Generasi Milenial Jadi Alasan Penjualan Emas Secara Digital

Milenial menginginkan kepraktisan dalam membeli emas, yakni dengan menggunakan telepon genggam
Bareksa • 10 May 2019
cover

Pegawai Bank Syariah Mandiri (kiri) melayani nasabah yang melakukan gadai emas di Kantor Cabang Mandiri Syariah area Mayestik, Jakarta, Selasa (23/4/2019). ANTARA FOTO/Audy Alwi/hp

Bareksa.com - Penetrasi pengguna telepon genggam yang semakin meningkat mendorong adanya digitalisasi di segala kegiatan ekonomi, termasuk penjualan emas. Penjualan emas yang selama ini hanya bisa dilakukan secara offline, bisa dilakukan secara online atau melalui penjualan emas secara digital.

Senior Executive Vice President PT Bank Syariah Mandiri Niken Andonowarih menjelaskan, penjualan emas secara digital sebenarnya hanya masalah proses.

"Kalau dahulu pembelian emas dilakukan dengan mendatangi kantor cabang, saat ini sudah tidak lagi," ungkap dia di Jakarta, Kamis (9/5).

Hal ini juga sejalan dengan keinginan milenial yang menginginkan kepraktisan dan kemudahan dalam membeli emas. Niken menjelaskan, saat ini hampir semua lapisan masyarakat memiliki telepon genggam dan mereka menginginkan agar membeli emas juga bisa dilakukan melalui telepon genggam yang mereka miliki.

"Nanti kalau sudah melalui digital, bisa lihat harga emas melalui handphone, tentu jadi lebih mudah," kata dia.

Melihat fenomena ini, Niken mengungkapkan pihaknya berencana mengembangkan penjualan emas secara digital, baik secara gadai maupun cicil. "Tahun ini Insya Allah, kami akan bikin sendiri,"papar dia.

Saat ini anak usaha PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tersebut memiliki bisnis gadai emas dan cicil emas. Selain BSM, sudah ada PT Pegadaian (Persero) yang sudah terlebih dahulu mengembangkan penjualan emas secara digital.

Direktur Pemasaran dan Pengembangan Produk Pegadaian Harianto Widodo mengatakan antusiasme masyarakat untuk membeli emas digital cukup tinggi. Perseroan menargetkan sekitar 25 persen dari total tabungan emas tahun ini bisa berasal dari emas digital.

Semenjak perseroan meluncurkan fitur tabungan emas pada akhir 2016, masyarakat semakin banyak yang menggunakan fitur tabungan emas.

"Sampai April 2019 ini, volume tabungan emas sudah mencapai sekitar 2,5 ton, kenaikannya cukup signifikan," ujar dia.

Kenaikan ini juga terjadi karena banyak ditutupnya usaha emas digital ilegal. Menurut Harianto, fitur emas digital yang dikembangkan Pegadaian berbeda dengan usaha emas digital yang ditutup tersebut.

"Kalau di Pegadaian, emas fisiknya ada jadi bukan hanya paper gold," terang dia.

Karena itu, hal ini juga berdampak pada tabungan emas digital di Pegadaian. Menurut dia, kendati produk emas digital ini merupakan produk baru, namun sekitar 15 persen dari tabungan emas Pegadaian berasal dari emas digital.

"Walaupun produk baru, tapi perkembangannya sudah lumayan, karena pada dasarnya prinsipnya sama, menyimpan emas," kata dia.

Tahun ini, Harianto mengungkapkan pihaknya semakin optimistis tabungan emas ini akan semakin menggeliat. Dia menargetkan volume tabungan emas sampai akhir 2019 bisa mencapai 3 ton dengan kontribusi emas digital sebanyak 25 persen.

Untuk menggerakkan tabungan emas digital, Pegadaian menjalin kerja sama dengan marketplace seperti Tokopedia.

"Kami juga menggerakkan layanan Pegadaian digital dan 4.200 gerai kami di seluruh Indonesia," ucap dia.

(AM)