Pasar Tertekan, Jagartha Lihat Peluang Diversifikasi Alternatif Investasi

Investasi alternatif telah menjadi pilihan investor kalangan High Net Worth Individuals (HNWI)
Bareksa • 06 Mar 2020
cover

ilustrasi diversifikasi portofolio yang digambarkan dengan kotak-kotak jenis investasi reksadana saham obligasi komoditas reits etf di dalam keranjang belanja di atas komputer laptop.

Bareksa.com -  Hingga akhir Februari 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah terkoreksi 13,4 persen sementara indeks pasar saham Amerika S&P 500 jatuh 8,56 persen sejak awal tahun. Seakan perlambatan ekonomi global dan isu trade war tidak cukup sejak tahun lalu, isu penyebaran virus corona (COVID-19) yang telah memakan korban ribuan jiwa semakin menambah kekhawatiran para pelaku pasar modal.

Berbagai langkah untuk menghindari perlambatan ekonomi global telah dilakukan oleh bank sentral di dunia. Contohnya, kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral Amerika The Federal Reserve beberapa saat lalu dengan memangkas suku bunga acuan sebesar 50bps menjadi kisaran 1,00 – 1,25 persen.

Begitu pula apa yang telah dilakukan oleh Bank Indonesia dengan menurunkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 4,75 persen dan merelaksasi aturan Giro Wajib Minimum (GWM) valas bagi perbankan turun dari 8,0 persen menjadi 4,0 persen bagi dana pihak ketiga, yang diperkirakan akan memberikan likuiditas tambahan sebesar Rp45 triliun.

Menurut Erik Argasetya Director, Chief Investment Officer PT Jagartha Penasihat Investasi (Jagartha Advisors), valuasi IHSG saat ini dengan Price Earning Ratio (PER) di kisaran 12,3 – 12,5 kali (-2 standar deviasi di bawah mean) sudah menandakan valuasi yang relatif cukup murah, mengingat rata-rata historikal PER IHSG yang biasanya berada di level 15 – 16 kali selama 10 tahun terakhir.

Baca juga: Pasar Saham Sedang Sale, Pilih Produk Reksadana Apa?

Bahkan valuasi IHSG saat ini sudah mendekati valuasi saat terjadi krisis finansial global di tahun 2008. Sehingga, jika dilihat ini merupakan kesempatan yang baik untuk dapat mengoleksi saham-saham di bursa Indonesia. Perusahaan penasihat investasi independen Jagartha Advisors sendiri kerap melakukan kajian terhadap strategi apa yang kiranya bisa menjadi jalan keluar bagi investor yang kadung terdampak oleh lesunya kinerja pasar modal.

Erik mengatakan, investor perlu mempertimbangkan berinvestasi ke dalam investasi alternatif. “Diversifikasi ke sektor ini sebetulnya dapat memberikan eksposur yang berbeda bagi portofolio investor dikarenakan korelasi yang cenderung rendah terhadap instrumen pasar modal lainnya,” tutur Erik.

Investasi alternatif pun telah menjadi pilihan bagi para investor di luar negeri terutama di kalangan nasabah High Net Worth Individuals (HNWI) selama ratusan tahun. Penambahan investasi alternatif dalam sebuah portofolio sering kali digunakan sebagai strategi untuk melakukan beberapa hal seperti diversifikasi risiko, peningkatan imbal hasil (yield enhancement) dan juga preferensi spesifik dari investor itu sendiri, misalnya lukisan kuno, barang antik, botol anggur berusia ratusan tahun).

Seiring berkembangnya waktu, Erik menyatakan bahwa Investasi alternatif tradisional di atas mulai meluas ke usaha-usaha yang mengadopsi inovasi teknologi. Salah satu contoh adalah industri perfilman di Tanah Air yang sebelum tahun 2017, berada dalam status Daftar Negatif Investasi (DNI) yang berarti hanya kalangan terbatas yang dapat berinvestasi dalam industri tersebut. Hal ini awalnya merupakan inisiatif baik yang dilakukan oleh Pemerintah untuk melindungi industri dalam negeri, tapi di sisi lain aturan ini dapat juga membatasi aliran dana investasi.

Namun seiring dengan kemajuan teknologi, industri perfilman yang sebelumnya hanya dikuasai oleh beberapa penyelenggara akhirnya dapat semakin terbuka dengan semakin banyaknya portal online OTT (Over-The-Top platform) seperti sebut saja Netflix, iFlix, Catchplay, GO-PLAY dan masih banyak lainnya. Penonton seakan dimanjakan oleh berbagai macam pilihan yang ada. Investor pun semakin tertarik dan tergiur untuk berinvestasi ke dalam industri perfilman Indonesia sejak dicabutnya dari Daftar Negatif Investasi (DNI) tersebut.

Investasi alternatif lain yang tidak kalah menarik adalah berinvestasi ke dalam perusahaan rintisan atau biasa kita kenal dengan istilah startup di kalangan para investor. Begitu banyak startup yang bermunculan, tetapi tidak sedikit pula yang berjatuhan. Oleh sebab itu, investor juga harus jeli dalam melihat potensi dari business model dan ecosystem dari startup tersebut.

Erik menekankan, investasi konvensional seperti di instrumen saham, obligasi, reksadana dan properti masih menjadi pilihan sebagian besar investor. “Seiring tingginya ketidakpastian pasar global, kami lihat tidak ada salahnya investasi alternatif dipertimbangkan guna mendiversifikasi resiko. Ditambah lagi, di saat yang bersamaan meningkatkan potensi imbal hasil portofolio bagi para investor,” tutup Erik.

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi