Berita / Kategori / Artikel

Bursa Periksa 3 Broker yang Terindikasi Gagal Bayar Saham SIAP

Saham SIAP kena autorejection 4 hari berturut-turut
• 28 Oct 2015
cover

IDX Director of Surveillance and Compliance Hamdi Hassyarbaini stands in front of an electronic board showing stock information at the Indonesia Stock Exchange (IDX) in Jakarta, September 29, 2015. REUTERS/Nyimas Laula

Bareksa.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai regulator sedang memeriksa tiga broker terkait transaksi perdagangan saham PT Sekawan Inti Pratama Tbk (SIAP). Dasar pemeriksaan ada indikasi gagal bayar antara broker di pasar negosiasi, sementara saham SIAP tengah mengalami kejatuhan selama empat hari berturut-turut.

Saham perusahaan yang baru pindah ke bisnis batu bara tersebut kembali mencatat penurunan tajam hari ini (28/10), setelah tiga hari berturut-turut terkena penolakan otomatis (auto rejection) karena harga yang menyentuh batas maksimum pergerakan harian.

Hingga jeda siang ini, saham SIAP diperdagangkan pada harga Rp153, anjlok 9,47 persen dari level penutupan kemarin di Rp169. Penurunan tersebut melanjutkan kejatuhan saham sejak akhir pekan lalu (23/10) yang ditutup pada Rp207, anjlok 10 persen atau sebesar batas maksimum penurunan harga saham dalam satu hari.

Melihat pergerakan saham ini, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Hamdi Hassyarbaini menilai belum perlu memasukkannya ke dalam kategori tidak biasa (unusual market activity/UMA). Pasalnya, pergerakan itu baru terjadi dalam 2 hari terakhir.

"Kami lihat saham itu masuk UMA kalau tujuh hari berturut-turut turun terus dan dalam presentasi tertentu. Kalau baru dua hari, belum masuk parameter kami," ujarnya ditemui selepas Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BEI di Jakarta.

Grafik Pergerakan Saham SIAP Selama Sebulan

Sumber: Bareksa.com

Akan tetapi, kata dia, dia melihat ada indikasi beberapa broker  gagal membayar penyelesaian (settlement) untuk transaksi saham SIAP. Hal itu yang menjadi perhatian regulator bursa saat ini.

"Di saham SIAP, ada beberapa broker  gagal bayar settlement. Kami sedang mengeceknya. Indikasinya yang pasti ada 2-3 broker," ujar Hamdi yang belum bisa menyebut nama broker yang sedang diperiksa maupun nilai transaksinya.

Ketika ditanya tentang adanya kemungkinan gadai saham (repo) terhadap saham SIAP, Hamdi tidak bisa memerincinya karena urusan bilateral antar pemegang saham. "Kalau repo SIAP saya tidak tahu, kami hanya periksa indikasi gagal bayar broker," ujarnya.

Sejak awal September, terlihat sejumlah broker  aktif memperdagangankan saham SIAP. Secara nilai di seluruh pasar, Danareksa Sekuritas (OD) mencatatkan perdagangan terbesar saham SIAP untuk dengan nilai beli Rp2,21 triliun dan nilai jual Rp2,24 triliun. Broker kedua terbesar memperdagangkan saham SIAP selama dua bulan terakhir adalah Reliance Securities (LS) dengan nilai beli Rp2,12 triliun dan nilai jual Rp2,02 triliun.

Bila dilihat secara bersih, Sucorinvest Central Gani (AZ) mencatat pembelian bersih terbesar saham SIAP sejak awal September 2015. Nilai beli bersih transaksi SIAP di seluruh pasar oleh AZ sebesar Rp224,2 miliar. Sementara itu, penjual bersih saham SIAP dalam jangka waktu yang sama adalah Millenium Danatama dengan nilai net sell Rp574,5 miliar.

Khusus untuk pasar negosiasi, pembeli bersih saham SIAP sejak awal September adalah LS dengan nilai nett buy Rp978,3 miliar. Pad saat yang sama, penjual bersihnya adalah Millenium Danatama dengan nilai net sell Rp574,5 miliar.

Aktivitas Broker

Berbarengan dengan volatilitas saham SIAP ini, broker AZ sempat mengalami masalah selama satu sesi perdagangan kemarin (26/10). Rumors mengatakan hal tersebut terkait dengan adanya aktivitas perdagangan SIAP.

Dikonfirmasi mengenai rumor tersebut, Presiden Direktur Sucorinvest Central Gani Ratih D. Item menampiknya. Menurut dia, masalah kemarin terjadi karena persoalan sistem saja dan tidak ada kaitannya dengan perdagangan salah satu saham.

"Tidak benar rumors itu. Kebetulan sistem memang lagi down tapi sejak jam 11 kemarin, nasabah kami sudah bisa melakukan transaksi lagi," ujar Ratih ketika dikonfirmasi oleh Bareksa.com tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Adapun otoritas bursa mengatakan bahwa bila ada masalah, broker harus melapor agar tidak lebih lanjut merugikan nasabah yang ingin bertransaksi. "Ya, broker harus melaporkan ke bursa, tetapi mereka yang harus mengumumkan kepada nasabahnya sendiri," kata Hamdi.

Tags: