Berita Hari Ini : Wimboh Sebut Bunga BI Bisa Turun, Maybank Siap Ganti Uang Winda Earl

Pfizer klaim vaksin Covid-19 efektif 90 persen, IKK Oktober kembali turun, OJK siapkan 4 aturan fintech, reksadana positif terdampak euforia Pilpres AS
Abdul Malik • 10 Nov 2020
cover

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso memberikan sambutan dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan Tahun 2020 di Jakarta, Kamis (16/1/2020). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

Bareksa.com - Berikut adalah perkembangan penting di isu ekonomi, pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Selasa, 10 November 2020 :

Otoritas Jasa Keuangan

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyuarakan penurunan suku bunga acuan untuk mendorong penyaluran kredit sehingga memompa pertumbuhan ekonomi. Menurut Wimboh, penurunan suku bunga acuan (BI 7 day Repo Rate) masih terbuka karena kondisi likuiditas perbankan saat ini cukup melimpah. Penurunan bunga acuan akan mendorong perbankan mengurangi beban bunga dana sehingga memangkas bunga kredit. Saat ini suku bunga BI di 4 persen. “Saat ini ruang penurunan suku bunga acuan terbuka. Bisa diturunkan lagi, likuiditas perbankan juga cukup likuid,” ujar Wimboh di sela-sela peresmian kantor OJK NTB di Mataram, Senin (9/11/2020) dilansir Bisnis.com.

Pundi-pundi dana masyarakat di perbankan nasional terus meningkat semenjak pandemi Covid-19 menghantam perekonomian. Akibatnya, masyarakat lebih memilih menabung dananya di bank dibandingkan dengan membelanjakan. Hal itu terlihat dari data OJK per September 2020. Penghimpunan dana pihak ketiga bank tercatat tumbuh 12,88 persen (year on year/YoY) menjadi Rp6.651 triliun. Dana masyarakat itu terus meningkat dari bulan sebelumnya tumbuh 11,64 persen (YoY) menjadi Rp6.488 triliun.

Menurut Wimboh, resep mendorong kebangkitan ekonomi saat ini dengan memberikan kelonggaran dan tidak menaikkan suku bunga. Hal itu, sambungnya, justru akan membebani pelaku usaha dan berdampak negatif pada perbankan apabila gagal bayar. Dia berkaca pada saat krisis 1998 ketika diberikan resep untuk menaikkan suku bunga saat krisis moneter mendera. “Resep yang salah ketika 1998 dengan menaikkan suku bunga. Akibatnya ekonomi malah tertekan dan membuat debitur gagal bayar,” jelasnya.

Vaksin Covid-19

Kabar gembira kembali muncul terkait pengembangan vaksin Covid-19. Adalah vaksin milik Pfizer asal Amerika Serikat yang berkolaborasi dengan BioNTech (Jerman). Kabar terakhir mengatakan vaksin tersebut efektif menangkal virus Covid-19 hingga lebih dari 90 persen tanpa adanya efek samping berbahaya. Demikian data yang dipublikasikan oleh kedua raksasa farmasi tersebut terkait uji klinis tahap akhir seperti dilansir dari CNBC International, Senin (9/11/2020).

Efektivitas vaksin hingga 90 persen tentu jadi kabar baik karena sejumlah ahli memperkirakan efektivitas vaksin hanya 75 persen. Sebelumnya Penasihat kesehatan Gedung Putih Anthony Fauci mengungkapkan vaksin dengan efektivitas minimal 50-60 persen yang bisa diterima manusia. Kabar ini muncul di saat sejumlah produsen obat-obatan dan pusat penelitian dunia berlomba untuk membuat vaksin yang aman dan efektif karena virus ini telah merenggut lebih dari 1,25 juta nyawa.

Chairman & CEO Pfizer Albert Bourla mengatakan perkembangan terakhir tersebut menjadi hari yang indah bagi ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Efikasi final dari vaksin tersebut dikatakan aman. "Hasil pertama dari uji klinis fase tiga uji vaksin mengindikasikan kemampuan vaksin kami untuk mencegah Covid-19," ujar Bourla dalam pernyataannya dilansir CNBC Indonesia.

Kedua perusahaan tersebut berencana untuk mengajukan penggunaan darurat vaksin kepada Food and Drug Administration (FDA) AS pada pekan ketiga November 2020. Pfizer dan BioNTech berencana memproduksi 50 juta dosis vaksin Covid-19 di 2020 dan 1,3 miliar dosis di 2021. Diketahui keduanya sudah mulai uji klinis fase akhir di Juli 2020 lalu.

Indeks Keyakinan Konsumen

Setelah turun pada bulan September 2020, keyakinan konsumen kembali menurun pada bulan Oktober 2020. Ini terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada bulan laporan yang sebesar 79,0 atau turun dari IKK bulan September 2020 yang sebesar 83,4.

“Penurunan IKK disebabkan oleh penurunan kedua indeks pembentuknya, yaitu Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) saat ini dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK),” tulis Bank Indonesia (BI) dalam laporan terkait survei konsumen, Senin (9/11).

Terperinci, IKE Oktober 2020 tercatat 51,5 atau menurun 2,6 poin dari IKE pada bulan September 2020 yang sebesar 54,1. Menurut BI, penurunan IKE ini disebabkan oleh penurunan seluruh komponen indeks penyusunnya, dengan penurunan terdalam pada Indeks Penghasilan Saat Ini yang turun 4,7 poin menjadi 52,9. Kemudian, diikuti oleh Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja yang turun 3,0 poin menjadi 32,3, dan Indeks Pembelian Barang Tahan (durable goods) yang turun 0,3 poin menjadi 69,2.

Sementara itu, IEK pada Oktober 2020 tercatat sebesar 106,6 atau turun 6,0 poin dari 112,6 pada September 2020. Dari angka tersebut, terlihat kalau perkiraan konsumen terhadap aspek kegiatan usaha, ketersediaan lapangan kerja, dan peningkatan penghasilan pada 6 bulan mendatang akan lebih terbatas. Ini juga terbukti dari Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja, dan INdeks Ekspektasi Penghasilan pada 6 bulan mendatang yang menurun dari bulan sebelumnya.

Lebih lanjut, penurunan Indeks Keyakinan Konsumen pada bulan Oktober 2020 terjadi pada sebagian besar kelompok tingkat pengeluaran responden, dengan terdalam pada responden dengan pengeluaran Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan. 

Maybank Indonesia

PT Bank Maybank Indonesia melalui kuasa hukumnya Hotman Paris mengatakan siap mengganti tabungan Winda Lunardi atau Winda Earl yang hilang. Namun, polisi harus menguak terlebih dahulu fakta-fakta yang dinilai janggal. "Maybank bertekad ini harus jelas dulu apa motivasi keanehan ini. Sesudah jelas kalau memang benar, Maybank bayar," kata Hotman dalam jumpa pers di kawasan Pantai Mutiara, Pluit, Jakarta Utara, Senin (9/11/2020) dilansir Kompas.com. "Tapi kalau memang diduga orang lain terlibat, masa bayar begitu saja?" lanjutnya.

Sebelumnya, Winda mengaku uang sekitar Rp20 miliar yang disimpan di Maybank Indonesia raib. Ia pun telah melaporkan kasus ini ke Bareskrim Polri. Polisi telah menangkap Kepala Cabang Maybank Cipulir berinisial A sebagai tersangka. Dalam jumpa pers itu, Hotman bersama Kepala Bagian Tindak Kejahatan Finansial Maybank, Andiko menjabarkan beberapa fakta yang dinilai janggal. Hotman mengatakan sejak Winda membuka rekening di Maybank, buku tabungan dan ATM milik Winda dipegang oleh tersangka A.

"Jadi sejak dibuka buku tabungan oleh Winda, buku dan ATM dipegang tersangka, ini menurut tersangka. Pertanyaannya, Anda sebagai pemilik uang kenapa Anda biarkan kartu ATM Anda dipegang pihak lain?" ujar Hotman.

Andiko menjelaskan, Winda pertama kali membuka rekening di Maybank pada 27 Oktober 2014 dengan jumlah tabungan Rp2 Miliar yang ditransfer dari rekening Herman Lunardi, ayah Winda. Sejak saat itu, berdasarkan pengakuan tersangka A, Winda tidak pernah memegang kartu ATM dan buku tabungannya. Tak sampai di situ, Hotman dan Andiko juga mengungkapkan, bunga bank yang seharusnya diterima Winda rupanya dikirim oleh tersangka A ke rekening Herman Lunardi, dengan rekening pribadi tersangka.

"Jadi kita meneliti rekening A dari Maybank, dari situ kita melihat ternyata ada aliran dana dari A ini kepada orang tua dari nasabah yaitu Herman Lunardi dari rekening bank lain," kata Andiko. "Jadi bunga atas tabungan tersebut, bukan dari Maybank, tapi dari rekening pribadi dari si A, di bayarkan ke rekening pribadi Herman Lunardi," lanjut Hotman. Terkuak juga bahwa tersangka A telah lama mengenal ayah dari Winda, Herman Lunardi. Fakta-fakta tersebut dinilai memiliki kejanggalan oleh pihak Maybank. Mereka pun meminta agak penyidik benar-benar menguak kebenaran dari kasus tersebut.

Presiden Direktur Maybank Taswin Zakaria menyatakan pihaknya memang telah melakukan investigasi terkait. Bahkan ia mengaku laporan kepada kepolisian sejatinya dilakukan oleh perseroan. “Maybank di sini juga sebagai pelapor, mohon perlindungan hukum dan investigasi kemungkinan keterlibatan pihak-pihak selain internal. Mohon kita sama-sama mengikuti dan menghormati dulu proses yang sedang berjalan" ujar Taswin.

Sebelumnya diberitakan, seorang nasabah Maybank Indonesia bernama Winda Lunardi alias Winda Earl mengaku kehilangan uang tabungannya sebesar Rp20 miliar. Winda lantas melaporkan kasus hilangnya uang senilai Rp 20 miliar di rekeningnya dan rekening ibunya kepada polisi. Laporan itu disampaikan korban ke polisi dan terdaftar dengan nomor LP/B/0239/V/2020/Bareskrim tanggal 8 Mei 2020. Winda Earl yang merupakan atlet eSport atau gamer dan ibunya, Floletta Lizzy Wiguna, kehilangan uang sekitar Rp 20 miliar yang disimpan di Maybank Indonesia. Bareskrim Polri pun sudah menetapkan satu tersangka yang notabene adalah karyawan bank, yakni Kepala Cabang Maybank Cipulir berinisial A.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana melakukan evaluasi terhadap sistem pengawasan internal PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) terkait kasus penggelapan uang nasabah yang dilakukan pegawai Maybank. “Pengawas OJK akan mengveluasi sistem pengawasan internal bank agar ke depannya bank terhindar dari fraud yang dilakukan oknum bank,” ujar Deputi Komisioner Humas dan Logistik OJK Anto Prabowo seperti dikutip Kontan.co.id.

Anto mengimbau agar Maybank segera menggelar investigasi terkait kasus ini. Sebab dari hasil pemeriksaan diketahui, tersangka juga turut melakukan pemalsuan rekening korban sehingga seolah-olah dana korban tetap berada di rekeningnya. Anto meminta Maybank bisa segera melakukan tindak lanjutan terkait perlindungan nasabahnya, Winda Earl.

Fintech

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan melengkapi aturan lebih terperinci terkait empat jenis teknologi finansial (tekfin/fintech), terutama yang mulai ramai pengguna dan familiar di mata masyarakat. Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Nurhaida mengungkap hal tersebut dalam diskusi virtual dan peluncuran Indonesia Fintech Society (IFSoc) bertajuk Peranan Fintech dalam Pemulihan Ekonomi Nasional, Senin (9/11/2020).

Nurhaida mengungkap bahwa hingga kini baru ada aturan khusus dan terperinci terkait fintech peer-to-peer lending (P2P lending) dan equity crowdfunding (ECF). Padahal, setidaknya sudah ada 18 klaster fintech dalam Grup Inovasi Keuangan Digital (IKD) OJK dalam cakupan POJK No 13/2018. Sekadar informasi, beleid peraturan ini mencakup aturan dalam penelitian dan pendalaman terhadap para perusahaan fintech penyelenggara IKD, yang dinamai mekanisme regulatory sandbox.

Selama masuk dalam pengawasan grup IKD OJK, para penyelenggara akan melewati tiga lapis perizinan, yakni tercatat, terdaftar, dan berizin. "Ke depan, untuk masing-masing klaster, ada yang perlu diatur lebih lanjut karena ada hal spesifik dan tersendiri. Saat ini yang urgen atau perlu segera diatur paling tidak ada empat," jelasnya.

Nurhaida mengungkap bahwa empat jenis fintech ini, yaitu klaster aggregator, project financing, financial planner, dan credit scoring. "Dasarnya kenapa dibilang urgen, karena misalnya, pemainnya sudah banyak seperti aggregator. Ada juga yang penggunanya sudah banyak, sehingga dianggap perlu segera diatur," tambahnya.

Sekadar informasi, 18 klaster dalam IKD OJK ini terbagi dalam empat kategori sesuai prinsip kerjanya. Pertama, kategori funding yang terdiri dari aggregator, funding agent, dan financial planner. Kedua, kategori financing terdiri dari blockchain-based, ECF, project financing, financial agent, property investment management dan P2P lending.

Ketiga, yaitu kategori insurance yang memiliki InsurTech dan Insurance Broker Marketplace. Terakhir, ada kategori enabler yang terdiri dari claim service handling, credit scoring, RegTech, otentifikasi transaksi, E-KYC, dan online distress solution.

Para penggawa IFSoc pun merupakan gabungan dari berbagai disiplin ilmu yang lama berkecimpung dalam dunia fintech, seperti Mirza sendiri yang merupakan Deputi Gubernur Senior BI 2013-19, Rudiantara yang merupakan Menteri Komunikasi dan Informatika RI 2014-19, dan Prasetyantoko selaku ekonom senior sekaligus Rektor Universitas Atmajaya. Ada pula Yose Rizal Damuri (ekonom senior, CSIS), Dr. Hendri Saparini (ekonom senior), Karaniya Dharmasaputra (pelaku fintech), A. Maryoto (wartawan senior), dan Wahyu Dyatmika (wartawan senior).

Reksadana

Seluruh jenis indeks reksadana mencetak imbal hasil positif pada pekan lalu. Kinerja instrumen investasi kolektif ini terkerek ekspektasi para pelaku pasar terkait pemulihan ekonomi dan euforia Pilpres AS. Berdasarkan publikasi mingguan Infovesta Utama, kinerja reksa dana saham dan reksa dana campuran memimpin pada pekan lalu dengan imbal hasil 3,01 persen dan 2,18 persen, seiring penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang naik 4,04 persen pekan lalu.

Dua jenis reksa dana lainnya kompak mencetak kinerja positif juga. Reksa dana pendapatan tetap juga mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 0,86 persen dan dan reksa dana pasar uang sebesar 0,13 persen. Tim Riset Infovesta Utama mengatakan ekpektasi pasar yang berkembang membuat kondisi pasar cenderung stabil dan berada dalam tren positif sepanjang pekan lalu. Walhasil, kinerja reksa dana juga tak goyah.

Sebagai gambaran, pada Rabu (4/11/2020) lalu, bertepatan dengan tanggal Pilpres Amerika Serikat, Indonesia mengumumkan angka PDB tahunan pada kuartal III sebesar -3,49 persen yang memastikan Indonesia resmi masuk dalam resesi ekonomi. Infovesta menilai pengumuman Indonesia resesi nampaknya tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap pasar saham maupun pasar obligasi di Indonesia karena telah sesuai dengan ekspektasi pasar.

Terlebih lagi, investor juga berekspektasi bahwa pendapatan pada kuartal IV mendatang dapat mencatatkan angka yang lebih baik lagi yang didukung oleh pelonggaran PSBB di Indonesia,” tulis Infovesta, seperti dilansir Bisnis.com, Senin (9/11/2020)

Sementara itu, lanjut Infovesta, dari sisi global Pilpres Amerika Serikat membuat kinerja IHSG di awal pekan sempat tertekan karena investor asing cenderung mengantisipasi hasil pilpres dan wait and see. Namun, pada hari Kamis dan Jumat IHSG mencatatkan pembalikan kinerja karena sentimen positif bahwa Joe Biden memenangkan pilpres yang terlihat pada net buy oleh asing selama sepekan lalu sebesar Rp1,7 triliun.

“Penguatan Kinerja IHSG selama sepekan lalu juga didukung oleh penguatan saham-saham berkapitalisasi besar dimana indeks LQ-45 juga mengalami penguatan sebesar 5,87 persen,” tambah Infovesta. Kinerja pasar obligasi juga ikut positif seiring sikap The Fed yang mempertahankan tingkat suku bunga di level 0,25 persen pada November 2020. Bank Sentral AS itu berencana mempertahankan tingkat suku bunga pada level rendah di kisaran 0– 0,25 persen hingga pasar tenaga kerja mencapai pertumbuhan yang konsisten dan inflasi naik menjadi 2 persen.

(*)