Begini Perkembangan Pasar Modal Syariah 5 Tahun Terakhir

Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan optimis pasar modal syariah bisa terus maju
Hanum Kusuma Dewi • 16 Nov 2020
cover

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi dalam sambutannya di Sharia Investment Week 2020

Bareksa.com - Perkembangan pasar modal syariah cukup pesat dalam lima tahun belakangan ini, seiring dengan kesadaran masyarakat untuk berinvestasi dalam instrumen yang memegang prinsip-prinsip Islami. 

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi mengatakan bahwa jumlah saham syariah telah meningkat 93 persen menjadi 461 saham saat ini, dibandingkan angka pada 2011. "Jumlahnya kita sudah mencakup 63 persen dari saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia," ujar Inarno dalam pembukaan Sharia Investment Week secara virtual, 16 November 2020. 

Dia juga mengatakan bahwa kapitalisasi pasar modal syariah sudah mencapai 51,4 persen dari total kapitalisasi bursa dengan total transaksi sudah mencapai 53,7 persen dari total transaksi bursa. Selain itu, volume transaksi syariah mencapai 59,6 persen dari volume transaksi bursa dan frekuensi syariah sudah mencakup 61,9 persen transaksi di Bursa Efek Indonesia. 

Berdasarkan data Anggota Bursa (AB) atau sekuritas yang menyediakan transaksi online syariah (Sharia Online Trading System/SOTS), dalam lima tahun terakhir jumlah investor syariah sudah meningkat 1500 persen menjadi 82.500 investor per September 2020, dibandingkan hanya 1408 pada 2015. Dari jumlah tersebut, yang aktif bertransaksi mencapai 25,2 persen. 

"Syariah kini menjadi pilihan investasi yang populer bagi masyarakat Indonesia. Ke depan diperkirakan pasar modal syariah akan makin maju," kata Inarno. 

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen juga mengungkapkan perkembangan pasar modal syariah juga cukup pesat. Nilai kapitalisasi saham syariah mencapai Rp3.061,6 triliun, atau 51,4 persen dari total pasar modal Indonesia yang sebesar Rp5.956,7 triliun. 

Hoesen juga mencatat bahwa saat ini ada 467 saham syariah yang tercatat dalam Daftar Efek Syariah dari OJK. Selain itu, ada outstanding sukuk sebanyak 163 sukuk, 263 reksadana syariah dan 65 sukuk negara. 

Bursa telah meluncurkan program wakaf saham sejak 2019. Hingga saat ini telah tercatat jumlah waqif (pemberi wakaf) sebanyak 132 orang, dengan nilai yang diwakafkan Rp230 juta dengan dilakukan melalui 5 AB SOTS. 

Pasar Modal Indonesia, menurut Hoesen, juga dapat dikatakan sebagai bursa pertama yang lengkap dengan filantropi Islam, karena sudah dilengkapi dengan Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS). Sukuk dengan seri SWR001 yang ditawarkan kepada investor ritel ini diterbitkan oleh pemerintah sehingga termasuk dalam Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). 

"Sukuk Wakaf ini menjadi alternatif bagi investor yang tidak hanya mementingkan aspek bisnis, tetapi juga spiritual. Ke depan ada kemungkinan sukuk untuk aset wakaf yang diterbitkan oleh selain pemerintah untuk mendukung industri halal," kata Hoesen dalam sambutannya di Sharia Investment Week. 

Di samping itu, lanjut Hoesen, dukungan OJK terhadap pasar modal syariah juga tertuang dalam Road Map Pasar Modal Syariah 2020-2024 yang baru saja diluncurkan tengah tahun ini. 

Strategi Roadmap ini terdiri dari empat arah kebijakan utama. Yaitu pertama, pengembangan produk pasar modal syariah, kedua, penguatan dan pengembangan infrastruktur pasar modal syariah, ketiga, peningkatan literasi dan inklusi pasar modal syariah, serta keempat, penguatan sinergi dengan pemangku kepentingan.

* * * 

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.