BeritaArrow iconKategoriArrow iconArtikel

Pola Anjloknya Saham Mirip Tahun 2008, Ambrolnya Rupiah Jadi Pemicu

26 September 2015
Tags:
Pola Anjloknya Saham Mirip Tahun 2008, Ambrolnya Rupiah Jadi Pemicu
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Bank Indonesia, Jakarta, Selasa (19/5). BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 7,50 persen sejalan dengan kebijakan moneter guna menjaga inflasi. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ss/mes/15

Di tahun 2008 IHSG bergerak sideways setelah rupiah menyentuh level pisikologis baru, Rp12.400.

Bareksa.com - Pola pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang terus merosot sejak awal tahun 2015, mirip dengan yang terjadi di tahun 2008. Ini berbeda dengan tahun 2013 yang anjlok dengan curam. IHSG kali ini turun dengan grafik lebih landai.

Pada tahun 2008, IHSG anjlok 50 persen menjadi 1.340,89 dibandingkan tahun sebelumnya di level 2.714,55. Sementara, untuk tahun ini, sejak awal tahun sampai dengan 25 September, IHSG merosot 19,4 persen menjadi 4.209,44 dibandingkan tahun lalu yang 5.226,95.

Djoko Rahardjo, direktur utama perusahaan penasihat investasi D'Origin, mengatakan memang secara grafis, pola penurunan IHSG mirip dengan 2008. Akan tetapi, secara fundamental, kondisi saat ini jauh lebih baik dibandingkan 2008.

Promo Terbaru di Bareksa

Resesi 2008 dipicu krisis di Amerika yang dibelit skandal kredit perumahan (subprime mortgage) dan seretnya likuiditas. Kali ini, Amerika justru sedang kebanjiran likuiditas, didorong sentimen kenaikan suku bunga acuan The Fed. "Sumber masalah kali ini justru karena ketidakjelasan kapan Amerika menaikkan suku bunga. Ini menimbulkan ketidakpastian yang berkepanjangan," kata Djoko saat diwawancarai analis Bareksa.

Akibatnya, banyak investor memilih menahan dana mereka. Begitu pun di sektor riil. Banyak pihak menahan membeli properti, misalnya, karena menunggu kepastian kenaikan suku bunga The Fed.

Grafik: Pergerakan IHSG 2008 Vs 2015
Illustration
Sumber: Bareksa

Jika Amerika terus membiarkan ketidakpastian ini, Djoko melihat ada kemungkinan pelemahan akan berlanjut, sedalam 2008. Penyebabnya apalagi kalau bukan rupiah yang terus anjlok sejak Juli 2015. Bayangkan, kurang dari dua bulan, nilai tukar rupiah ambrol dari kisaran Rp13.300 per dolar ke Rp14.600, atau amblas 9 persen.

Pola ambrolnya rupiah ini sama dengan 2008. Ketika itu, rupiah juga anjlok dalam waktu relatif singkat. Per September 2008 rupiah masih berada di level Rp9.300 per dolar AS. Namun pada November 2008 -- hanya dua bulan setelahnya -- rupiah sudah tersungkur di level Rp12.400. Hal ini lalu mendorong indeks ke level terendah, yakni 1.141,40 pada tanggal 24 November 2008.

Akan tetapi, setelah dolar AS menyentuh level pisikologis baru, IHSG bergerak sideways (mendatar), sebelum akhirnya rupiah mulai kembali menguat di bulan Maret 2009.

Pemerintah sendiri terus berusaha menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Cadangan devisa terus digelontorkan Bank Indonesia untuk mengintervensi pasar. (Baca juga: Ekonomi Belum Cerah, Mampukah BI Tahan Rupiah Yang Sudah Sentuh Rp14.500/$?)

Grafik: IHSG & Rupiah 2008 & 2015

Illustration

Sumber: Bareksa

Djoko menambahkan, sebetulnya secara fundamental, nilai investasi di Indonesia sudah sangat murah. Tapi, lagi-lagi jika Amerika masih terus mempertahankan kepentingannya, mau tidak mau Indonesia ikut terseret layaknya negara berkembang lain. (np)

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

autodebet

1.205,01

Down- 0,89%
Up1,74%
Down- 0,12%
Up7,82%
Up19,69%
Up15,87%

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1.164,3

Down- 0,41%
Up2,34%
Up0,79%
Up7,74%
--

STAR Stable Amanah Sukuk

autodebet

1.195,82

Up0,05%
Up2,44%
Up0,93%
Up8,12%
--

Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A

1.045,49

Down- 1,51%
Up2,95%
Down- 0,20%
---
Tags:

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua