Bank Sentral Terus Borong, Masih Layakkah Investasi Emas Saat Harga Sudah Naik?
Data Bareksa Emas Treasury menunjukkan harga beli emas dalam rupiah sudah naik 35% dalam 1 tahun terakhir (per 13 Juli 2026). Emas digital dengan fisik yang tersimpan di kustodian menjadi pilihan investasi bagi investor Indonesia

Data Bareksa Emas Treasury menunjukkan harga beli emas dalam rupiah sudah naik 35% dalam 1 tahun terakhir (per 13 Juli 2026). Emas digital dengan fisik yang tersimpan di kustodian menjadi pilihan investasi bagi investor Indonesia
Bareksa - Harga emas global telah mencatat kenaikan sekitar 21,16% dalam setahun terakhir. Kenaikan ini membuat sebagian investor mulai bertanya-tanya: apakah sekarang masih waktu yang tepat untuk membeli emas, atau justru lebih baik menunggu harga terkoreksi?
Grafik 1: Kenaikan harga emas global (USD) dalam 1 tahun terakhir
Keraguan tersebut cukup wajar. Membeli aset setelah harganya naik sering kali menimbulkan kekhawatiran akan membeli di "puncak". Namun, jika melihat faktor fundamental yang mendorong kenaikan harga emas saat ini, ada satu fakta menarik yang patut diperhatikan: bank-bank sentral di berbagai negara masih terus menambah cadangan emas mereka.
Promo Terbaru di Bareksa
Bagi investor jangka panjang, sinyal ini layak dicermati.
Mengapa Bank Sentral Masih Terus Membeli Emas?
Bank sentral memiliki tujuan yang berbeda dengan investor ritel. Mereka tidak membeli emas untuk mencari keuntungan jangka pendek, melainkan sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas cadangan devisa.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya risiko geopolitik, dan perubahan dinamika sistem keuangan internasional, emas tetap dipandang sebagai aset yang mampu mempertahankan nilainya dalam jangka panjang.
Data terbaru dari World Gold Council (WGC) menunjukkan pembelian bersih emas oleh bank sentral mencapai 244 ton pada kuartal I 2026, meningkat sekitar 17% dibanding kuartal sebelumnya dan berada di atas rata-rata historis.
Grafik 2: Pembelian Bersih Emas secara Bulanan oleh Bank Sentral Global
Tren tersebut juga masih berlanjut pada pertengahan tahun. Berdasarkan data WGC, pembelian bersih emas oleh bank sentral pada Mei 2026 mencapai sekitar 41 ton, dengan Polandia, China, Uzbekistan, dan Kazakhstan menjadi beberapa pembeli terbesar. Selain itu, Bank Sentral China bahkan telah menambah cadangan emasnya selama 20 bulan berturut-turut, termasuk penambahan terbesar sejak 2023 pada Juni 2026.
Konsistensi pembelian ini menunjukkan bahwa meskipun harga emas telah meningkat, banyak bank sentral masih menganggap emas sebagai komponen penting dalam portofolio cadangan mereka.
Apa Artinya bagi Investor Ritel?
Tentu, investor individu memiliki tujuan investasi yang berbeda dengan bank sentral. Namun, alasan memiliki emas seringkali serupa.
Emas selama ini dikenal sebagai salah satu aset diversifikasi yang dapat membantu menjaga nilai portofolio ketika pasar keuangan mengalami gejolak. Ketika saham, obligasi, atau mata uang menghadapi tekanan akibat ketidakpastian ekonomi maupun geopolitik, emas kerap menjadi salah satu aset yang dilirik investor.
Itulah sebabnya emas tidak hanya dipandang sebagai instrumen untuk mengejar keuntungan, tetapi juga sebagai bagian dari strategi menjaga kekayaan dalam jangka panjang.
Harga Sudah Naik, Masih Perlukah Menunggu Koreksi?
Inilah pertanyaan yang paling sering muncul ketika harga emas mencetak kenaikan signifikan.
Sayangnya, tidak ada yang dapat memastikan kapan harga akan mencapai puncak atau kapan koreksi akan terjadi. Bahkan analis global pun memiliki proyeksi yang berbeda-beda karena harga emas dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral, inflasi, nilai tukar dolar AS, hingga perkembangan geopolitik.
Karena itu, banyak investor memilih pendekatan yang lebih disiplin, yaitu membeli secara bertahap atau dollar-cost averaging (DCA).
Dengan strategi ini, investor tidak perlu menebak waktu terbaik untuk masuk pasar. Sebaliknya, pembelian dilakukan secara berkala sesuai kemampuan finansial sehingga risiko membeli seluruh investasi di satu titik harga dapat dikurangi.
Pendekatan seperti ini juga membantu membangun kebiasaan investasi jangka panjang tanpa terlalu terpengaruh fluktuasi harga harian.
Mengapa Kenaikan Harga Emas di Indonesia Bisa Lebih Tinggi?
Investor Indonesia membeli emas dalam rupiah. Karena itu, pergerakan harga emas domestik tidak hanya dipengaruhi oleh kenaikan harga emas dunia, tetapi juga oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Ketika harga emas global naik bersamaan dengan pelemahan rupiah, harga emas dalam rupiah berpotensi meningkat lebih tinggi.
Hal tersebut tercermin pada harga beli emas Treasury di Bareksa yang telah naik sekitar 35% dalam setahun terakhir berdasarkan data per 13 Juli 2026.
Grafik 3: Harga beli emas digital Treasury di Bareksa naik sekitar 35% dalam 1 tahun
Meski demikian, bagi investor yang memiliki tujuan jangka panjang, fokus utama sebaiknya bukan pada mencari harga terendah, melainkan membangun kepemilikan emas secara bertahap dan konsisten.
Mulai Investasi Emas Digital dengan Lebih Praktis
Kini, investasi emas tidak lagi harus dimulai dengan membeli emas batangan dalam jumlah besar.
Melalui Treasury di Bareksa Emas, investor dapat mulai membeli emas digital secara bertahap sesuai kemampuan, dengan fisik emas yang tersimpan di brankas kustodian. Harga mengikuti pergerakan pasar, transaksi dapat dilakukan secara online, dan kepemilikan emas dapat dipantau dengan lebih praktis melalui satu aplikasi.
Model investasi seperti ini memudahkan investor yang ingin menerapkan strategi pembelian berkala tanpa harus menunggu memiliki dana besar terlebih dahulu.
Manfaatkan Promo Harga Emas Digital di Bareksa
Bagi investor yang memang telah berencana menambah kepemilikan emas, momentum saat ini juga semakin menarik karena Bareksa menghadirkan promo harga beli emas Treasury.
Melalui Bareksa, kamu bisa membeli emas Treasury secara online dengan diskon 0,5% dari harga beli. Artinya, kamu sudah selangkah lebih unggul sejak awal investasi karena potensi kenaikannya lebih besar bila harga nanti naik lagi.
Sebagai ilustrasi, harga beli emas Treasury per 13 Juli 2026 berada di Rp2.449.686 per gram, maka:
Diskon 0,5% setara dengan sekitar Rp12.000 per gram
Harga beli menjadi Rp2.437.438
Spread dengan harga jual menjadi lebih tipis
Dengan harga masuk yang lebih murah, kamu otomatis:
Lebih cepat mencapai titik impas (break even)
Memiliki potensi keuntungan lebih besar saat harga emas naik
Promo harga diskon tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mulai berinvestasi atau menambah kepemilikan emas dengan harga yang lebih menarik, tanpa mengubah prinsip utama investasi jangka panjang, yaitu membeli secara bertahap dan konsisten.
Kesimpulan
Naiknya harga emas memang membuat sebagian investor ragu untuk mulai berinvestasi. Namun, di balik kenaikan tersebut terdapat faktor fundamental yang masih kuat, salah satunya adalah pembelian emas yang terus dilakukan oleh bank-bank sentral dunia.
Bagi investor ritel, kondisi ini menjadi pengingat bahwa emas bukan semata-mata instrumen untuk mengejar keuntungan jangka pendek, melainkan salah satu aset yang dapat membantu memperkuat portofolio dalam jangka panjang.
Dengan kemudahan investasi melalui emas Treasury di Bareksa, ditambah promo harga yang sedang berlangsung, membangun kepemilikan emas secara bertahap kini menjadi semakin mudah dilakukan.
Beli Emas Treasury, Klik di Sini
(ADV | hm)
* * *
DISCLAIMER
Fitur Bareksa Emas dikelola oleh PT Bareksa Inovasi Digital, bekerja sama dengan Mitra Emas berizin.
Pertanyaan Umum
Mengapa bank sentral terus membeli emas meski harganya sudah naik?
Bank sentral membeli emas bukan untuk mencari keuntungan jangka pendek, melainkan untuk mendiversifikasi cadangan devisa dan menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian ekonomi global. Emas dinilai mampu mempertahankan nilainya dalam jangka panjang serta tidak bergantung pada risiko kredit suatu negara. Karena itu, banyak bank sentral masih menambah kepemilikan emas meskipun harganya telah meningkat.
Apakah masih layak investasi emas setelah harganya naik?
Masih layak, terutama jika tujuan Anda adalah investasi jangka panjang. Tidak ada yang bisa memastikan kapan harga emas akan mencapai puncak atau mengalami koreksi. Daripada menunggu waktu yang belum pasti, banyak investor memilih membeli emas secara bertahap (dollar-cost averaging/DCA). Strategi ini membantu mengurangi risiko membeli di satu titik harga sekaligus dan membangun portofolio secara konsisten.
Apa keuntungan investasi emas digital dibanding emas fisik?
Emas digital menawarkan kemudahan karena dapat dibeli mulai dari nominal kecil, disimpan secara digital, dan dipantau melalui aplikasi tanpa perlu menyimpan emas fisik di rumah. Selain itu, transaksi jual beli dapat dilakukan dengan lebih praktis sesuai harga pasar. Bagi investor yang ingin berinvestasi secara bertahap, emas digital menjadi pilihan yang fleksibel dan mudah diakses.
Profil Penulis

Hanum Kusuma Dewi adalah seorang penulis dengan spesialisasi pada topik bisnis, keuangan, dan investasi termasuk reksa dana, saham, SBN hingga emas. Dengan latar belakang pendidikan di bidang komunikasi dan pengalaman 8+ tahun di pasar modal, Hanum juga melakukan riset untuk membuat konten yang mena
Pilihan Investasi di Bareksa
Klik produk untuk lihat lebih detail.
| Produk Eksklusif | Harga/Unit | 1 Bulan | 6 Bulan | YTD | 1 Tahun | 3 Tahun | 5 Tahun |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
Trimegah Dana Obligasi Nusantara autodebet | 1.225,92 | ||||||
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 1.183,82 | - | - | ||||
Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A | 1.029,69 | - | - | - | |||
STAR Stable Amanah Sukuk autodebet | 1.202,26 | - | - |
Produk Belum Tersedia
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.
