Begini Perbedaan Investasi di Saham dan Reksadana Saham

Bagi kita yang awam, reksadana saham dan saham, terkesan sama, padahal sebenarnya dua hal itu berbeda
Abdul Malik • 10 Sep 2021
cover

Ilustrasi dua perempuan investor yang memantau perkembangan investasinya di reksadana saham dan saham. (Shutterstock)

Bareksa.com – Kebanyakan kita sering dibingungkan apakah investasi di saham dan reksadana saham sama atau berbeda? Bagi kita yang awam, reksadana saham dan saham, terkesan sama, padahal sebenarnya dua hal itu merupakan hal yang berbeda.

Apa ya kira-kira perbedaan investasi di saham dan reksadana saham? Yuk simak penjelasan berikut ini :

1. Investasi di Saham

Dalam investasi saham, hal pertama yang harus diketahui adalah pengertian dari saham itu sendiri. Saham adalah bukti kepemilikan atas suatu perusahaan. Jadi, di saat kita punya keinginan untuk belajar saham, maka kita akan didorong untuk mempelajari perusahaan yang menerbitkan saham tersebut.

Dalam proses belajar saham, kita akan dikenalkan dengan dua metode atau cara menganalisa suatu saham. Dua metode analisa tersebut ialah analisa teknikal dan analisa fundamental.

Analisa teknikal adalah suatu metode analisis yang digunakan untuk memprediksi tren suatu harga saham dengan cara mempelajari data pasar periode sebelumnya (historikal), terutama pergerakan harga dan volume.

Sedangkan analisa fundamental merupakan suatu metode analisis yang didasarkan pada fundamental bisnis suatu perusahaan yang menitikberatkan pada rasio keuangan perusahaan dan kejadian-kejadian yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan tersebut.

Analisa fundamental biasa digunakan untuk membuat keputusan berinvestasi jangka panjang. Analisa fundamental dibagi dalam tiga tahapan analisis yaitu analisis ekonomi, analisis industri, dan analisis perusahaan.

Sementara analisa teknikal biasa digunakan para trader dalam hal memutuskan kapan harus membeli atau menjual suatu saham dalam waktu yang tidak lama atau dengan kata lain investasi jangka pendek.

Motivasi investor maupun calon investor dalam belajar saham tidak lain adalah ingin merasakan manisnya keuntungan atau profit yang bisa dihasilkan dari efek ekuitas ini.

Namun perlu diingat, imbal hasil tinggi tentu diiringi dengan risiko tinggi pula. Artinya dengan berinvestasi saham, kita bisa dalam waktu singkat meraih untung berlipat. Demikian juga sebaliknya, dalam waktu singkat, kita bisa rugi berlipat.

Sehingga investor maupun calon investor saham harus memperdalam pengetahuannya, bukan hanya mengenai saham, namun juga memahami bagaimana pasar bereaksi terhadap perekonomian, stabilitas keuangan perusahaan, bahkan laporan keuangan perusahaan.

2. Investasi di Reksadana Saham

Jika kita ingin mencoba terjun langsung dalam dunia investasi dan ingin segera merasakan keuntungan dari berinvestasi saham namun belum siap berinvestasi saham, maka kita perlu mempertimbangkan produk investasi yang satu ini, yakni reksadana saham.

Hal ini dikarenakan reksadana saham merupakan produk investasi yang dapat memberikan imbal hasil yang juga menggiurkan. Ini karena reksadana saham dalam kebijakan investasinya mengalokasikan minimal 80 persen aset portofolionya pada efek bersifat ekuitas (saham).

Namun bila dibandingkan dengan investasi langsung di saham, reksadana ini menghasilkan imbal hasil yang lebih rendah namun dengan risiko yang lebih rendah pula. Hal ini dikarenakan adanya diversifikasi pada pengelolaan reksadana saham.

Sebagai gambaran, berikut kinerja top 5 reksadana saham imbalan tertinggi di Bareksa sepanjang tahun berjalan per 9 September 2021 :

Sumber : Bareksa.com

Dapat dilihat 5 besar reksadana saham imbalan tertinggi yang tersedia di aplikasi reksadana terbaik, Bareksa, mencatatkan imbalan antara 8,49 persen hingga 23,6 persen sepanjang tahun berjalan.

Peringkat pertama ditempati reksadana saham Manulife Saham Andalan, reksadana kelolaan PT Manulife Aset manajemen Indonesia (MAMI) yang merupakan perusahaan manajemen investasi terbesar di Indonesia.

Imbalan 23,6 persen dalam waktu kurang 9 bulan bisa diraih investor, jika berinvestasi di Manulife Saham Andalan sejak akhir tahun lalu. Nilai keuntungan tersebut cukup menarik, karena sepanjang tahun ini pasar tengah bergejolak akibat gelombang II pandemi Covid-19 dan tren suku bunga rendah.

Seperti apa pengelolaan reksadana?

Dalam pengelolaannya, investasi pada produk reksadana dikelola oleh manajer investasi (MI) yang handal dan berpengalaman di bidangnya. Sehingga produk reksadana dapat menjadi pilihan investasi yang tepat bagi investor pemula yang belum memiliki pengalaman atau pengetahuan cukup dalam berinvestasi.

Dalam konteks perencanaan keuangan, reksadana saham cocok untuk calon investor dengan profil risiko agresif, mampu menerima risiko fluktuasi harga, dan memiliki jangka waktu investasi di atas 5 tahun.

Selain reksadana saham, produk reksadana juga tersedia dalam beragam jenis, antara lain reksadana campuran, reksadana pendapatan tetap, reksadana pasar uang, reksadana terproteksi, reksadana indeks dan ETF. Berbagai jenis reksadana tersebut menghasilkan imbal hasil yang berbeda serta risiko yang berbeda pula.

Sehingga dalam berinvestasi di reksadana, kita dapat memilih jenis reksadana yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan investasi kita.

Sementara untuk calon investor yang memiliki keahlian, waktu dan ketertarikan yang mendalam mengenai dunia pasar modal, dapat langsung berinvestasi pada saham.

Hal yang paling penting dari investasi saham dan reksadana saham adalah kesiapan untuk menerima risiko fluktuasi harga.

​***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.