Berita / Kategori / Artikel

Manulife Proyeksikan IHSG Tahun Depan Tembus 7.000

Proyeksi tersebut didasarkan pada perkiraan EPS growth emiten tahun depan sekitar 13-14 persen
• 13 Dec 2017
cover

Seorang pekerja melintasi layar elektronik pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Bareksa.com – Indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan bakal tembus 6.800-7.000 tahun depan. Proyeksi tersebut didasarkan pada perkiraan pertumbuhan laba per saham (earning per share/ EPS) emiten tahun depan sekitar 13-14 persen.

Chief Economist & Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Katarina Setiawan, menjelaskan pertumbuhan IHSG tahun depan akan didorong oleh kondisi ekonomi dalam negeri yang positif. Dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan sekitar 5,2-5,4 persen.

“Perkiraan IHSG tahun ini juga didasarkan EPS growth yang berdasarkan konsensus Bloomberg di angka 13,8 persen,” ujar dia di Jakarta, Selasa, 12 Desember 2017. (Baca : Nilai IPO Saham Hanya 1 Persen Total Fund Rising dari Pasar Modal)

Katarina menyatakan tim investasi Manulife Aset memperkirakan tren positif pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan berlanjut tahun depan.

Akan tetapi, investor mulai khawatir karena bakal ada dua agenda politik pada 2018, yakni Pilkada serentak dan kampanye Pemilu presiden. Dia meminta investor untuk tetap tenang menghadapi tahun politk karena kondisi perekonomian Indonesia dan global sangat kondusif.

Dia justru memperkirakan bakal terjadi peningkatan aktivitas perekonomian tahun depan yang didukung oleh faktor domestik dan global. Faktor pendukung domestik adalah adanya pengeluaran anggaran Pilkada dan Pemilu, peningkatan subsidi pemerintah dan peningkatkan belanja pemerintah.

“Beragam hal tersebut akan membantu meningkatkan kinerja emiten yang berorientasi ke pasar domestik,” ujar Katarina. (Baca : BBCA Geser TLKM di Urutan Pertama 10 Saham Bernilai Transaksi Terbesar)

PDB Global Mengencang

Sementara faktor global yang akan mendukung perekonomian Indonesia tahun depan, International Monetary Fund (IMF) telah menaikkan proyeksi produk domestik bruto (PDB) global ke level 3,7 persen tahun depan, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya.

Situasi global yang kondusif tersebut akan sangat mendukung perekonomian Indonesia. Dengan tumbuhnya ekonomi global, pemerintah dapat lebih fokus mengejar beragam tujuan ekonomi yang telah dicanangkan sejak awal dan kinerja emiten yang berorientasi ekspor pun dapat meningkat. (Lihat : Top 5 Reksa Dana Saham dengan Return Tertinggi dalam 5 Tahun Terakhir)

Kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang kuat menjadi daya tarik untuk mengembalikan minat investor asing ke Indonesia, setelah tahun ini terjadi outflow dana asing yang cukup besar di pasar saham. Hal tersebut akan menunjang kenaikan harga saham, dimulai dengan emiten-emiten berkapitalisasi besar.

Katarina mengaku telah bertemu dengan beberapa investor asing dan sekuritas asing besar. Dari hasil pertemuan tersebut, investor asing mengaku sudah mulai kembali berminat untuk berinvestasi di pasar saham Indonesia. (Baca : BNP Paribas Memprediksi IHSG Tahun Depan Tembus 6.600)

Hal itu dipicu valuasi pasar saham Indonesia yang sudah cukup rendah. Beberapa broker asing juga sudah menaikkan rekomendasi Indonesia dari underweight menjadi overweight.

Valuasi premium Indonesia saat ini sudah jauh berkurang. Apabila dibandingkan antara price to book value (PBV) dan return on equity (RoE) perusahaan, valuasi premium dibandingkan dengan negara Asia-Pasifik di luar Jepang, sudah sangat rendah dalam 10 tahun terakhir.

“Hal itu menyebabkan investor asing mulai melirik Indonesia lagi,” katanya. (Lihat : Meski Transaksi Sepi, IHSG Nyaris Tembus 6.100)

Lebih lanjut Katarina mengatakan bahwa sektor saham yang akan positif tahun depan adalah yang memiliki keterkatian dengan pertumbuhan ekonomi domestik. Sektor pertama yang prospektif adalah sektor perbankan. Positifnya sektor bank akan dipicu oleh mulai berkurangnya kredit bermasalah (non-preforming loan/NPL) dan meningkatnya loan growth.

Sektor saham selanjutnya yang positif adalah sektor konsumer dan telekomunikasi. Apabila daya beli masyarakat meningkat, kedua sektor tersebut akan diuntungkan. (Baca : Topang Penguatan IHSG, Secara Teknikal Bagaimana Prospek Saham BBRI?)

Tags: