CEO Schroders Indonesia, Michael Tjoajadi : Pandemi Tingkatkan Minat Investasi

Kepercayaan investor telah melonjak ke level tertinggi sejak 2016
Abdul Malik • 03 Sep 2021
cover

Michael T. Tjoajadi (tengah) ketika menerima penghargaan Tokoh Reksadana pada Bareksa Kontan Fund Awards 2018

Bareksa.com - Michael T. Tjoajadi, Presiden Direktur PT Schroder Investment Management Indonesia (Schroders Indonesia), mengatakan pandemi telah mengubah perilaku investor secara global termasuk Indonesia. Perilaku itu mengenai investasi dan kesejahteraan finansial.

"Kami melihat pandemi ini akan memberikan perubahan jangka panjang pada cara masyarakat mengelola keuangan dan investasinya. Namun, terlepas dari tantangan pandemi, kami melihat masih positif dalam jangka panjang terhadap pasar Indonesia didukung oleh reformasi yang sedang berlangsung, valuasi yang menarik, dan kebangkitan new economy,” kata Michael T. Tjoajadi dalam Media Gathering Virtual bertajuk Bagaimana Pandemi Mengubah Perilaku Investor, Kamis (2/9/2021).

Pernyataan Michael tersebut berdasarkan hasil Studi Investor Global Schroders 2021 yang dilakukan kepada lebih dari 23 ribu responden yang merupakan investor di 32 negara termasuk Indonesia.

Studi Schroders menemukan fokus masyarakat yang lebih besar pada tabungan, investasi dan kesejahteraan finansial akan menjadi salah satu warisan langgeng dari pandemi bahkan ketika kepercayaan investor meningkat.

Hasil studi menyebutkan hampir setengah dari investor (46 persen) sekarang berencana untuk menyimpan uangnya lebih banyak, setelah pembatasan sosial dicabut. Sentimen ini paling kuat di antara investor berusia 18 tahun-37 tahun.

Pendekatan yang lebih terukur ini juga mengalir ke pandangan atau outlook pensiun investor, dengan 58 persen pensiunan secara global sekarang lebih konservatif dalam membelanjakan tabungan/simpanan pensiun mereka. Sementara 67 persen dari responden yang belum pensiun sekarang ingin menabung atau menyimpan lebih banyak untuk masa pensiun mereka.

Di sisi lain terlepas dari tantangan yang disebabkan oleh pandemi, diketahui bahwa kepercayaan investor telah melonjak ke level tertinggi sejak studi Schroders ini dimulai pada 2016. Yakni dengan ekspektasi tingkat pengembalian (imbal hasil) tahunan rata-rata selama lima tahun ke depan diperkirakan 11,3 persen, meningkat dari prediksi tahun lalu yang sebesar 10,9 persen.

Harapan Total Pengembalian Rata-rata Investor dalam 5 Tahun ke Depan

Sumber: Schroders Indonesia

Data itu juga mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor institusional yang dicatat Schroders bulan ini dalam Institutional Investor Study.

Fokus Kesejahteraan Finansial

Selain itu diketahui juga hampir tiga perempat (74 persen) investor secara global telah menghabiskan lebih banyak waktu untuk memikirkan kesejahteraan finansial mereka sejak pandemi terjadi, dengan investor yang menganggap dirinya berpengetahuan investasi ahli/advanced paling banyak melakukannya.

"Secara geografis, perubahan ini paling menonjol di Asia di mana investor di Thailand, India dan Indonesia berada di urutan teratas," hasil studi Schroders menyebutkan.

Investor secara global sekarang lebih cenderung untuk memeriksa investasi mereka setidaknya sebulan sekali (82 persen), dibandingkan dengan 77 persen investor pada tahun 2019.

Frekuensi Investor Memeriksa Nilai Investasi

Sumber: Schroders Indonesia

Sepanjang 2020, hampir sepertiga (32 persen) investor secara global menabung lebih banyak dari yang mereka rencanakan. Alasannya, didorong oleh penurunan pengeluaran untuk hal-hal yang tidak penting, seperti makan di luar, bepergian, dan bersantai.

Sementara lebih dari sepertiga (38 persen) investor di Eropa telah menabung lebih dari yang direncanakan, diikuti oleh investor di Asia (28 persen) dan Amerika (27 persen).

Nah, dari investor yang tidak dapat menabung sebanyak yang direncanakan, 45 persen orang secara global menyebutkan karena adanya pengurangan gaji/pendapatan kerja sebagai alasan utama, yang mencerminkan tantangan besar yang disebabkan oleh pandemi.

Sedangkan lebih dari sepertiga (38 persen) investor di Eropa telah menyisihkan lebih dari yang mereka rencanakan, diikuti oleh investor di Asia (28 persen), dan Amerika (27 persen).

Kemudian dari investor yang tidak dapat menyimpan sebanyak yang mereka rencanakan, (45 persen) orang secara global menyebut berkurangnya gaji atau pendapatan dari pekerjaan sebagai alasan utama, yang mencerminkan tantangan besar yang disebabkan oleh pandemi.

Pendorong Optimisme Investor

Hasil studi menyebutkan investor di Amerika Serikat, Belanda, dan Inggris menjadi yang paling mungkin menaikkan belanja atau pengeluaran mereka ketika pembatasan sosial dicabut. Di sisi lain, investor yang paling berhati-hati adalah mereka yang berada di Jepang, Swedia dan Hong Kong.

Keyakinan investasi tersebut didorong oleh investor yang mengganggap diri mereka sebagai expert/advanced dengan ekspektasi pengembalian investasi 12,8 persen dibandingkan dengan 8,9 persen untuk mereka yang menganggap mereka adalah investor pemula.

Sementara investor di Amerika paling bullish, mengharapkan pengembalian tahunan 12,5 persen selama lima tahun ke depan, diikuti oleh mereka di Asia (12,3 persen) dan sedikit/cenderung lebih berhati-hati untuk investor di Eropa dengan ekspektasi 9,7 persen.

Stuart Podmore, a behavioural investment insights specialist Schroders, mengatakan pandemi telah meningkatkan rasa ketidakpastian dan menantang kemampuan untuk memproses risiko, membuat banyak dari kita merasa lebih cemas dan di luar kendali.

Menurut dia, sentimen ini terlihat jelas dalam hasil survei, di mana investor semakin fokus menabung, memantau iuran pensiun, dan lebih sering memeriksa investasi mereka.

"Terlepas dari tantangan besar yang kita semua hadapi, sangat menggembirakan untuk melihat pandemi telah bertindak sebagai katalis untuk mempromosikan fokus yang lebih kuat secara global pada perencanaan keuangan dan kesejahteraan umum," kata Podmore.

Menurutnya meskipun ini adalah studi global, kita semua memiliki keinginan dan kebutuhan yang sama, dan keamanan finansial adalah fokus utama bagi kita semua.

"Pada saat yang sama, kita perlu berhati-hati atas pengembalian investasi yang kita harapkan selama lima tahun mendatang, karena pandangan yang dimiliki oleh banyak investor – dan khususnya mereka yang percaya diri sebagai ahli/experts –sangat optimis," lanjutnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan 18 bulan terakhir telah mengajari kita bahwa masa depan tetap sulit diprediksi dan pendekatan investasi yang terukur, konsisten, dan sabar, yang berfokus pada tujuan jangka panjang dan kemungkinan hasil, kemungkinan akan membuat investor lebih baik.

(Martina Priyanti/AM)

​***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.