Aset Pasar Modal Syariah Indonesia Capai Rp4.569 Triliun, Ini Datanya

Aset saham, sukuk dan reksadana syariah tumbuh signifikan dalam 5 tahun terakhir
Hanum Kusuma Dewi • 30 Nov 2020
cover

Ilustrasi investasi syariah di reksadana saham obligasi surat berharga negara sukuk yang digambarkan dengan tumpukan koin emas dan tasbih dengan tulisan funds

Bareksa.com - Pasar modal syariah telah bertumbuh signifikan dan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap ekonomi Indonesia. Hal ini terlihat dari pertumbuhan saham, sukuk atau obligasi syariah dan reksadana syariah.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi menjelaskan bahwa kontribusi total aset pasar modal syariah terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. 

"Kontribusi aset pasar modal syariah Indonesia mencapai 29 persen terhadap PDB dan kontribusi kapitalisasi saham syariah mencapai 24 persen terhadap PDB," ujar Inarno dalam KAFEGAMA Webinar Series, 30 November 2020. 

Data Bursa Efek Indonesia dan Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa PDB tahunan 2019 mencapai Rp15.833 triliun. Total aset pasar modal syariah Indonesia per 2019 termasuk saham syariah, reksadana syariah dan sukuk mencapai Rp4.569 triliun dan kapitalisasi saham syariah mencapai Rp3.745 triliun. 

Grafik Jumlah dan Kapitalisasi Saham Syariah dan Pangsa Pasar Syariah
Sumber: Bursa Efek Indonesia

Dari pasar saham sendiri, kapitalisasi saham syariah mencapai Rp3.302 triliun per 20 November 2020. Jumlah saham syariah sudah mencapai 451 saham, atau 64 persen dari total saham tercatat di bursa dan kapitalisasi sudah mencapai 51 persen total pasar. 

Menurut data bursa, jumlah investor syariah tumbuh konsisten dalam lima tahun terakhir. Per Oktober 2020, jumlah investor saham syariah mencapai 81.413, naik 563 persen dibandingkan 12.283 pada 2016. Artinya rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 63 persen per tahun (2016-2019). 

Grafik Pertumbuhan Jumlah Investor Saham Syariah
Sumber: Bursa Efek Indonesia

Data juga menunjukkan jumlah investor syariah mencapai 6,2 persen dari total investor bursa per 2019. Kemudian, 26 persen investor syariah dikatakan aktif bertransaksi saham di Bursa Efek Indonesia. 

Di samping itu, sukuk alias obligasi syariah juga mengalami perkembangan signifikan. Nilai outstanding sukuk negara dan sukuk korporasi telah mencapai Rp940,8 triliun per Oktober 2020, mencapai 19 persen nilai outstanding obligasi negara. Jumlah outstanding sukuk negara mencapai 163 seri, atau 29 persen dari jumlah seri obligasi negara

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan, nilai outstanding sukuk korporasi per Oktober 2020 mencapai Rp31,9 triliun, atau 7 persen dari obligasi korporasi. Adapun jumlah seri sukuk korporasi sebanyak 65 seri, atau 19 persen terhadap total efek pendapatan tetap. 

Grafik Nilai dan Jumlah Outstanding Sukuk Negara dan Sukuk Korporasi
Sumber: DJPPR Kemenkeu dan Bursa Efek Indonesia

Reksadana syariah juga terus bertumbuh dengan konsisten. Nilai aktiva bersih reksadana syariah per Oktober 2020 mencapai Rp71,6 triliun, atau 14 persen dari total dana kelolaan industri reksadana Indonesia. Jumlah produk reksadana juga sudah mencapai 284, atau 12 persen dari jumlah reksadana yang ada di industri. 

Grafik Pertumbuhan NAB dan Jumlah Produk Reksadana Syariah
Sumber: Bursa Efek Indonesia

Pasar modal syariah makin lengkap dengan adanya tiga produk reksadana syariah yang bisa diperdagangkan di bursa (exchange traded fund/ETF). Namun, nilai ETF syariah ini baru mencapai Rp34 miliar, atau 0,3 persen dari total ETF yang ada saat ini.


***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

​DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.