BeritaArrow iconBerita Ekonomi TerkiniArrow iconArtikel

Bank Mandiri Genjot Kontribusi Kredit Ritel Jadi 35 Persen di 2018

Bareksa09 Agustus 2017
Tags:
Bank Mandiri Genjot Kontribusi Kredit Ritel Jadi 35 Persen di 2018
Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), Kartika Wirjoatmodjo (tengah), didampingi Direktur Retail Banking Bank Mandiri Tardi (kiri), Direktur Wholesale Banking Bank Mandiri Royke Tumilaar (kanan) memaparkan kinerja Bank Mandiri Triwulan II/2017, di Jakarta, Rabu, 19 Juli 2017. (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

Pada kuartal II 2017, Bank Mandiri telah membukukan baki debet kredit UMKM sebesar Rp 78,1 triliun

Bareksa.com - PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menargetkan porsi kredit ritel dalam 1-2 tahun mendatang bisa mencapai 35 persen. Sementara sampai semester I 2017, kontribusi kredit ritel mencapai 33,8 persen atau senilai Rp 204,6 triliun.

Direktur Distribution Bank Mandiri, Hery Gunardi, menjelaskan, kredit yang termasuk dalam segmen ritel adalah kredit konsumer, mikro serta usaha kecil dan menengah (UKM). “Untuk menopang target pertumbuhan kredit ritel, perseroan harus menggenjot pertumbuhan kredit di tiga segmen tersebut,” ujarnya, di Jakarta, 8 Agustus 2017.

Menurut Hery, dari segmen konsumer, perseroan akan mendorong pertumbuhan pada tahun ini sebesar 20-22 persen. Adapun segmen yang digenjot adalah kredit pemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor (KKB), kredit kepada karyawan, kredit tanpa agunan (KTA), dan kartu kredit.

Promo Terbaru di Bareksa

Begitu pula dengan kredit komersial dan mikro. Menurut Chief of Economist Bank Mandiri Anton Gunawan dalam acara paparan publik (public expose) di depan investor, pengembangan kredit di segmen komersial dan mikro lebih berfokus pada peningkatan kualitas aset di segmen tersebut.

Hingga akhir Juni 2017, Bank Mandiri membukukan pertumbuhan kredit sebesar 11,6 persen menjadi Rp 682 triliun. Pertumbuhan kredit tersebut merupakan faktor utama yang mendorong pertumbuhan aset sebesar 9,9 persen secara tahunan (YoY) menjadi Rp 1.067,4 triliun. Pada kuartal II 2017, perseroan juga berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 9,5 triliun atau tumbuh 33,7 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Perkembangan Kredit Ritel Terhadap Total Kredit Bank Mandiri (bank only/Rp triliun)

Illustration

Sumber : materi paparan publik BMRI

Pengelolaan Aset Produktif

Wakil Direktur Utama Bank Mandiri, Sulaiman A Arianto, mengatakan keberhasilan perseroan menjaga tren positif ini didorong oleh keberhasilan perseroan dalam melakukan pengelolaan aset produktif perusahaan dalam rangka perbaikan kualitas serta mendorong kontribusi pendapatan yang bersumber dari jasa perbankan.

“Kami bersyukur dengan pencapaian positif yang dibukukan perusahaan hingga paruh pertama tahun ini. Hal ini membuktikan bahwa berbagai langkah perbaikan bisnis yang kami lakukan sejak tahun lalu telah membuahkan hasil yang signifikan,” ungkap Sulaiman di Jakarta, Selasa, 8 Agustus 2017.

Sulaiman melanjutkan, kualitas aset yang membaik terlihat dari penurunan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross dari 3,86 persen pada Juni 2016 menjadi 3,82 pesren pada Juni 2017.

Pertumbuhan kredit mendorong peningkatan pendapatan bunga bersih secara tahunan sebesar 6 persen menjadi Rp 25,7 triliun. Sedangkan pendapatan perseroan dari bisnis jasa perbankan atau fee based income juga tumbuh signifikan sebesar 18,5 persen menjadi Rp 10,9 triliun pada akhir Juni tahun ini.

Dalam penyaluran kredit, Bank Mandiri berhasil mencatatkan kenaikan di seluruh kelompok pembiayaan. Kredit modal kerja tumbuh 5,2% menjadi Rp 319,9 triliun, kredit investasi tumbuh 16,6% menjadi Rp 194,4 triliun serta kredit konsumer tumbuh 20% menjadi Rp 91,3 triliun.

“Sebagai agen perubahan, Kami juga terus menjaga konsistensi dalam mendukung program-program pemerintah baik untuk penguatan ekonomi, maupun untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata dia.

Sulaiman mencontohkan, baki debet kredit infrastruktur Bank Mandiri pada akhir kuartal II 2017 mencapai Rp 133,7 triliun atau tumbuh 15 persen dari periode yang sama tahun lalu. Dari nilai tersebut, di antaranya disalurkan untuk pembiayaan jalan raya dan tol sebesar Rp 8,4 triliun, transportasi sebesar Rp 36 triliun, tenaga listrik Rp 27 triliun, migas dan energi terbarukan sebesar Rp 20,9 triliun, konstruksi sebesar Rp 13,1 triliun, dan telematika sebesar Rp 8,5 triliun.

Kinerja Keuangan Bank Mandiri

Illustration

Sumber : materi paparan publik BMRI

Kredit Sektor UMKM

Sulaiman menyatakan Bank Mandiri juga terus memberikan perhatian yang tinggi terhadap pengembangan sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Pada kuartal II 2017, Bank Mandiri telah membukukan baki debet kredit UMKM sebesar Rp 78,1 triliun, dan telah menyalurkannya kepada lebih dari 938 ribu nasabah pelaku UMKM. Sedangkan pada program kredit usaha rakyat (KUR), perseroan telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 5,82 triliun.

Untuk menjaga tren positif tersebut, Sulaiman menjelaskan, Bank Mandiri juga berupaya untuk memastikan kecukupan likuiditas melalui peningkatan penghimpunan dana, terutama dana murah.

Pada akhir kuartal II 2017, dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun Bank Mandiri secara tahunan tumbuh 10,1 persen menjadi Rp 760,9 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama didorong pertumbuhan dana murah sebesar 11,6 persen (YoY), mencapai Rp490,2 triliun. Sehingga, rasio dana murah terhadap total DPK mencapai 64,43 persen.

“Sebagai bentuk dukungan Bank Mandiri dalam menciptakan cashless society, kami juga terus mengembangkan sistem alat pembayaran online yang dapat meningkatkan efisiensi dan kemudahan dalam bertransaksi,” kata Sulaiman.

Perkembangan Kartu Pra Bayar Bank Mandiri

Illustration

Sumber : materi paparan publik BMRI

Salah satunya adalah dengan meningkatkan jumlah pengguna serta merchant kartu prabayar Mandiri e-money. Hingga Juni 2017, kartu pra bayar berlogo e-money yang telah diterbitkan oleh Bank Mandiri sebanyak 9,61 juta kartu dengan rata-rata transaksi per bulan sepanjang tahun 2017 ini berjumlah lebih dari 36,8 Juta transaksi, dengan total nilai transaksi mencapai lebih dari Rp 424,4 miliar per bulan. Saat ini, kartu prabayar berlogo e-money dapat digunakan untuk melakukan transaksi di 4.807 merchant dengan jumlah outlet sebanyak lebih dari 111,8 ribu unit di seluruh Indonesia. (K09)

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

autodebet

1.214,07

Down- 0,08%
Up1,42%
Up0,63%
Up7,51%
Up19,89%
Up14,23%

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1.170,32

Down- 0,06%
Up2,00%
Up1,31%
Up7,13%
--

STAR Stable Amanah Sukuk

autodebet

1.202,42

Up0,40%
Up2,22%
Up1,49%
Up7,69%
--

Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A

1.045

Down- 0,51%
Up1,03%
Down- 0,25%
---

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua