Harga Emas Hari Ini : Bloomberg Intelligence Ramal Akhir 2022 Emas Bisa Tembus US$2.500, Minyak US$50

Inflasi yang tinggi, melonjaknya komoditas, sentimen risk-off di ekuitas AS semuanya mendukung sentimen positif emas saat ini
Abdul Malik • 15 Mar 2022
cover

Ilustrasi harga emas yang diprediksi akan terus meningkat di tengah tekanan inflasi dan penurunan harga minyak. (Shutterstock)

Bareksa.com - Mampukah harga emas menutup tahun 2022 dengan skenario harga US$2.500 per troy ounce dan harga minyak di level US$50 per barel?  Emas adalah salah satu aset yang dinilai paling diuntungkan tahun ini. Sedangkan minyak masih menghadapi pelemahan permintaan. Demikian hasil analisis Bloomberg Intelligence seperti dilansir Kitco News (14/3/2022). 

“Pasar sedang menghadapi periode risk-off yang panjang. Kami melihat sangat penting buat kita untuk mengantisipasi tekanan inflasi. Emas akan jadi penerima manfaat utama, berpotensi bersama dengan obligasi tenor panjang Treasury AS dan Bitcoin," kata ahli strategi komoditas senior Bloomberg Intelligence Mike McGlone dilansir Kitco.

Emas siap untuk melewati US$2.000, potensi permainan akhir di 2022 minyak mentah US$50, emas US$2.500, resesi,” ungkap McGlone.

McGlone menyatakan emas telah diperdagangkan dalam pola yang menyempit, dan ini memiliki kebiasaan menembus ke atas. Secara historis, pada 2021, harga logam mulia di kisaran US$1.700 hingga US$1.950 per troy ounce, yang menurut dia cocok dengan pola Bollinger Band 50 pekan, atau merupakan yang tersempit sejak 2018. 

“Kami melihat kesejajaran dengan pola yang membentuk fondasi sekitar US$1.200 sekitar empat tahun lalu dan penembusan berikutnya di atas US$1.400 pada 2019 ketika The Fed mulai melakukan pelonggaran kebijakan moneternya lagi. Sekitar USS$1.800 adalah basis penguatan untuk potensi penembusan resistensi US$2.000," jelasnya.

Menurut McGlone inflasi yang tinggi, melonjaknya komoditas, sentimen risk-off di ekuitas AS semuanya mendukung sentimen positif untuk emas saat ini.

Bollinger bands adalah sebuah indikator yang diciptakan oleh John Bollinger yang digunakan untuk mengukur volatilitas harga pasar. Pada dasarnya, Bollinger bands mensinyalir kondisi market sedang ramai (loud) atau sedang sepi (quiet).

"Kami memandang logam mulia sebagai pemain akhir potensial di 2022, terutama ketika komoditas yang harganya biasanya dipengaruhi oleh besarnya pasokan, kini harus menyerah pada hancurnya permintaan,” ungkap dia. 

McGlone melihat emas sebagai alat lindung nilai mendapatkan peningkatan permintaan dari manajer portofolio yang mencari alternatif untuk risiko resesi dan imbal hasil ekuitas yang terlambat. 

Menurut dia, level resistensi emas di US$2.000 per troy ounce kemungkinan akan menjadi level "dukungan abadi". Ini akan menjadi perkembangan besar untuk logam mulia, yang telah melihat level ini sebagai resistensi yang kuat selama dua tahun terakhir.

"Kami percaya emas lebih mungkin untuk menang dalam jangka panjang," kata McGlone. 

"Tahun ini mungkin berakhir seperti tahun 2008 dan menyegarkan pasar bullish yang bertahan lama untuk emas vs pasar bearish untuk minyak mentah. Apa yang berbeda dari 14 tahun yang lalu adalah bahwa perang di Ukraina akan mempercepat proses teknologi menggantikan bahan bakar fosil, dan perluasan pasar saham menghadapi pengekangan Federal Reserve. Resesi adalah bahan utama untuk memerangi inflasi," tambah McGlone.

Dia menjelaskan harga tertinggi tahun 2022 untuk minyak mentah mungkin menjadi puncak yang ditetapkan selama beberapa dekade karena permintaan lumpuh di masa depan. 

"Ini jauh dari mengejutkan, karena ini adalah hasil khas dari lonjakan harga minyak mentah -- tertinggi sepanjang masa pada 2008 di dekat US$145 per barel sebagai contoh terbaru. Harga minyak West Texas Intermediate di US$130,5 pada 7 Maret kira-kira setara dengan harga saat Perang Teluk pada 1990 dan puncak di 2008 ketika diukur vs rata-rata 60 bulan," jelas McGlone. 

Berdasarkan data investing.com, harga emas berjangka di pasar spot untuk pengiriman April 2022 pada pagi ini (15/3/2022) pukul 10.28 WIB melemah 0,8 persen di level US$1.944 per troy ounce. 

Harga Emas Pegadaian dan Indogold

Senada dengan penurunan harga emas spot dunia, harga beli emas Pegadaian di fitur Bareksa Emas pada hari ini, Selasa (15/3) juga tercatat menurun ke level Rp929.000 per gram dari sebelumnya Rp939.000 pada Senin. 

Sumber : Bareksa

Sebaliknya harga beli emas Indogold justru naik ke level Rp936.354 pada Selasa (15/3) dibandingkan Senin yang di Rp935.345 per gram pada Senin (14/3). 

Sumber : Bareksa

Jika prediksi Bloomberg Intelligence jadi kenyataan bahwa harga emas bisa menembus level US$2.500 per troy ounce tahun ini di tengah tekanan inflasi dan harga minyak yang tertekan, maka penurunan harga emas saat ini bisa menjadi peluang untuk mendulang potensi cuan di masa depan. 

Perlu dicatat, emas adalah instrumen investasi jangka panjang dan sarana lindung nilai dari inflasi. Investasi logam mulia juga ada selisih harga beli dan harga jual, sehingga investor sangat disarankan apabila berniat menjualnya, hanya ketika harga jualnya sudah lebih tinggi dari harga ketika membeli emas. 

Pengen dapat cuan dari kilaunya emas? Yuk cuss segera investasi!

Investasi Sekarang

(AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER​

Fitur Bareksa Emas dikelola oleh PT Bareksa Inovasi Digital, berkerjasama dengan Mitra Emas berizin.