BeritaArrow iconBerita Ekonomi TerkiniArrow iconArtikel

Penurunan BI Rate Akan Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi?

Bareksa11 November 2015
Tags:
Penurunan BI Rate Akan Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi?
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Bank Indonesia, Jakarta, Selasa (19/5). BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 7,50 persen sejalan dengan kebijakan moneter guna menjaga inflasi. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ss/mes/15

Stimulus penurunan BI rate diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi

Bareksa.com - Menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 17 November 2015 nanti, isu penurunan BI rate (suku bunga acuan) mulai ramai. Di satu sisi, inflasi Indonesia tercatat cukup rendah, bahkan Oktober lalu, Indonesia mencatatkan deflasi 0,08 persen month-on-month dan akhir tahun BI memperkirakan inflasi tahunan akan mencapai sekitar 3,6 persen.

Namun di sisi lain, sinyal bank sentral AS, The Fed, untuk menaikkan bunga pada Desember 2015 semakin kuat. Meskipun kurs Rupiah selama satu bulan terakhir relatif stabil, tapi sejak awal tahun Rupiah telah melemah 9,5 persen. (Baca juga : Fed Rate Disinyalkan Naik Desember 2015)

Penurunan BI Rate diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang terus menurun di bawah 5 persen. Kuartal ketiga 2015, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya tercatat 4,73 persen, jauh di bawah asumsi pemerintah dalam APBN-P sebesar 5,7 persen.

Promo Terbaru di Bareksa

Berdasarkan data historis, semenjak BI menaikan suku bunga cukup tinggi pada kuartal III-2013, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia terus turun. Kenaikan BI Rate pada kuartal III-2013 mencapai 125 basis poin atau 1,25 persen. (Baca juga : Ramai Pelonggaran Moneter, Indonesia Kapan?)

Grafik Pertumbuhan Ekonomi dan Suku Bunga BI

Illustration

Sumber : Bank Indonesia, Bareksa diolah

Sementara itu, pertumbuhan penjualan ritel bulanan di Indonesia yang mencerminkan belanja rumah tangga juga cenderung turun. Selain kelompok makanan sebagai kebutuhan pokok, penjualan ritel kelompok lain seperti non-pangan dan kelompok kendaraan cenderung menurun. Hal ini mengindikasikan daya beli masyarakat terutama untuk kebutuhan sekunder juga tertekan.

Oleh karena itu, BI perlu memberi stimulus untuk mengembalikan pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat.

Grafik Pertumbuhan Bulanan Penjualan Ritel

Illustration

Sumber : Bank Indonesia, Bareksa diolah

Grafik Penjualan Riil Kelompok Food dan Non-Food

Illustration

Sumber : Bank Indonesia

Grafik Penjualan Riil Kendaraan & Suku Cadang, Bahan Bakar Kendaran Bermotor

Illustration

Sumber : Bank Indonesia

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Capital Fixed Income Fund

1.775,36

Up0,54%
Up3,36%
Up0,03%
Up6,74%
Up17,31%
Up44,99%

Trimegah Dana Tetap Syariah

1.326,18

Up0,93%
Up4,25%
Up0,03%
Up5,89%
Up18,89%
-

STAR Stable Income Fund

1.925,85

Up0,48%
Up2,96%
Up0,02%
Up6,01%
Up29,39%
Up64,87%

I-Hajj Syariah Fund

4.822,06

Up0,51%
Up3,05%
Up0,02%
Up6,14%
Up21,89%
Up40,51%

Reksa Dana Syariah Syailendra OVO Bareksa Tunai Likuid

1.140,38

Up0,49%
Up2,80%
Up0,02%
Up4,93%
--

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua