OJK : Stabilitas Jasa Keuangan Desember Terjaga, Asing Borong SBN

Investor non residen mencatatkan net buy di pasar SBN Rp5,02 triliun MtD, Penguatan di pasar saham ditopang investor domestik
Abdul Malik • 28 Dec 2020
cover

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso (tengah) menyerahkan potongan nasi tumpeng kepada Kepala OJK Regional 8 Giri Tribroto (kanan) disaksikan Gubernur Bali Wayan Koster (kiri) saat peresmian gedung Kantor OJK Regional 8 di Denpasar, Bali, Senin (21/12/2020). ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/wsj

Bareksa.com - Deputi Komisioner Humas dan Logistik OJK, Anto Prabowo, menyatakan sampai dengan November 2020, stabilitas sistem keuangan masih dalam kondisi terjaga di tengah upaya OJK dalam mendukung kebijakan pemulihan ekonomi nasional yang terus dilakukan pemerintah.

"Perkembangan stabilitas sektor keuangan hingga November masih menunjukan kondisi yang positif dengan profil risiko yang tetap terjaga. Informasi positif dari data sektor riil dan dimulainya vaksinasi mendorong pasar keuangan global termasuk Indonesia menguat di bulan Desember," ujarnya dalam keterangan tertulis (28/12/2020). 

Sampai dengan 18 Desember 2020, IHSG menguat sebesar 8,76 persen secara month to date (MtD) dan kembali di atas level 6.000. Penguatan juga terjadi pasar Surat Berharga Negara (SBN) dengan rerata yield SBN turun 28.3 bps MtD. Penguatan di pasar saham menjelang akhir tahun ditopang oleh investor domestik di tengah masih berlanjutnya net sell non residen Rp3,19 triliun MtD.

Sementara, investor non residen mencatatkan net buy di pasar SBN Rp5,02 triliun MtD (Secara year to date pasar saham net sell Rp47,05 triliun; YtD pasar SBN net sell Rp86,3 triliun).

Kinerja intermediasi keuangan juga masih sejalan dengan perkembangan perekonomian nasional. Dana Pihak Ketiga (DPK) di bulan November 2020 masih tumbuh relatif tinggi yakni 11,55 persen year on year (YoY). Sementara itu, perbankan berhasil menyalurkan kredit baru Rp146 triliun, namun pelunasan kredit dan hapus buku tercatat masih lebih besar dari kredit baru sehingga secara keseluruhan pertumbuhan kredit terkontraksi 1,39 persen YoY.

"Kontraksi pertumbuhan kredit dipicu masih lemahnya permintaan kredit modal kerja, kredit investasi dan kredit konsumsi khususnya di daerah-daerah yang termasuk dalam high risk penyebaran Covid-19," Anto menjelaskan.

Di industri keuangan non-bank, piutang perusahaan pembiayaan juga terkontraksi 17,1 persen YoY didorong oleh kontraksi pembiayaan jenis multiguna yang menjadi penyumbang terbesar dalam piutang pembiayaan. Sementara, industri asuransi tercatat menghimpun pertambahan premi Rp22,8 triliun (asuransi jiwa Rp18,1 triliun. asuransi umum dan reasuransi Rp4,7 triliun) dan fintech P2P lending November 2020 mencatatkan outstanding pembiayaan Rp14,1 triliun atau tumbuh 15,7 persen YoY.

Jumlah Penawaran Umum

Hingga 22 Desember 2020, jumlah penawaran umum yang dilakukan emiten di pasar modal mencapai 164, dengan total nilai penghimpunan dana mencapai Rp117,42 triliun. Dari jumlah penawaran umum tersebut, 49 di antaranya dilakukan oleh emiten baru. Dalam pipeline saat ini terdapat 57 emiten yang akan melakukan penawaran umum dengan total indikasi penawaran Rp15,05 triliun.

Anto menambahkan di tengah moderasi kinerja intermediasi, profil risiko lembaga jasa keuangan pada November 2020 masih terjaga dengan rasio non performing loan (NPL) gross tercatat sebesar 3,18 persen (NPL net 0,99 persen) dan rasio non performing finance (NPF) perusahaan pembiayaan 4,5 persen. Di tengah penguatan nilai tukar rupiah, risiko nilai tukar perbankan dapat dijaga pada level yang rendah terlihat dari rasio Posisi Devisa Neto (PDN) November 2020 di 1,9 persen, jauh di bawah ambang batas ketentuan 20 persen.

Sementara itu, likuiditas dan permodalan perbankan berada pada level yang memadai. Rasio alat likuid/non-core deposit dan alat likuid/DPK per 16 Desember 2020 terpantau pada level 157,39 persen dan 34,14 persen, di atas threshold masing-masing 50 persen dan 10 persen.

"Permodalan lembaga jasa keuangan sampai saat ini relatif terjaga pada level yang memadai. Capital Adequacy Ratio perbankan tercatat 24,19 persen serta Risk-Based Capital industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing 540 persen dan 354 persen, jauh di atas ambang batas ketentuan 120 persen. Begitupun gearing ratio perusahaan pembiayaan yang tercatat 2,19 persen, jauh di bawah maksimum 10 persen," Anto menambahkan.

Kinerja Industri Jasa Keuangan hingga November 2020

Sumber : OJK

​​​***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

​DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.