Market Cap Grup MNC Capai Rp91,2 T, Tumbuh 10 Kali Lipat Sejak 2008

MNC Kapital, MNC Land, IATA tertolong rights issue, sementara harga MNCN meroket.
Bareksa • 24 Nov 2014
cover

MNC Group CEO Hary Tanoesoedibjo di kantor editorial MNC di Jakarta. Hary sudah menjaring sepertiga penonton televisi di Indonesia lewat media miliknya. (Reuters/Beawiharta)

Bareksa.com - Grup MNC berkembang menjadi salah satu grup bisnis terbesar di Indonesia. Kelompok usaha milik Hary Tanoesoedibjo itu -- yang juga mantan Wakil Ketua Majelis Nasional Partai Nasdem dan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Hanura -- memayungi delapan emiten yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan nilai total market cap (kapitalisasi pasar) mencapai Rp91,2 triliun. Perlu dicatat, angka ini menggelembung lebih dari 10 kali lipat hanya dalam waktu hampir 6 tahun.

Emiten-emiten ini bergerak di bidang usaha media penyiaran televisi dan radio, keuangan, properti dan transportasi. 

Akhir tahun 2008 lalu, nilai market cap Grup MNC hanya sebesar Rp7,89 triliun dengan 6 perusahaan yang diperdagangkan di BEI. Saat itu saham perusahaan TV berlangganan milik Grup MNC, Indovision, belum diperdagangkan di BEI. Grup MNC juga belum memiliki bank.

PT MNC Investama Tbk (BHIT) menjadi holding dari seluruh perusahaan di bawah grup MNC. Sementara itu, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) mengelola tiga stasiun televisi yakni RCTI, MNC TV, dan Global TV, dan berada di bawah holding perusahaan media PT Global Mediacom Tbk (BMTR).

Adapun PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP) menjadi induk perusahaan keuangan grup MNC. Kemudian terdapat PT MNC Land Tbk (KPIG) yang bergerak di bidang properti terutama pembangunan gedung perkantoran. Satu lagi saham grup MNC yang sudah diberdagangkan di bursa adalah PT Indonesia Air Transport Tbk (IATA) yang bergerak dalam bidang transportasi udara.

Tingginya nilai market cap MNC berasal dari lonjakan harga saham enam perusahaan tersebut dan juga dua perusahaan baru di dalam grup ini.

Pada Juli 2012, PT MNC Sky Tbk (MSKY), perusahaan yang mengelola TV berlangganan Indovision, melepas saham perdananya kepada publik pada harga Rp1.520 per saham sebanyak 20 persen dari total kepemilikan.

Pada Maret 2014, Grup MNC melalui MNC Kapital Indonesia membeli 25 persen saham PT Bank ICB Bumiputera Tbk (BABP). Pembelian saham berlanjut sampai Oktober, sehingga jumlah kepemilikan saham bertambah menjadi 35 persen. Grup MNC kemudian mengubah nama Bank ICB Bumiputera menjadi Bank MNC.

Tabel: Kapitalisasi Pasar Grup MNC

sumber:idx.co.id diolah Bareksa.com

Di antara saham-saham di Grup MNC, kenaikan nilai saham tertinggi dibukukan MNCN -- yang menjadi penopang pertumbuhan Grup MNC. Sejak akhir tahun 2008 hingga September 2014 harga MNCN telah naik 14,42 kali lipat.

Sementara itu, market cap lima perusahaan lainnya tumbuh kurang dari 10 kali lipat. Market cap MNC Investama dan Global Mediacom masing-masing meningkat 7,41 kali lipat dan 8,6 kali lipat; meski hal ini juga ikut didorong naiknya harga saham MNCN.

Market cap MNC Kapital, MNC Land dan IATA, pun meningkat tajam terutama disebabkan oleh tambahan saham baru melalui rights issue. Sementara untuk MNCN, lebih karena pertumbuhan harga sahamnya yang tinggi.

Tabel Pertumbuhan Harga Saham Grup MNC

sumber:bareksa.com

Grafik: Bagan Grup MNC

Sumber: Company

Bagaimana dengan kinerja fundamental saham-saham tersebut?

Jika dilihat dari pertumbuhan laba bersih per tahun, dibandingkan saham-saham lainnya di dalam grup, laba MNCN memang tumbuh lebih besar dan relatif lebih stabil. Dalam lima tahun terakhir pertumbuhan laba rata-rata per tahun mencapai 59 persen.

Pertumbuhan laba tertinggi kedua di dalam grup adalah MNC Land dengan pertumbuhan laba rata-rata per tahun sebesar 47 persen.

Sementara pertumbuhan laba rata-rata per tahun untuk MNC Kapital justru tercatat negatif 19 persen, karena pergerakan laba yang sangat fluktuatif.

Buku IATA sejak 2008 masih mencatat kerugian, meski berkurang setiap tahunnya rata-rata 10 persen.

Tabel: Laba Bersih Grup MNC

sumber:bareksa.com

Jika dilihat dari penilaian saham menggunakan metode price-to-earning ratio (PER), harga saham Grup MNC tergolong relatif tinggi. Di antara saham-saham lainnya di dalam Grup MNC, PER MNCN yang sebesar 16,98 kali relatif lebih murah. Dibandingkan dengan industri media yang saat ini berada pada PER 31,9 kali, harga MNCN juga boleh dibilang relatif lebih murah.

Sementara untuk MNC Land, dengan PER 72,65 kali saham ini relatif lebih mahal dibandingkan dengan industri properti yang memiliki PER 10,95 kali.

Tabel: Rasio PE Grup MNC

sumber:bareksa.com

Patut dicatat, saat ini PT Media Nusantara Citra TBK -- sebagai perusahaan dengan performa paling stabil di Grup MNC -- sedang mengalami kontraksi harga saham karena kasus perebutan MNC TV yang dulu bernama Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) dengan pemilik lamanya yaitu Siti Hardijanti Rukmana. Putusan Peninjauan Kembali di Mahkamah Agung memenangkan puteri sulung mantan Presiden Soeharto itu sehingga ada kemungkinan TPI bisa dicungkil dari Grup MNC.

Karena MNCN merupakan penopang pertumbuhan Grup MNC, penurunan harganya otomatis turut mendorong penurunan saham-saham lain di dalam grup tersebut. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, saham MNCN ambrol 22,59 persen dan memelorotkan nilai BMTR, BHIT dan MSKY masing-masing sebesar 11,98 persen, 3,4 persen dan 7,31 persen.

Hingga penutupan perdagangan minggu lalu, Jumat 22 November 2014, harga saham MNCN mulai kembali naik 1,3 persen ke Rp2.360 per lembar saham. (np, al, qs)

@kurtepadam