Berita / Kategori / Artikel

Sri Mulyani: Tabungan Orang Indonesia di Aset Keuangan Masih Rendah

Beberapa produk aset keuangan adalah deposito bank, obligasi, reksadana, dan saham
• 10 Apr 2019
cover

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan materi pada sesi Pathways to Prosperity dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10). ANTARA FOTO/ICom/AM IMF - WBG/Anis Efizudin

Bareksa.com – Kondisi terkini perekonomian Indonesia, outlook ekonomi dan bagaimana Pemerintah menyikapi berbagai perkembangan menjadi topik yang dibahas dalam pertemuan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dengan sekitar 150 mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (Permias) pada Selasa, 9 April 2019 pukul 04:30-06:00 EST di Columbia University, New York.

“Dalam beberapa tahun terakhir kondisi ekonomi kita sudah jauh lebih baik, dan lebih berdaya tahan dari tahun 2013 (saat terjadi taper tantrum). Dibandingkan empat fragile country lain, Indonesia menjadi salah satu yang paling berdaya tahan di dunia,” ujar Sri Mulyani Indrawati.

Istilah taper tantrum digunakan untuk kondisi pada 2013 yang pada saat itu terjadi lonjakan imbal hasil (yield) surat utang negara Amerika Serikat (US Treasury) bertenor 10 tahun. Hal ini terjadi karena bank sentral AS The Federal Reserve menggunakan instrumen surat utang agar mengurangi jumlah uang beredar (tapering). Akibat hal ini, investor menjadi panik (tantrum) dan menarik dana mereka dari pasar obligasi dalam waktu cepat, sehingga yield obligasi pun meningkat drastis. Dampaknya juga terjadi di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Meskipun perekonomian semakin membaik, Menkeu menyampaikan bahwa persentase penghasilan ditabung (saving rate) masih tergolong rendah. “Saving rate di Indonesia masih sekitar 30 persen-33 persen. Kondisi ini masih di bawah sejumlah negara besar seperti China, meskipun lebih baik dibandingkan dengan negara-negara di Amerika Latin,” lanjut Menkeu.

Salah satu tantangan rendahnya saving rate di Indonesia karena tidak dialokasikan ke financial assets alias aset keuangan, tapi di physical asset seperti tanah, sehingga lebih sulit untuk dimanfaatkan bagi pendanaan investasi seperti infrastruktur. Padahal, creative financing dengan pendanaan bukan hanya dari APBN sangatlah penting. Dalam rangka meningkatkan GDP growth dalam jangka panjang, Indonesia perlu meningkatkan kebijakan industrialisasi dan sektor jasa.

Produk Aset Keuangan

Aset keuangan adalah aset tidak berwujud yang memiliki nilai dikarenakan klaim kontrak. Dari pengertian ini, beberapa produk aset keuangan adalah deposito bank, obligasi, reksadana, dan saham.

Aset keuangan juga biasanya lebih likuid daripada aset berwujud, seperti tanah atau properti, dan diperdagangkan di pasar keuangan. Menurut International Financial Reporting Standards (IFRS), aset keuangan memiliki beberapa definisi:

♦ Uang tunai atau setara dengan uang tunai;

♦ Instrumen ekuitas lembaga lain;

♦ Hak kontrak untuk menerima uang tunai atau aset keuangan lainnya dari lembaga lain atau bertukar aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan lembaga lain sesuai syarat yang bisa menguntungkan lembaga tersebut;

♦ Kontrak yang akan atau bisa diselesaikan dengan instrumen ekuitas lembaga dan bukan merupakan non-derivatif yang karena itu lembaga tersebut wajib atau mungkin diwajibkan menerima sejumlah instrumen ekuitas lembaga, atau derivatif yang akan atau bisa diselesaikan dengan cara selain pertukaran uang tunai atau aset keuangan lainnya dalam jumlah tetap dengan instrumen ekuitas lembaga dalam jumlah tetap.

Bagi masyarakat awam, reksadana bisa menjadi salah satu aset keuangan pilihan karena menguntungkan, mudah dan terjangkau. Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. (hm)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.

Tags: