Lebih Untung Trading Kripto atau Investasi Reksadana buat Pemula?

Trading kripto bisa dibilang spekulatif, sedangkan reksadana lebih terukur
Hanum Kusuma Dewi • 23 Apr 2021
cover

Ilustrasi investor trader melakukan trading koin cryptocurrency Bitcoin secara online dengan memegang handphone

Bareksa.com - Belakangan ini, cryptocurrency atau yang juga dikenal dengan aset kripto sedang populer di Indonesia untuk dijadikan sebagai investasi. Sejumlah aset kripto seperti Bitcoin, Ethereum, Ripple, Tether, dan Doge nilainya melonjak tinggi sejak awal tahun ini dan memberi keuntungan bagi para pemegangnya. Benarkah cocok untuk investor pemula? ​

Di Indonesia, menurut Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan, aset kripto adalah komoditi yang diperdagangkan di bursa berjangka. Meski dilarang sebagai mata uang atau alat pembayaran oleh Bank Indonesia, aset kripto dapat dijadikan sebagai alat investasi dan dapat diperjualbelikan. 

Nilai Bitcoin dan koin-koin kripto lainnya bisa naik dalam waktu cepat tanpa ada batasan sebab aset digital ini hadir karena teknologi blockchain. Teknologi blockchain adalah sistem perekam informasi yang membuatnya mustahil untuk diubah, di-hack atau dicurangi, sehingga tidak perlu lagi ada badan atau otoritas yang mengawasi dan membuat peraturan.

Hal ini tentu berbeda dengan reksadana yang merupakan investasi di pasar modal. Reksadana adalah kumpulan dana investor yang dikelola manajer investasi untuk diinvestasikan dalam berbagai aset keuangan seperti saham, obligasi dan pasar uang. Reksadana ada banyak jenisnya berdasarkan isi portofolio dan mata uangnya. 

Buat investor pemula yang ingin mulai investasi, apakah langsung trading crypto atau pilih reksadana saja? Simak dulu keuntungan reksadana ini dan bedanya dengan aset kripto. 

Keuntungan Reksadana yang Berbeda dengan Aset Kripto

1. Dikelola profesional

Reksadana dikelola oleh manajer investasi profesional di bidang keuangan, sehingga bisa memilih dan menganalisis aset mana yang paling optimal. Manajer investasi harus memiliki izin dari Otoritas Jasa Keuangan. Demikian juga Bank Kustodian yang menyimpan aset reksadana, serta agen penjual reksadana (APERD) seperti aplikasi Bareksa harus punya lisensi resmi. 

Sementara itu, aset kripto hadir karena adanya sistem blockchain. Pergerakan naik dan turun nilainya murni berdasarkan permintaan pasar saja dan tidak ada regulasi yang mengaturnya. Jadi, risiko trading crypto harus ditanggung oleh sang trader atau investor sendiri, dan ini tidak bisa dianalisis. 

2. Diversifikasi

Dalam satu produk reksadana terdiri dari beragam aset, sehingga bila ada satu aset yang nilainya anjlok parah, belum tentu berpengaruh kepada keseluruhan portofolio. Sebab, risikonya sudah terbagi dengan aset-aset lainnya dalam portofolio reksadana. 

Berbeda dengan aset kripto, investor bisa membeli satu koin misalnya Bitcoin atau Doge. Ketika harga Bitcoin naik 20 persen sehari, tentu nilai investasi langsung naik, tetapi kalau turun 20 persen sehari, kerugiannya cukup besar dan tidak bisa dibatasi. 

3. Pilihan sesuai profil risiko

Reksadana ada banyak jenisnya, mulai dari risiko terendah hingga tertinggi, yaitu reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana campuran dan reksadana saham. Untuk investor pemula yang baru kenal investasi, sebaiknya memilih reksadana pasar uang dulu yang cenderung stabil, lalu naik ke jenis lainnya ketika sudah paham dan bisa menerima risiko lebih tinggi. 

Adapun Bitcoin atau koin-koin lainnya secara umum risikonya sama, yaitu sangat tinggi. Memang kalau sedang untung bisa mendapat cuan ratusan persen sehari, tetapi kalau lagi rugi bisa hilang juga uang kita dalam waktu dekat. Buat investor atau trader pemula, trading crypto ini bisa bikin jantungan. 

4. Terukur

Portofolio reksadana sudah bisa diprediksi dari jenisnya. Misal reksadana pasar uang tentu isinya deposito dan obligasi dengan jatuh tempo kurang dari setahun. Kita bisa memperkirakan imbal hasil reksadana pasar uang sesuai dengan kondisi suku bunga acuan saat ini. 

Kemudian, jangka waktu investasi reksadana yang optimal juga bisa kita sesuaikan dengan jenisnya. Reksadana pasar uang untuk jangka pendek sekitar setahun, reksadana pendapatan tetap dan campuran untuk jangka menengah dan reksadana saham untuk jangka panjang di atas lima tahun. 

Sementara itu, mata uang kripto tidak bisa diprediksi karena tidak ada underlying atau aset yang bisa dianalisis. Sehingga, trading kripto bisa dibilang lebih spekulatif atau tebak-tebakan. Kita sama sekali tidak bisa memperkirakan setahun lagi atau lima tahun lagi nasib uang kita kalau masih ditaruh di aset kripto. 

Nah, setelah mengetahui keuntungan investasi reksadana tersebut, investor pemula perlu lebih bijak memilih produk investasi yang sesuai. Hati-hati dalam menaruh uang di aset digital seperti mata uang kripto, dan pilih yang lebih terukur seperti reksadana. 

* * * 

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini 

- Beli reksadana, klik tautan ini 

- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store

- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore 

- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​

Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.