 24 Jul 2019
cover

Ilustrasi pendidikan anak dengan orang tua sedang membacakan buku untuk anak

Bareksa.com - Hari Anak Nasional, yang diperingati setiap tanggal 23 Juli, ditujukan untuk meningkatkan kesadaran tentang hak-hak anak terkait perawatan dan pendidikan mereka. Sebagai orang tua, tentu kita inginkan yang terbaik bagi anak-anak kita, terutama soal pendidikan mereka.

Pendidikan terbaik tentu tidaklah murah, seperti halnya di sekolah-sekolah swasta yang ada di Jakarta. Misalnya, di tahun ajaran 2019/2020, sekolah dasar yang berbasis Islam ada yang mematok uang pangkal mulai dari Rp30 juta. Kemudian ada juga sekolah dasar berbasis internasional yang menetapkan uang pangkal Rp99 juta.

Biaya tersebut terlihat besar kalau kita tidak mempersiapkannya. Sebagai orang tua kita pasti punya tabungan, tetapi kalau uangnya hanya disimpan di celengan atau di bank saja apakah cukup?

Salah satu alternatif untuk menumbuhkan uang kita adalah dengan berinvestasi di reksadana. Reksadana adalah kumpulan dana investor yang dikelola oleh manajer investasi dan dimasukkan ke dalam berbagai aset, seperti pasar uang, obligasi dan saham.

Reksadana mendapatkan imbal hasil (return) dari pertumbuhan nilai aset-aset yang ada di dalam portofolionya. Imbal hasil ini potensinya lebih tinggi dibandingkan dengan deposito atau tabungan bank.

Untuk memahami keuntungan reksadana ini, mari kita gunakan simulasi Bareksa yang berdasarkan data historikal. Reksadana yang bisa dipilih untuk jangka panjang di atas 5 tahun berjenis reksadana saham.

Simulasi Reksadana

Misalkan kita mulai berinvestasi Rp100.000 sejak 5 tahun lalu di salah satu reksadana saham yang tersedia di marketplace investasi Bareksa, Sucorinvest Equity Fund. Setiap bulan, kita menambah (top up) reksadana kita sebesar Rp330.000 atau setara Rp11.000 per hari selama 5 tahun.

Tidak terasa, hingga kini total modal atau uang pokok yang kita tanamkan Rp19,9 juta. Namun, karena dibelikan reksadana, nilai tersebut tumbuh sehingga mencapai Rp31,01 juta per 22 Juli 2019. Artinya ada pertumbuhan Rp11,11 juta atau setara 55,84 persen dari uang pokok kita.

Untuk lebih jelasnya, lihat grafik berikut ini. Garis hijau menunjukkan modal atau uang pokok kita dan garis abu-abu menampilkan hasil investasi kita.

Grafik Simulasi Investasi Reksadana Saham


Sumber: Bareksa

Berdasarkan hasil simulasi tersebut, uang yang kita kumpulkan saat ini sudah mencapai Rp31 juta atau cukup untuk membayar uang pangkal di SD swasta di Jakarta. Tidak perlu khawatir lagi dengan pendidikan anak kita.

Mengapa reksadana bisa untung?

Reksadana yang digunakan dalam simulasi ini adalah jenis saham, yang mayoritas asetnya adalah saham. Bila harga saham-saham dalam reksadana ini meningkat, tentu nilai aktiva bersih (NAB) per unit reksadana ini juga turut naik.

Untuk investor jangka panjang dan memiliki profil risiko tinggi, produk reksadana saham ini bisa menjadi pilihan investasi. Sesuai karakteristiknya, reksadana saham berisiko naik turun dalam waktu dekat tetapi berpotensi tumbuh tinggi dalam jangka panjang.

Untuk kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko Anda.

Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(AM)

***

Ingin berinvestasi di reksa dana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksa dana, klik tautan ini
- Pilih reksa dana, klik tautan ini
- Belajar reksa dana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.