Apa Saja Keuntungan dan Risiko Berinvestasi di Obligasi Pemerintah?

Secara garis besar ada empat risiko utama yang harus dipahami oleh investor
Bareksa • 06 Mar 2019
cover

Ilustrasi Surat Utang Negara (SUN) - (AntaraFoto)

Bareksa.com - Obligasi pemerintah atau biasa juga disebut government bond adalah suatu obligasi yang diterbitkan oleh pemerintahan suatu negara dalam denominasi mata uang negara tersebut. Obligasi pemerintah dalam denominasi valuta asing biasa disebut dengan obligasi internasional (sovereign bond).

Obligasi pemerintah biasa disebut juga dengan "obligasi bebas risiko" sebab pemerintahan suatu negara dapat menaikkan pajak ataupun mencetak uang guna melunasi pembayaran obligasinya pada saat jatuh tempo.

Dalam hal ini yang dimaksud dengan 'bebas risiko" adalah berarti aman dari risiko kredit. Namun risiko lainnya masih ada misalnya risiko nilai tukar bagi investor asing di mana nilai US dollar ini melemah terhadap mata uang negara lain.

Juga terhadap risiko inflasi di mana pada saat jatuh tempo pelunasan obligasi tersebut nilai yang diperoleh investor mengalami pelemahan daya beli akibat inflasi lebih besar daripada imbal hasil yang diperoleh.

Obligasi pemerintah ini dapat juga mengandung risiko apabila diterbitkan oleh pemerintah suatu negara yang negaranya memiliki kapabilitas kebijakan finansial yang kurang bagus. Hal itu bisa dilihat di mana lembaga pemeringkat seperti Fitch, Moody’s, dan S&P memberikan rating dibawah BBB-, yang berarti negara tersebut merupakan negara non investment grade.

**

Sebagai sebuah instrument investasi, obligasi menawarkan sejumlah keuntungan namun juga memiliki banyak risiko.

Secara garis besar ada empat risiko utama yang harus dipahami oleh investor sebelum menetapkan pilihan investasinya pada obligasi.

Risiko Likuiditas

Risiko ini terjadi jika obligasi ini sulit untuk diperjualbelikan di pasar sekunder. Obligasi menjadi likuid jika permintaannya di pasar tinggi. Hal ini biasanya dipengaruhi oleh karakteristik penerbit, kupon bunga dan masa jatuh tempo obligasi bersangkutan.

Risiko likuiditas ini melekat pada semua obligasi. Namun, obligasi pemerintah cenderung lebih likuid lantaran ada pihak yang bertindak sebagai market maker yang berperan sebagai pembeli siaga.

Risiko Maturitas

Risiko ini terkait dengan masa jatuh tempo obligasi. Semakin lama masa jatuh tempo, maka tingkat risikonya juga semakin tinggi. Sebagai kompensasi, penerbit yang menjual obligasi dengan masa jatuh tempo panjang akan memberikan kupon bunga lebih tinggi.

Risiko Suku Bunga

Harga obligasi berbanding terbalik dengan suku bunga. Jika suku bunga acuan, dalam hal ini BI Rate turun maka harga obligasi akan cenderung naik. Sebaliknya, ketika suku bunga naik maka harga obligasi akan cenderung menurun.

Karena itu investor yang berinvestasi di obligasi harus jeli dalam memproyeksikan tren pergerakan suku bunga, sehingga obligasi yang dibeli dapat menjadi investasi yang optimal.

Risiko Gagal Bayar atau default

Risiko ini melekat pada obligasi korporasi. Sementara obligasi negara kecil kemungkinan terjadi gagal bayar selama pemerintah Indonesia tetap berdiri. Karena itu, investor harus selektif dan memahami betul karakteristik serta kemampuan finansial setiap penerbit obligasi. Semakin tinggi kupon bunga yang ditawarkan, maka semakin besar pula risiko yang harus ditanggung oleh investornya.

Keuntungan Obligasi Pemerintah

Selain berbagai risiko tersebut, investasi obligasi juga menawarkan keuntungan yang menawan.

Pertama, keuntungan berupa pendapatan tetap dari kupon bunga secara periodik yang ditetapkan penerbit. Umumnya bunga obligasi lebih tinggi daripada bunga deposito ataupun BI Rate. Selain itu, jatuh tempo obligasi akan menentukan besaran dari bunga yang diberikan kepada investor.

Kedua, capital gain atau selisih penjualan obligasi. Keuntungan ini diperoleh investor ketika menjual obligasi di pasar sekunder dibandingkan harga pokok atau harga pembelian saat obligasi ini terbit. Jual beli obligasi dinyatakan dalam bentuk persentase terhadap harga pokok obligasi. Misalnya, harga pokok obligasi adalah 1 juta dan dipasar sekunder dijualbelikan di harga 110%. Artinya, obligasi tersebut ditransaksikan diharga Rp 1,1 juta.

(KA02/AM)