6 Tips Mulai Investasi untuk Pemula dari OJK

Bekali diri dengan pengetahuan, percaya diri dan pengendalian diri
Hanum Kusuma Dewi • 18 Nov 2021
cover

Tirta Segara, Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen

Bareksa.com - Investasi adalah menanamkan modal dalam produk atau aset investasi dengan harapan bisa tumbuh nilainya di masa depan. Investasi ini penting untuk mempersiapkan kebutuhan keuangan di masa depan. ​​

Untuk masyarakat awam, yang baru pertama kali mau mencoba investasi, mereka biasanya bingung langkah apa yang dilakukan pertama kali. Namun, ada beberapa tips mulai investasi mudah yang bisa dilakukan pemula. 

Tirta Segara, Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, menjelaskan ada enam tips mulai investasi yang bisa diikuti oleh pemula. 

1. Pahami Diri 

Tirta mengingatkan investor dan calon investor untuk bijak dalam berinvestasi dengan memahami diri sendiri. Memahami diri ini mencakup rencana jangka waktu investasi, ketersediaan dana, ketersediaan waktu, sensitivitas terhadap risiko dan kemampuan analisis. 

"Bekali diri dengan pengetahuan, percaya diri dan pengendalian diri. Jangan sampai nafsu untuk spekulasi atau greedy," ujar Tirta dalam acara OJK Mengajar yang disiarkan di Youtube Jasa keuangan, 18 November 2021. 

Namun, Tirta menambahkan, investor yang tidak punya banyak waktu untuk melakukan analisis mendalam bisa mempercayakan dana mereka kepada pihak profesional seperti perusahaan investasi. 

"Kalau tidak punya waktu atau pengetahuan, percayakan pada perusahaan investasi manajer investasi, dengan beli reksadana."

2. Kenali Produk Investasi

Tak kenal maka tak sayang. Ada banyak produk keuangan di pasar modal, investor perlu memahaminya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Selain itu, investor juga harus kenal dengan lembaga jasa keuangan (LJK) dan hak-kewajiban sebagai investor di pasar modal. 

"Lalu kita tidak hanya kenal manfaat atau untungnya saja, kita juga harus kenal risikonya," ujar Tirta. 

3. Mulai dari Jumlah Kecil

Namanya baru mulai investasi, sebaiknya memulai dengan jumlah yang kecil. Bila sudah paham seiring berjalannya waktu, kita bisa menambah jumlah investasi kita. 

Investasi ini sebaiknya menggunakan uang dingin atau istilahnya free cash flow. Pastikan dulu keuangan kita cukup. Jangan pernah berutang untuk modal investasi. 

4. Diversifikasi

Seperti pepatah yang mengatakan "don't put your eggs in one basket," ada baiknya investor menaruh modal di berbagai instrumen investasi. Hal ini agar risiko investasi terbagi-bagi. 

5. Tidak Mudah Ikut Emosi

Tirta mengingatkan investor untuk menghindari herding behavior atau hanya ikut tren saja tetapi tidak paham. Contohnya, dulu pernah ada tren batu akik, tanaman hias yang harganya melangit tetapi akhirnya nilainya turun. 

Dia mengatakan, waktu bisa jadi teman atau musuh. Semakin panjang waktu investasi, makin kecil risiko investasi. Namun, tidak semua produk cocok dengan semua jenis investor. 

6. Pastikan Legalitas

Terakhir, Tirta mengingatkan untuk selalu memastikan legalitas investasi. "Selama 2020-2021 ribuan entitas telah ditutup, ada 425 entitas investasi ilegal, 1734 fintech ilegal dan 88 gadai ilegal." 

Berikut ciri-ciri investasi ilegal: 

  • menjanjikan keuntungan tidak wajar dalam waktu cepat. 
  • menjanjikan bonus kalau bisa merekrut anggota (member get member). 
  • memanfaatkan tokoh masyarakat/agama
  • janji aset aman dan jaminan beli kembali
  • klaim tanpa risiko. hati-hati janji tanpa risiko
  • legalitas tidak ada

"Pastikan entitas dapat izin sesuai dengan kegiatan investasinya. Gunakan produk yang diatur dan diawasi regulator terkait," pesan Tirta. 


***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.