BI Tetap Berada di Pasar, Akan Intervensi Bila Perlu

Pelemahan Rupiah dipicu kebutuhan AS Dollar yang meningkat di bulan Juli dan Desember
Bareksa • 17 Dec 2015
cover

Karyawati menunjukkan mata uang Yuan di salah satu tempat penukaran valuta asing di Jakarta, Senin (30/11). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Bareksa.com - Tak lama lagi kita akan mendengar pengumuman The Federal Reserve: apakah akan menaikkan atau tetap mempertahankan suku bunganya yang mendekati 0 persen? Sejumlah survei menyebutkan bahwa peluang naiknya suku bunga The Fed semakin besar.

Di Tanah Air, nilai tukar Rupiah mulai merangkak naik lagi terhadap Dolar AS. Sejak memasuki  Desember 2015, kurs Rupiah telah turun 1,6 persen meskipun dalam tiga hari terakhir fluktuasinya tidak terlalu signifikan. (Baca juga : Fed Rate Hampir Dipastikan Naik Bulan Ini. Investor Asing Sudah Antisipasi?)

Deputi Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia Andi Wiyana kepada Bareksa Rabu, 16 Desember 2015 mengungkapkan BI tidak menyiapkan langkah khusus menjelang pengumuman hasil pertemuan The Fed. Namun, BI akan terus berada di pasar dan memantau volatilitas Rupiah. "Apabila diperlukan, kami siap intervensi," ujar Andy.

Terkait kurs Rupiah yang cenderung melemah, Andy mengungkapkan bahwa pada Desember biasanya kebutuhan terhadap Dolar AS meningkat sehingga berpotensi melemahkan Rupiah. Penyebabnya bulan ini ada banyak pembayaran utang jatuh tempo dan pembayaran bunga utang dalam mata uang Dolar. Selain itu menjelang akhir tahun, beberapa perusahaan asing juga memerlukan Dolar untuk tutup buku.

Berdasarkan data tiga tahun terakhir yang diolah Bareksa, tren pelemahan Rupiah terjadi pada periode Agustus, September dan Desember. Kurs Rupiah cenderung menguat pada Oktober. Bank Indonesia sendiri memproyeksikan kurs Rupiah tahun depan akan berada kisaran Rp13.900 per dolar, sesuai dengan APBN 2016.

Grafik : Pergerakan Mata Uang Rupiah Secara Bulanan

Sumber : diolah Bareksa

Grafik : Pergerakan Mata Uang Rupiah Secara Bulanan

 

Sumber : Yahoo Finance, diolah Bareksa

Apabila dibandingkan dengan beberapa negara lain, semenjak awal tahun, kinerja Rupiah masih lebih baik dibanding mata uang Brasil, Rusia dan Malaysia. Namun, bila dilihat sejak awal Desember 2015, pelemahan Rupiah cukup signifikan. Apalagi mata uang Filipina dan India tidak lagi melemah terhadap Dolar. Hal ini mengindikasikan mata uang Rupiah belum cukup kuat menghadapi perubahan ekonomi global. Diperlukan perencanaan dan langkah matang untuk menjaga nilai Rupiah.