Riset Sucor AM : 4 Hal Paling Mempengaruhi Pasar Pekan Ini

Empat hal tersebut di antaranya kekhawatiran dampak tapering off atau pengurangan stimulus oleh Bank Sentral Amerika Serikat
Abdul Malik • 25 Aug 2021
cover

Jemmy Paul Wawointana, Presiden Direktur PT Sucorinvest Asset Management saat berbicara dalam acara market outlook di Jakarta (www.sucorinvestam.com)

Bareksa.com - PT Sucorinvest Asset Management menyampaikan pandangannya terhadap beberapa peristiwa penting yang paling diamati oleh pelaku pasar maupun perusahaan manajemen investasi dalam mengelola portofolio investasinya.

Dalam Sucor Asset Management Weekly Insight edisi 23 Agustus 2021, Sucor AM menjabarkan empat hal penting tersebut mulai kekhawatiran dampak tapering off atau pengurangan stimulus oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed, tren rupiah yang tampak makin kurang tergantung dan tahan banting dibandingkan dolar AS, perkembangan bank digital dan kasus Covid-19 di Tanah Air.

Berikut ulasan Sucor AM :

1.Tapering off The Fed

Menurut Sucor AM, pertemuan tahunan The Fed (simposium yang biasanya dilaksanakan di Jackson Hole, namun tahun ini akan secara virtual) kembali menjadi perhatian utama bagi pasar minggu ini, khususnya untuk membaca sinyal perubahan kebijakan yang akan diambil pada awal September mendatang.

Keadaan makro ekonomi AS sudah memanas akibat inflasi yang tinggi, namun kontradiktif dengan sejumlah proyeksi pemulihan ekonomi yang melambat dibayangi perkembangan kasus harian varian delta covid-19 kembali naik.

Hal ini mendorong pasar menilai tapering (pengurangan pembelian aset) berpotensi dilaksanakan lebih cepat karena inflasi dikhawatirkan akan dapat mencapai level yang tidak terkendali apabila pelonggaran kebijakan moneter berlangsung terlalu lama. Secara historikal, pertemuan ini diiringi dengan kenaikan pada indeks volatilitas, sehingga pelaku pasar akan mengambil posisi yang lebih defensif hingga keadaan mulai lebih stabil.

Di masa transisi ini, nilai imbal hasil obligasi 10 tahun AS terlihat masih stabil di level 1,25 persen, harga emas dunia juga stabil di atas US$1,800 per ounce.

Sedangkan, harga komoditas termasuk minyak dunia, batu bara, timah, dan lainnya ikut tertekan akibat indeks dolar yang naik dan ekspektasi permintaan global yang lebih rendah, terutama karena melandainya pertumbuhan industri di Asia.

"Meskipun berbulan-bulan pasar global dihantui oleh kekhawatiran akan tapering yang disertai dengan pertumbuhan ekonomi AS yang sangat tinggi, kami menilai bahwa The Fed telah melakukan komunikasi dan mengisyaratkan langkah cooling down pada ekonomi yang jauh lebih baik dibandingkan periode 2013 lalu," ungkap Sucor AM.

Usaha agar taper tantrum tidak kembali terjadi di Asia, termasuk Indonesia, juga tercermin pada pergerakan pasar yang sejalan beriringan dengan penyataan The Fed.

Selain itu kesiapan investor yang lebih matang dan struktur pasar emerging markets (pasar negara berkembang) yang lebih didominasi investor domestik apabila dibandingakan dengan 2013 berpotensi dapat meredam panic-selling dan arus dana keluar dari emerging markets yang tinggi.

Posisi neraca Indonesia yang positif serta kestabilan mata uang rupiah juga jauh lebih siap dalam menghadapi risiko kenaikan pada yield. Tren pemulihan ekonomi domestik juga semakin terlihat dengan naiknya angka vaksinasi dan melandainya kasus harian covid-19.

"Menurut kami, koreksi harga pada komoditas di pekan ini bersifat sehat dan permintaan akan komoditas seiring pemulihan ekonomi hingga beberapa waktu ke depan juga masih tinggi dan akan terus berlanjut hingga 1–2 tahun ke depan sampai sektor manufaktur kembali di tahap berekspansi dan sektor riil, seperti pertumbuhan sektor pariwisata dapat kembali ke level pre-pandemi," Sucor AM menjelaskan.

2. Rupiah Menguat

Riset Sucor AM memaparkan sebagai efek dari kekhawatiran tapering yang diperkirakan lebih cepat, indeks dolar AS menguat hingga level tertinggi dalam 10 bulan terakhir (93.5, +3,89 persen). Meski begitu, mata uang rupiah (USD/IDR) menunjukan pergerakan yang relatif stabil dan lebih independen dibandingkan data historikal dan juga negara tetangga selama 3 bulan terakhir.

Jika dibandingkan dengan Maret 2020, rupiah telah bangkit dari performa terburuk di negara berkembang dan menjadi yang terbaik. Investor asing juga mulai kembali masuk ke surat utang berbasis rupiah melihat level real yield yang menarik, hingga dana asing masuk di Surat Berharga Negara (SBN) rupiah mencapai US$1.3 milliar sejak Juni.

Porsi investor asing pada kepemilikan Surat Utang Negara (SUN) mencapai 22,5 persen, meskipun masih lebih rendah dari level pra pandemi 38,6 persen. Rekor memuaskan ini terjadi meskipun intervensi Bank Sentral RI (BI) cenderung minim.

Tingkat suku bunga acuan BI7DRR stagnan di level 3,5 persen sejak Februari 2021, dan pemerintah juga masih belum memberikan sinyal adanya perubahan kebijakan moneter dalam beberapa waktu ke depan.

Hal ini dikarenakan tingkat inflasi yang belum pulih (masih di bawah target 3 persen), dan juga masih rendahnya tingkat penyaluran kredit di masyarakat di tengah likuiditas yang cukup melimpah.

Selain itu, faktor lain yang menyebabkan nilai tukar rupiah lebih kuat adalah adanya local currency settlement (LCS) atau penyelesaian transaksi bilateral antara dua negara dengan menggunakan mata uang masing-masing negara tanpa kewajiban untuk menggunakan hard currency USD.

Kesepakatan dagang ini mendorong independensi mata uang rupiah terhadap dolar AS, sekaligus mengurangi biaya dan margin transaksi dalam kegiatan ekspor impor dengan China, Jepang, Malaysia, dan berpotensi kerja sama ke negara lainnya.

"Hal ini juga mendorong volume perdagangan yang lebih tinggi tanpa bergantung dengan volatilitas dari indeks dolar, sehingga membawa prospek yang baik untuk kestabilan mata uang rupiah," Sucor AM mengungkapkan.

3. Transformasi Bank Digital

Sucor AM juga menyoroti perubahan aturan Otoritas Jasa Jeuangan (POJK) terbaru (POJK 12/2021) mengenai bank konvensional dan bank digital.

"Beberapa poin penting dapat kita ambil untuk melihat potensi masa depan dari ekosistem perbankan yang diterapkan secara digital ini. Definisi bank telah dengan baik dipaparkan, khususnya pada bank digital selain bergerak dengan model bisnis digital, harus fokus menjaga keamanan data nasabah dan dengan manajemen risiko yang memadai," riset Sucor AM menyebutkan.

Perubahan pada kriteria bank juga menjadi tolak ukur baru untuk kenyamanan dan kredibilitas masyarakat sebagai nasabah. Sebelumnya, modal minimum untuk mendirikan bank adalah Rp3 triliun, sekarang menjadi Rp10 triliun. Penambahan modal ini juga berguna untuk menghindari kebangkrutan dan gagal bayar oleh bank.

Pengelompokan baru sesuai modal inti minimum (KBMI), termasuk KBMI 1 (<Rp6 triliun), KBMI 2 (Rp6 triliun), KBMI 3 (Rp14 triliun), dan KBMI 4 (Rp70 triliun) juga menjadikan beberapa bank dapat dinilai secara lebih wajar dengan kompetitor dibandingkan menggunakan bank umum bedasarkan kegiatan usaha (BUKU).

Kini, bank konvensional secara resmi dapat menyelenggarakan layanan digital. Contohnya adalah PT. Bank Central Asia (BCA) yang telah menyiapkan BLU, dan PT. Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang memiliki BRI Agro sebagai digital banking.

Selain itu, antara bank dan non-bank seperti P2P lending juga memiliki dasar hukum yang lebih kuat hingga sinergi bank digital dengan fintech juga ditujukan untuk dapat penetrasi ke seluruh lapisan masyarakat.

"Ke depannya, ekosistem yang dibangun secara digital ini akan mampu mengintegrasikan layanan keuangan lebih luas lagi dan mendorong inklusi dari masyarakat untuk semakin modern dan aktif menggunakan bank digital dalam keseharian," ungkap Sucor AM.

4. Kasus Covid-19 ke Level Sebelum Munculnya Varian Delta

Hingga awal pekan ini, jumlah kasus harian covid-19 berhasil di kontrol ke level sebelum merebaknya varian delta. Kasus harian secara rata-rata 7 hari adalah 19 ribu, turun hingga 50 persen dibandingkan dengan periode tertinggi di bulan lalu yang mencapai 40–50 ribu kasus per hari.

Jakarta juga telah diklasifikasi sebagai zona hijau setelah jumlah vaksin yang diterima telah mencapai lebih dari 90 persen populasi dan melandainya kasus harian akibat kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Di lain sisi, jumlah vaksinasi yang diterima oleh masyarakat Indonesia hingga kini telah mencapai 56.5 juta jiwa. Jumlah ini sedikit terlambat dibandingkan target pemerintah sebelumnya (70 juta dosis), namun telah mencapai 27,5 persen dari total target penduduk.

Hingga kini Indonesia telah berhasil mendapatkan peringkat ke-9 di dunia untuk jumlah suntikan (90 juta suntikan) dan peringkat ke-6 di dunia untuk jumlah orang yang disuntikan dosis pertama. Sekitar 62.5 juta dosis vaksin telah datang untuk kembali mendukung laju vaksinasi hingga akhir tahun.

Selain itu, BPOM telah secara resmi memperbolehkan vaksin buatan AS, Pfizer-BioNTech, untuk disuntikkan sebanyak 2 juta dosis."Kami melihat dengan keadaan yang semakin membaik ini, aturan PPKM di Jawa-Bali akan segera dilonggarkan kembali untuk menyokong ekonomi di sektor ril," demikian disampaikan riset Sucor AM (24/8/2021).

​​***

​​​Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.