Jelang Lebaran, Penjualan Emas Meningkat

Emas bisa digunakan sebagai alat investasi karena harganya yang cenderung terus meningkat
Bareksa • 24 May 2019
cover

Pramuniaga menunjukkan emas batangan Logam Mulia Antam produksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) untuk investasi di sebuah gerai emas di Malang, Jawa Timur, Jumat (7/12/2018).

Bareksa.com - Menjelang libur lebaran seperti saat ini, kebutuhan masyarakat meningkat karena harus membiayai hidangan, mudik dan kebutuhan hari raya lainnya. Dengan meningkatnya kebutuhan tersebut, banyak masyarakat yang menggunakan berbagai macam cara untuk membiayai kebutuhannya mulai dari meminjam uang, mencairkan tabungan hingga menjual emas.

Direktur Pemasaran dan Pengembangan Produk PT Pegadaian (Persero) Harianto Widodo menjelaskan, pada libur lebaran seperti saat ini, penjualan emas di Pegadaian memang cenderung meningkat.

"Trennya naik," ujar dia kepada Bareksa, Jumat (24 Mei 2019).

Namun peningkatan tersebut tidak lebih tinggi dibandingkan April 2019. Hal tersebut bukan disebabkan karena minat masyarakat yang menurun terhadap penjualan emas, tetapi karena adanya program dari Pegadaian untuk meningkatkan gadai emas.

"April ada program April Emas," kata dia.

Selain bisa dijual ataupun digadaikan, emas sebenarnya juga bisa digunakan sebagai wadah investasi. Kebetulan saat ini, para pekerja menerima tunjangan hari raya (THR) sehingga pas rasanya untuk dibelikan emas dan dijadikan sebagai alat investasi.

Emas menjadi alat investasi yang optimal karena volumenya yang tidak akan berubah dan harganya yang terus meningkat seiring perubahan nilai tukar. Saat ini, harga emas logam mulia acuan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencapai Rp617.000 per gram, meningkat 0,65 persen  dari hari sebelumnya yang mencapai Rp613.000 per gram.

Penguatan harga terjadi signifikan seiring dengan lonjakan harga emas di pasar spot global dalam 2 hari terakhir yang dikompori semakin panasnya perang dagang China-Amerika Serikat (AS).

Pembelian emas pun saat ini semakin mudah dilakukan karena bisa dilakukan secara digital. Harianto mengatakan antusiasme masyarakat untuk membeli emas digital cukup tinggi. Perseroan menargetkan sekitar 25 persen dari total tabungan emas tahun ini bisa berasal dari emas digital.

Semenjak perseroan meluncurkan fitur tabungan emas pada akhir 2016, masyarakat semakin banyak yang menggunakan fitur tabungan emas. "Sampai April 2019 ini, volume tabungan emas sudah mencapai sekitar 2,5 ton, kenaikannya cukup signifikan," ujar dia.

Kenaikan ini juga terjadi karena banyak ditutupnya usaha emas digital ilegal. Menurut Harianto, fitur emas digital yang dikembangkan Pegadaian berbeda dengan usaha emas digital yang ditutup tersebut.

"Kalau di Pegadaian, emas fisiknya ada jadi bukan hanya paper gold," terang dia.

Karena itu, hal ini juga berdampak pada tabungan emas digital di Pegadaian. Menurut dia, kendati produk emas digital ini merupakan produk baru, sekitar 15 persen dari tabungan emas Pegadaian berasal dari emas digital.

Tahun ini, Harianto mengungkapkan pihaknya semakin optimistis tabungan emas ini akan semakin menggeliat. Dia menargetkan volume tabungan emas sampai akhir 2019 bisa mencapai 3 ton dengan kontribusi emas digital sebanyak 25 persen.

Untuk menggerakkan tabungan emas digital, Pegadaian menjalin kerja sama dengan marketplace seperti Tokopedia.

"Kami juga menggerakkan layanan Pegadaian digital dan 4.200 gerai kami di seluruh Indonesia," ucap dia. (hm)