Meski Suku Bunga AS Naik, Perusahaan Tambang Prediksi Harga Emas Bisa Kembali ke US$1.800

Dunia investasi secara global diprediksi tetap tertarik untuk memiliki emas secara strategis, termasuk bank sentral
Abdul Malik • 20 Sep 2022
cover

Ilustrasi harga emas yang diprediksi akan kembali meningkat di tengah tekanan inflasi dan kenaikan suku bunga AS. (Shutterstock)

Bareksa.com - Harga emas batangan diprediksi bisa kembali ke level US$1.806,10 per ounce pada akhir tahun 2022, menurut perkiraan rata-rata dalam survei 10 peserta di Denver Gold Forum, pertemuan tahunan para eksekutif pertambangan, investor, bankir dan analis. 

Mereka memperkirakan harga emas bisa 7,8% di atas harga penutupan spot hari Senin (19/9). Terakhir kali emas berada di level tersebut ialah pada awal Juli 2022.

“Anda akan terus melihat dunia investasi secara global tertarik untuk memiliki emas secara strategis, termasuk bank sentral,” kata Joseph Cavatoni dari Dewan Emas Dunia (World Gold Council) dalam sebuah wawancara di acara tahunan ke-34 dilansir Financial Post yang mengutip laporan Bloomberg (19/9/2022). 

“Ditambah lagi risiko geopolitik akan membuat emas tetap terdepan dan terpusat di benak setiap investor,” ungkap Cavatoni. 

Namun, Cavatoni memprediksi gejolak harga emas masih akan berlangsung saat ini hingga akhir tahun. Hal itu akan berlangsung sampai ada kejelasan bahwa bank-bank sentral di dunia berhasil atau tidak berjuang melawan inflasi. 

Harga emas telah bertahan di atas US$1.700 per ounce untuk beberapa waktu di September. Namun harga logam mulia kemudian menurun sempat menyentuh level terendah dalam hampir 2,5 tahun terakhir. Harga emas berjangka pengiriman Oktober diperdagangkan di US$1.662 per troy ons pada pekan lalu. 

Harga emas pekan lalu jatuh setelah menembus level support utama yang telah bertahan sejak 2020. Aksi jual terjadi di tengah kegelisahan investor di pasar keuangan bahwa Bank Sentral AS (The Fed) kemungkinan menaikkan suku bunga acuan 75 basis poin pada Rabu waktu AS atau Kamis dinihari WIB. 

Kenaikan suku bunga yang lebih besar bisa menyebabkan lebih banyak gejolak harga di semua kelas aset investasi, termasuk emas. 

Dampak Pengetatan Moneter

Pengetatan moneter bank sentral untuk mengendalikan inflasi telah mendorong kenaikan suku bunga dan pengetatan agresif The Fed, sehingga menyebabkan dolar AS jadi perkasa. Keduanya adalah berita buruk bagi emas, karena bukan merupakan instrumen investasi yang memberikan bunga dan diperdagangkan dalam dolar AS.

"Momentumnya jelas mendukung dolar AS," Randy Smallwood, CEO Wheaton Precious Metals Corp.

Namun, emas dinilai telah bertahan relatif baik, di mana penurunan harganya hanya 8,4% tahun ini. Dukungan terhadap bertahannya harga emas berasal dari risiko geopolitik dan ekonomi yang meningkat. Sebab ada kekhawatiran pengetatan agresif The Fed untuk melawan inflasi yang sangat tinggi dapat membuat ekonomi AS terjerumus ke dalam resesi.

Perang Rusia yang sedang berlangsung di Ukraina juga memberikan sentimen positif bagi emas di tengah risiko geopolitik. Dan krisis energi Eropa yang sedang berlangsung dan kebijakan nol-Covid China juga menunjukkan perlambatan ekonomi global, yang bisa mendorong investor untuk mempertahankan emas sebagai alat lindung nilai terhadap ketidakpastian tersebut.

“Ini adalah aset defensif di saat ada ketidakpastian makroekonomi dan geopolitik,” kata Ketua Eksekutif Yamana Gold Inc. Peter Marrone. "China telah lama berada dalam pembatasan Covid. Ketika mereka keluar dari sana, kita akan melihat harga emas yang kuat lagi," dia memaparkan. 

(AM)

Investasi Sekarang

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER​

Fitur Bareksa Emas dikelola oleh PT Bareksa Inovasi Digital, berkerja sama dengan Mitra Emas berizin.