Berita Hari Ini : Peluang Reksadana Pasar Uang, 2021 Momen Kebangkitan Pasar Modal

January effect topang IHSG, SCF dorong pasar modal, OJK beri izin 6 perusahaan gadai, rupiah menguat ke Rp13.000-an
Abdul Malik • 05 Jan 2021
cover

Pembukaan perdagangan saham tahun 2021 oleh Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto (kedua kiri) didampingi Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso (kedua kanan) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 4 Janyuari 2021. (dok. OJK)

Bareksa.com - Berikut adalah perkembangan penting di isu ekonomi, pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Selasa, 5 Januari 2021 :

IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan menguat pada perdagangan Selasa (5/1) ini. Analis Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christoper Jordan menyebut indeks akan ditopang oleh January Effect atau fenomena tahunan yang membuat harga saham naik pada awal tahun.

Meski begitu, penguatan masih akan dibayangi kekhawatiran atas peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia yang disebabkan libur akhir tahun. "IHSG diprediksi menguat. Secara teknikal candlestick membentuk formasi Bullish Engulfing mengindikasikan potensi penguatan jangka pendek," kata Dennies dilansir CNN Indonesia, Selasa (5/1).

Dia memproyeksikan indeks saham bergerak di rentang support 5.870-5.987 dan resistance 6.162-6.220.

Direktur Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya juga melihat potensi penguatan indeks, didorong oleh fundamental perekonomian dalam negeri. "Hari ini peluang kenaikan masih terlihat," ujarnya.

Dengan sentimen itu, ia memprediksi IHSG melaju di rentang support 5.921 dan resistance 6.123.

Sementara itu, saham-saham utama Wall Street ditutup melemah. Indeks Dow Jones melempem 1,25 persen ke level 30.223, S&P 500 merah 1,48 persen ke level 3.700, dan Nasdaq Composite terjun 1,47 persen menjadi 12.698.

Reksadana

Kinerja reksadana pasar uang yang tercermin dari Infovesta 90 Money Market Fund Index sepanjang 2020 berhasil mencatatkan pertumbuhan 4,67 persen. Dengan kinerja tersebut, reksadana pasar uang membukukan kinerja yang lebih baik dibanding reksadana saham dan campuran.

Head of Fixed Income Sucorinvest Asset Management Dimas Yusuf mengungkapkan kinerja reksadana pasar uang sebenarnya cenderung tertekan dan tidak seoptimal tahun-tahun sebelumnya. Hal ini seiring dengan adanya pandemi yang akhirnya membuat Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan hingga lima kali sepanjang 2020.

“Dampak pemangkasan tersebut tentunya membuat suku bunga Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga ikut turun. Alhasil, imbal hasil deposito juga ikut mengalami penurunan yang pada akhirnya ikut menurunkan imbal hasil reksadana pasar uang secara keseluruhan,” kata Dimas dilansir Kontan.co.id, Senin (4/1).

Kendati demikian, reksadana pasar uang menurut Dimas pada tahun lalu masih tetap jadi incaran para investor yang berusaha untuk menjaga likuiditas mereka. Bagaimanapun, reksadana pasar uang dari segi imbal hasil dan risiko tetap lebih menarik dibanding deposito secara umum.

Walaupun secara tahunan kinerja reksadana pasar uang lebih baik dibanding reksadana campuran maupun reksadana saham, Dimas bilang ketika pemulihan ekonomi mulai berjalan, kinerja pasar uang justru kalah dibanding reksadana saham maupun reksadana campuran.

“Tapi, bagi investor pemula maupun yang berprofil moderat, banyak dari mereka yang tetap mempertahankan portofolio mereka di pasar uang karena volatilitas yang masih tinggi di jenis reksadana lain. Jadi secara keseluruhan reksadana pasar uang masih membukukan kinerja yang cukup baik di tengah berbagai kondisi ketidakpastian pada tahun lalu,” tambah Dimas.

Menyambut tahun ini, reksadana pasar uang dinilai masih tetap jadi pilihan yang menarik. Hanya saja, Dimas mengatakan potensi penurunan imbal hasil masih cukup terbuka. Menurutnya, masih akan terjadi ekses likuiditas karena dana perbankan masih belum secara optimal dapat dialihkan ke kredit riil.

Dimas menilai, hal ini berpotensi membuat suku bunga deposito bisa kembali turun. Ditambah lagi, produk obligasi korporasi bertenor di bawah satu tahun diperkirakan akan memberikan imbal hasil yang lebih kecil seiring tren suku bunga yang juga rendah. Ini bisa mempengaruhi potensi imbal hasil dari reksadana pasar uang.

Direktur Batavia Prosperindo Asset Management Yulius Manto mengungkapkan pada tahun ini penurunan suku bunga tidak akan terjadi lagi, namun peluang kenaikan suku bunga juga cukup kecil. Sehingga besar kemungkinan return dari reksadana pasar uang tidak akan banyak berbeda dibanding tahun lalu.

“Mungkin tahun ini untuk return reksadana pasar uang ada di kisaran 3,5-4,5 persen. Secara return memang tidak tinggi, tapi hal ini kan memang sejalan dengan sifat reksadana pasar uang yang lebih untuk menjaga likuiditas ketimbang mengejar return,” kata Yulius.

Securities Crowd Funding

Inisiatif Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait penawaran efek melalui layanan urun dana berbasis teknologi atau securities crowd funding (SCF) diyakini dapat menjadi langkah awal kebangkitan pasar modal pasca pandemi Covid-19. VP Economist Bank Permata Josua Pardede mengatakan inisiatif tersebut memberikan peluang bagi pengusaha muda dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk mendapatkan alternatif sumber pendanaan melalui pasar modal.

Dengan demikian, penghimpunan dana melalui pasar modal pun berpotensi semakin ramai pada tahun ini dan memperbesar ruang pemulihan kinerja pasar modal setelah diterpa sentimen negatif pandemi Covid-19.

“Namun, tidak serta-merta pasar modal langsung bergairah. Ini baru langkah awal saja. Masih perlu banyak dukungan lanjutan seperti pembinaan setiap UMKM dan literasi terkait produk baru ini,” ujar Josua dilansir Bisnis, Senin (4/1/2021).

Dia menjelaskan, jika setelah mendapatkan SCF semakin banyak UMKM yang berhasil menjaga kinerjanya, bahkan berhasil naik kelas, maka dengan sendirinya investor akan berbondong-bondong mengakselerasi implementasi SCF itu dan semakin banyak UMKM yang menggalang dana melalui pasar modal.

Karena itu, pembinaan UMKM dinilai menjadi salah satu poin penting setelah inisiatif kebijakan ini diluncurkan. UMKM harus tetap menjaga bahkan meningkatkan ekspektasi setiap investor dengan cerminan kinerjanya.

Untuk diketahui, bertepatan dengan seremoni pembukaan perdagangan 2021 pada Senin (4/1/2021), Bursa Efek Indonesia dan OJK resmi meluncurkan SCF. Skema ini merupakan salah satu pembiayaan alternatif penggalangan dana melalui pasar modal.Melalui skema ini, sebuah bisnis atau individu dapat mencari pendanaan dari satu atau beberapa investor di pasar modal. Selain itu, dana yang dihimpun bisa dilindung nilai (hedge) untuk jangka waktu tertentu.

Skema ini utamanya ditujukan bagi usaha kelas menengah dan perusahaan rintisan yang biasanya masih kesulitan untuk masuk ke pasar modal karena bentuk badan usahanya belum memenuhi kriteria skema pendanaan yang sebelumnya ada.

Sebagai contoh, berdasarkan POJK 37/POJK.04/2018 tentang Layanan Urun Dana Melalui Penawaran Saham Berbasis Teknologi Informasi (Equity Crowdfunding), badan usaha yang diperkenankan melakukan crowdfunding hanya yang berbentuk perseroan terbatas (PT) atau koperasi.

Dengan kata lain, securities crowdfunding ini merupakan transformasi atau bentuk baru dari equity crowdfunding dengan aturan yang lebih fleksibel dan cakupan yang lebih luas. Melalui aturan baru, pasal ini akan diperluas sehingga badan usaha lain selain PT dan koperasi, seperti badan usaha yang berbentuk CV, NV, firma dan sebagainya, juga dapat melakukan crowdfunding di pasar modal.

Selain kriteria penerbit, OJK juga memperluas jenis efek yang ditawarkan melalui crowdfunding, dari yang sebelumnya hanya efek saham, nantinya ditambah dengan efek bersifat surat utang dan sukuk (EBUS).OJK dan otoritas bursa lainnya berharap adanya revisi aturan equity crowdfunding menjadi securities crowdfunding akan membuat kesempatan penggalangan dana di pasar modal terbuka lebih lebar bagi UKM.

Perusahaan Gadai

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan izin usaha bagi enam perusahaan gadai pada penghujung 2020. Jumlah perusahaan gadai pun bertambah dari yang sebelumnya sebanyak 91 entitas. Otoritas mengumumkan pemberian izin usaha enam perusahaan gadai, yakni satu perusahaan pada Jumat (25/12/2020) dan lima lainnya pada Rabu (30/12/2020). Jumlah perusahaan gadai pun bertambah pada penghujung 2020.

Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) I OJK Anggar Budhi Nuraini menjelaskan perusahaan pertama yang memperoleh izin pada akhir tahun lalu adalah PT Gadai Cahaya Terang Abadi. Izin itu dikantongi pada Senin (21/12/2020) dengan nomor KEP-167/NB.1/2020.

Gadai Cahaya Terang Abadi berlokasi di Jalan Raya Mandalika Depan Terminal Renteng, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah. Setelah mengantongi izin, perseroan pun harus mencantumkan informasi yang jelas dan rinci terkait operasionalnya. Lalu, perusahaan kedua adalah PT Mari Gadai Sejahtera yang memperoleh izin pada Senin (21/12/2020) dengan nomor KEP-168/NB.1/2020.

Namun, OJK baru mengumumkan pemberian izin bagi Mari Gadai Sejahtera dan empat perusahaan gadai lain pada Rabu (30/12/2020). Mari Gadai Sejahtera berlokasi di Jalan Jamin Ginting No.727B, Kelurahan Beringin, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan, Provinsi Sumatra Utara.

Adapun, empat perusahaan gadai lainnya yang mengantongi izin dari OJK pada akhir 2020 adalah PT Dotri Gadai Jaya (izin nomor KEP-169/NB.1/2020), PT Berkat Gadai Sumatera (KEP-170/NB.1/2020), PT Nimfa Gadai Sejahtera (KEP-171/NB.1/2020), dan PT Graha Santika Gadai (KEP-172/NB.1/2020).Anggar menjelaskan bahwa permohonan izin dari keenam perusahaan telah sesuai dengan ketentuan Peraturan OJK (POJK) 31/2016 tentang Usaha Pergadaian.

Mereka pun dapat segera melakukan kegiatan usaha gadai setelah mengantongi izin dari OJK."Sesuai dengan ketentuan Pasal 11 ayat (1) dan ayat (2) POJK 31/2016, perusahaan gadai diwajibkan untuk melakukan kegiatan usaha paling lama 30 hari kerja sejak tanggal dimulainya kegiatan usaha," tulis Anggar dalam pengumuman resmi OJK yang dikutip Bisnis pada Senin (4/1/2021) dilansir Bisnis.com.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan sinyal pemulihan ekonomi yang saat ini terjadi, merupakan momentum bagi bangkitnya industri pasar modal. "Baik dari sisi investor yang disediakan alternatif instrumen investasi di pasar modal dengan return yang lebih tinggi dari deposito, dan dari sisi issuer juga disediakan alternatif pembiayaan dari pasar modal dengan yield yang relatif rendah dibandingkan kredit perbankan," kata Wimboh dalam keterangan tertulis, Senin, 4 Januari 2021 dilansir Tempo.co.

Hal itu dia sampaikan saat pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan di awal 2021. Dia mengatakan momentum bangkitnya pasar modal ini tercermin dari beberapa capaian penting di tahun 2020. Di antaranya peningkatan transaksi investor sebesar 73 persen dari tahun sebelumnya, dengan transaksi investor ritel yang meningkat empat kali lipat dan merupakan tertinggi di ASEAN.

Jumlah investor pasar modal, kata dia juga naik 56 persen dibandingkan tahun lalu menjadi 3,88 juta investor, didominasi oleh investor domestik yang berumur di bawah 30 tahun (kaum investor milenial) yang tercatat mencapai 54,79 persen dari total investor.

Menurutnya, antusiasme kalangan korporasi untuk terus menggalang dana melalui penawaran umum yang ternyata masih terjaga di masa pandemi. Terdapat 53 emiten baru dengan 51 perusahaan tercatat di bursa, merupakan tertinggi di ASEAN, dengan nilai penghimpunan dana sebesar Rp118,7 triliun.

Selain itu, diperolehnya pengakuan global sebagai The Best Islamic Capital Market 2020 dari Global Islamic Finance Awards didukung Roadmap Pasar Modal Syariah 2020-2024. Adapun dia menuturkan sinyal pemulihan ekonomi sudah mulai terlihat dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto yang membaik di kuartal III dari minus 5,32 persen di kuartal II menjadi minus 3,49 persen.

Sinyal pemulihan juga terlihat dari kenaikan penjualan kendaraan bermotor, kinerja manufaktur yang kembali di zona ekspansi, dan indekspenjualan eceran yang membaik. Stabilitas sektor jasa keuangan, kata dia, juga tetap terjaga dengan baik yang ditunjukkan oleh permodalan yang tinggi dengan CAR 24,19 persen, likuiditas yang memadai didukung alat likuid perbankan yang terus meningkat pada level tertinggi dalam sejarah mencapai sekitar Rp2,25 triliun.

Selain itu, profil risiko juga dapat dikelola dengan baik tercermin dari tingkat NPL terjaga di 3,18 persen ditopang oleh restrukturisasi sekitar 18 persen dari total kredit termasuk korporasi emiten dan relatif lebih rendah dibandingkan negara tetangga.

Di pasar modal, IHSG telah menunjukkan penguatan dan sempat rebound di atas level 6.000 (tertinggi di level 6.165,6 tanggal 21 Desember 2020) dan ditutup di level 5.979,07 atau terkontraksi 5,09 persen ytd, lebih baik dibandingkan bursa negara-negara tetangga seperti Singapura, Filipina, dan Thailand.

Demikian juga dengan pasar Surat Berharga Negara yang terus mengalami penguatan dengan yield turun 105 bps secara year-to-date (benchmark SBN 1 tahun 3,64 persen).

Rupiah

Mengawali tahun 2021, rupiah menguat ke Rp13.000-an. Ini adalah level terkuat rupiah sejak Juni 2020. Senin (4/1), rupiah menguat 1,1 persen di Rp13.895 per dolar AS. Ekonom Bank Permata Josua Pardede berpendapat, rupiah menguat terhadap dolar AS pada awal perdagangan tahun 2021 dipengaruhi oleh pelemahan dolar AS terhadap mata uang utama.

Bahkan indeks dolar pada Senin (4/1) di 89,95 adalah level terendah sejak April 2018. Pelemahan dolar AS terhadap mata uang dunia dipengaruhi oleh optimisme terhadap pemulihan ekonomi global pada tahun 2021. Josua menambahkan, penurunan permintaan asset safe haven termasuk dolar AS dan US Treasury membuat aset emerging market seperti rupiah menjadi aset yang diburu investor.

"Yield US Treasury dengan tenor 10 tahun naik sekitar 2bps menjadi 0,94 persen. Ini sejalan dengan harapan penanganan Covid-19 di berbagai negara dunia mengingat vaksinasi mulai dijalankan di sebagian besar negara," terang dia dilansir Kontan.

Saat ini, jumlah kasus Covid 19 di berbagai negara masih terus meningkat. Kondisi sentimen risiko yang mendukung tersebut mendorong permintaan aset-aset keuangan yang lebih berisiko termasuk aset keuangan berdenominasi rupiah. Sementara, yield SUN dengan tenor 10 tahun tercatat turun 2 bps menjadi 5,87 persen.

Beberapa faktor fundamental yang mempengaruhi penguatan rupiah antara lain daya tarik aset keuangan rupiah terutama SBN yang tetap menarik."Selisih real yield dari risk free asset Indonesia yang lebih sangat bersaing jika dibandingkan dengan aset keuangan negara berkembang lainnya atau bahkan negara-negara yang memiliki sovereign rating yang serupa," jelas Josua.

Selain itu, Josua percaya prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia akan pulih relative lebih cepat dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya sehingga mendorong differential growth yang tetap menarik. Dengan demikian investor asing diperkirakan kembali masuk ke pasar keuangan negara berkembang termasuk pasar keuangan domestik.

(*)