BeritaArrow iconPasar ModalArrow iconArtikel

IHSG Mulai Melemah Pasca Enam Hari Beruntun Menghijau, Kenapa?

Bareksa24 Januari 2019
Tags:
IHSG Mulai Melemah Pasca Enam Hari Beruntun Menghijau, Kenapa?
Pelajar melihat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (13/9). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Kemarin, investor asing untuk pertama kalinya mencatatkan penjualan bersih sepanjang bulan ini

Bareksa.com - Setelah enam hari perdagangan beruntun selalu berakhir di zona hijau, pasar saham Indonesia akhirnya berakhir di zona merah pada perdagangan kemarin.

Kinerja bursa saham domestik bertolak belakang dengan mayoritas bursa saham utama kawasan Asia yang ditutup di zona hijau pada perdagangan kemarin meskipun dengan penguatan terbatas.

Indeks Shanghai (Chinga) naik tipis 0,05 melemah, Indeks Hang Seng (Hong Kong) naik tipis 0,01 melemah, dan indeks Kospi (Korea) menguat 0,47 melemah. Sementara itu, Indeks Nikkei (Jepang) turun 0,14 melemah dan Indeks Straits Times (Singapura) melemah 0,68 melemah.

Promo Terbaru di Bareksa

Berimbangnya sentimen positif dan negatif yang muncul membuat bursa saham regional bergerak dalam rentang yang terbatas.

Kabar positif bagi bursa saham regional datang dari China. Kementerian Keuangan China kemarin menegaskan komitmennya untuk menggelontorkan stimulus fiskal pada tahun ini, termasuk pemotongan tingkat pajak dan biaya lebih lanjut.

Para ekonom mengatakan bahwa stimulus fiskal tersebut bisa diumumkan pada pertemuan parlemen tahunan pada Maret mendatang.

Stimulus fiskal tersebut diberikan untuk mendukung laju ekonomi Negeri Tirai Bambu. Sebelumnya pada Senin (21/01), perekonomian China diumumkan tumbuh 6,6 persen tahun 2018, yang merupakan laju terlemah sejak 1990.

Sebagai informasi, pada tahun 2018 China telah memberikan stimulus fiskal berupa pemotongan tingkat pajak dan biaya senilai CNY1,3 triliun. Melansir Reuters, beberapa analis kini percaya bahwa China dapat memberlakukan pemotongan pajak dan biaya senilai CNY2 triliun.

Selain itu, China juga diyakini akan memperbolehkan pemerintah daerah untuk menerbitkan obligasi khusus (special bond) senilai CNY2 triliun yang sebelumnya banyak digunakan untuk membiayai proyek-proyek penting.

Sementara itu, di sisi lain sentimen negatif muncul dari ekonomi Jepang yang cukup mengecewakan. Kemarin, ekspor periode Desember 2018 diumumkan terkontraksi 3,8 persen year on year (YoY), lebih buruk dari konsensus yang hanya memperkirakan kontraksi 1,9 persen YoY, seperti dilansir dari Trading Economics. Sementara itu, impor hanya tumbuh 1,9 persen YoY, di bawah konsensus 3,7 persen YoY.

Rilis data tersebut semakin mengonfirmasi bahwa ekonomi Negeri Sakura sedang mengalami tekanan. Belum lama ini, inflasi Jepang periode Desember 2018 diumumkan 0,3 persen YoY, jauh melambat dari capaian November yang sebesar 0,8 persen YoY. Laju inflasi bulan Desember juga merupakan yang terlambat sejak Oktober 2017.

Lesunya perekonomian Jepang kemudian juga dikonfirmasi lagi oleh Bank of Japan (BoJ) yang menahan tingkat suku bunga acuan di level -0,1 persen. Tak hanya menahan tingkat suku bunga acuan di level yang super rendah, BoJ juga memangkas proyeksi inflasinya.

Menutup perdagangan Rabu, 23 Januari 2019, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,27 persen dengan berakhir di level 6.451,17. Aktivitas perdagangan terlihat berlangsung cukup ramai,di mana tercatat 13,39 miliar saham ditransaksikan dengan total nilai transaksi Rp10,27 triliun.

Secara sektoral, penguatan dan pelemahan terbagi rata ke dalam masing-masing lima sektor. Adapun tiga sektor yang mengalami kenaikan tertinggi yakni perdagangan (1,1 persen), disusulproperti (0,62 persen), dan industri dasar (0,15 persen).

Sementara itu, tiga sektor yang mengalami pelemahan terdalam yakni keuangan (-1,09 persen), pertanian (-0,45 persen), dan konsumer (-0,32 persen).

Beberapa saham yang memberatkan IHSG kemarin :

1. Saham BMRI (-3,5 persen)
2. Saham BBCA (-1,8 persen)
3. Saham TLKM (-2 persen)
4. Saham BBNI (-2,2 persen)
5. Saham CPIN (-2,4 persen)

Sebanyak 229 saham menguat, 185 saham melemah, dan 134 saham tidak mengalami perubahan harga. Di sisi lain, kemarin investor asing untuk pertama kalinya mencatatkan penjualan bersih (net sell) di tahun ini dengan nilai Rp142,36 miliar.

Sebelumnya investor asing telah mencatatkan pembelian bersih (net buy) dalam 17 hari perdagangan beruntun pada Januari 2019.

Saham-saham yang terbanyak dilepas investor asing kemarin :

1. Saham BMRI (Rp212,04 miliar)
2. Saham BBNI (Rp89,4 miliar)
3. Saham TLKM (Rp52,7 miliar)
4. Saham TOWR (Rp52,33 miliar)
5. Saham BNLI (Rp46,71 miliar)

Analisis Teknikal IHSG

Illustration
Sumber: Bareksa

Menurut analisis Bareksa, secara teknikal candle IHSG pada perdagangan kemarin membentuk shooting star yang menggambarkan pergerakan IHSG cenderung negatif karena berbalik arah melemah bahkan hingga di level terendahnya, setelah sebelumnya sempat bergerak di zona hijau.

Secara intraday, pergerakan IHSG cenderung bervariatif di mana sejak awal perdagangan IHSG sudah dibuka pada zona merah namun secara perlahan berangsur bangkit dan menguat.

Namun saat memasuki sesi kedua perdagangan, penguatan IHSG kembali terpangkas hingga masuk ke zona merah bahkan dengan berakhir pada level terendahnya.

Pelemahan IHSG kemarin tergolong relatif terbatas dan masih cukup wajar terjadi di suatu fase uptrend. Selama IHSG mampu bertahan di atas middle bollinger band, indikasi uptrend IHSG masih berpotensi terus berlanjut.

Indikator relative strength index (RSI) terpantau sedikit bergerak turun,mengindikasikan sinyal kenaikan IHSG yang sedikit tertahan akibat koreksi sehat.

Dilihat dari sudut pandang teknikal, pergerakan IHSG pada hari ini berpotensi bergerak mixed dengan kecenderungan adanya rebound.

Di sisi lain, bursa saham Wall Street yang ditutup kompak berakhir di zona hijau pada perdagangan kemarin diharapkan bisa menjadi sentimen positif yang membuat IHSG terangkat ke zona hijau pada perdagangan hari ini.

Indeks Dow Jones ditutup menguat 0,7 persen, S&P500 bertambah 0,22 persen, dan Nasdaq naik tipis 0,08 persen.

(KA01/AM)

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui saham mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami kinerja keuangan saham tersebut.

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

autodebet

1.209,86

Up0,28%
Up4,73%
Up0,28%
Up9,35%
Up19,65%
Up10,89%

STAR Stable Amanah Sukuk

autodebet

1.190,02

Up0,44%
Up4,06%
Up0,44%
Up8,86%
--

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1.161,96

Up0,58%
Up4,46%
Up0,58%
Up8,86%
--

Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A

1.048,61

Up0,10%
-
Up0,10%
---

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua