Inikah Waktu yang Tepat untuk Membeli PGAS?
Berita terkait rencana akuisisi PGAS oleh Pertamina menyebabkan anjloknya harga saham PGAS

Berita terkait rencana akuisisi PGAS oleh Pertamina menyebabkan anjloknya harga saham PGAS
Bareksa.com - Kabar terbaru tentang rencana Perusahaan Gas Negara (PGAS) bakal diakuisisi oleh Pertamina, direspons negatif oleh pasar. Akibatnya, harga saham PGAS sempat anjlok lima persen terhadap IHSG dalam tiga hari (19-21 Nov), sebelum menguat 2,7 persen di akhir pekan karena investor mempertimbangkan rencana akuisisi PGAS terhadap Pertagas.
Analis Trust Securities, Reza Priyambada, sebagaimana dikutip liputan6.com, menilai keinginan Kementerian BUMN agar Pertamina mengakuisisi PGAS adalah langkah yang kurang tepat. Terbukti, akibat isu tersebut, saham PGAS di Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mengalami tekanan sepanjang pekan kemarin. Jika Pertamina mengakuisisi PGAS, maka menurutnya yang terjadi hanyalah sebuah diversifikasi bisnis bagi Pertamina. Selain itu, fokus Pertamina di sektor hulu akan terganggu mengingat fundamental perusahaan minyak tersebut juga tidak lebih baik ketimbang PGAS.
Akan tetapi, dalam laporannya, Credit Suisse dan CLSA Indonesia, melihat penurunan harga tersebut justru merupakan kesempatan untuk membeli saham PGAS. Pertagas (Pertamina Gas) adalah anak usaha Pertamina. Dengan mengakuisisi Pertagas, PGAS akan memperluas operasi dan akses ke lahan gas Pertamina yang memproduksi sekitar 199mboed (juta barel setara minyak per hari) atau 1,2bcfd (miliar kaki kubik per hari) gas. Tetapi, jika Pertamina yang mengakuisisi PGAS, bisa terjadi perlambatan persetujuan proyek infrastruktur pipa gas yang menjadi penopang pendapatan PGAS, karena Pertamina lebih fokus kepada pengembangan minyak/gas hulu.
Promo Terbaru di Bareksa
Di sindonews.com, analis Samuel Sekuritas, Adrianus Bias Prasuryo, mengatakan, jika PGAS berada di bawah Pertamina, maka PGAS akan mengikuti kebijakan Pertamina untuk menerapkan open access. Kebijakan tersebut justru akan merugikan PGAS, sebab potensi marjin menjadi lebih kecil. Di samping tidak menguntungkan secara bisnis, akuisisi ini juga akan membutuhkan biaya yang besar dan lama. Saat ini, dana tunai yang dimiliki PGAS lebih besar ketimbang hutangnya, berkebalikan dengan Pertamina yang justru lebih banyak hutang daripada kas. Kondisi pertamina ini tentu akan berimbas pada peringkat hutang perseroan yang pada akhirnya akan berdampak pada kepercayaan pemilik modal terhadap perseroan. Misalnya, PGAS akan jadi lebih sulit mencari hutang baru untuk ekspansi sebab nilai bukunya menjadi lebih buruk karena adanya hutang Pertamina.
Berdasarkan data Bareksa.com (klik disini), per kuartal ketiga 2013, jumlah kas dan setara kas PGAS mencapai USD 903 juta, aktiva lancar USD 1,39 miliar, sedangkan total hutang hanya sebesar USD 1,26 miliar. Dari data tersebut juga diketahui marjin laba usaha PGAS pada periode tersebut sebesar 31,6 persen.
Saat ini PGAS diperdagangkan pada level PBV 2014 3,64 kali dan PER 2014 11,7 kali. Menurut consensus, target price PGAS adalah Rp.5.975. (kd)
Pilihan Investasi di Bareksa
Klik produk untuk lihat lebih detail.
| Produk Eksklusif | Harga/Unit | 1 Bulan | 6 Bulan | YTD | 1 Tahun | 3 Tahun | 5 Tahun |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
Trimegah Dana Obligasi Nusantara autodebet | 1.214,07 | ||||||
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 1.170,32 | - | - | ||||
STAR Stable Amanah Sukuk autodebet | 1.202,42 | - | - | ||||
Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A | 1.045 | - | - | - |
Produk Belum Tersedia
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.
